Diberdayakan oleh Blogger.
Latest Post

Kurangi Penggunaan Tisu!

Written By Harian Semarang on Sabtu, 24 April 2010 | 00.08

MEMERINGATI Hari Bumi Sedunia, ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Lingkungan, kemarin melakukan aksi damai untuk mengajak masyarakat lebih mencintai bumi. Aksi tersebut dilakukan di sepanjang Jalan Pahlawan, dengan diisi aksi teatrikal dan juga membersihkan taman-taman kota.

Pada aksi itu, utamanya mahasiswa mengajak masyarakat untuk mengurangi penggunaan tisu. Pasalnya, kondisi hutan dan kayu sebagai sumber bahan bakunya saat ini cukup mengkhawatirkan. “Berdasarkan data World Resources Institute selama 1985-1997, hutan asli Indonesia mengalami kerusakan sampai 1,6 juta hektar per tahun,” tandas koordinator aksi, Bagus Khafiudin.

Kerusakan tersebut, lanjut Bagus, pada periode 1997-2000 bertambah menjadi 3,8 juta hektar per tahun. Berdasarkan pada hasil penelitian Citra Landsat pada tahun 2000, terdapat 101,73 juta hektar hutan dan lahan mengalami kerusakan yang cukup serius.

Menurut data Bakornas Penanggulangan Bencana pada tahun 2003, bencana yang terjadi selama tahun 1998 hingga pertengahan 2003 menunjukkan telah terjadi 647 bencana dengan 2.022 korban jiwa.

“Kerugian yang ditimbulkan mencapai miliaran rupiah dengan 85% merupakan bencana banjir dan longsor,” tambahnya.

Selain mengurangi penggunaan tisu, aksi tersebut, ungkapnya, juga untuk mengajak masyarakat untuk lebih bijaksana dalam menggunakan sesuatu yang bahan dasarnya dari alam, seperti bahan bakar dan kertas. Ia mengatakan, selembar kertas yang dipakai mengorbankan kehidupan satu batang pohon.

“Kami berharap mari kita sama-sama memulai dari perubahan-perubahan kecil itu untuk keselamatan bumi, seperti halnya menggunakan sapu tangan sebagai pengganti tisu, menggunakan kertas bolakbalik, menggunakan kertas daur ulang, serta memanfaatkan kertas bekas untuk berkarya,” tambahnya.

Bagus menambahkan, mahasiswa juga mendukung upaya pemerintah dalam menegakkan supremasi hukum yang adil dan transparan. “Selain itu, kami meminta kepada pemerintah untuk segera menuntaskan kasus-kasus lingkungan yang terjadi di Indonesia, terkait kasus penyalahgunaan tata guna lahan dan lingkungan lainnya,” ujarnya.

Pada aksi itu juga dilakukan pembagian kantong saku berisi ajakan peduli lingkungan. Beberapa elemen mahasiswa yang tergabung antara lain Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan Undip,
Forum Silaturahmi Mahasiswa Muslim Teknik Undip, UKM Insani Undip, dan Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus Puskomda Semarang. Setelah aksi tersebut mahasiswa juga melakukan kegiatan penanaman pohon di kawasan Ngesrep, Tembalang, Semarang.

Selain itu juga dilakukan penggalangan dukungan untuk Undip menuju green university. Acara itu juga dimeriahkan dengan festival orasi dan seni dari tiap himpunan mahasiswa jurusan dan juga Bem se-Undip. (puji - harian semarang)

Kemala Bhayangkari Tanam Pohon

GAJAHMUNGKUR-Sebagai bentuk kepedulian para istri Polri yang tergabung dalam organisasi Yayasan Kemala Bhayangkari (YKB) Cabang BS Akpol terhadap isu pemanasan global, kemarin organisasi tersebut mengadakan aksi menanam pohon di halaman SD Kemala Bhayangkari 04. Kegiatan penanaman pohon berbuah dan berbunga ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam memeringati HUT ke-30 Yayasan Kemala Bhayangkari.

Acara itu dihadiri Ketua Yayasan Kemala Bhayangkari Cabang BS Akpol Ny Aida Boedhi Santoso beserta jajarannya. Koordinator Pelaksana Ny Dian Puguh Rahardjo mengatakan, kegiatan penanaman ini juga turut menyukseskan program pemerintah one man one tree.

”Penanaman pohon ini, menjadikan lingkungan sekolah terlihat asri sehingga siswa bisa nyaman menangkap pelajaran yang diberikan guru. Meskipun dengan cara yang sederhana, tapi hasilnya bisa dirasakan,” kata Dian.

Yayasan Kemala Bhayangkari berperan serta mencerdaskan anak-anak. Mereka berupaya meningkatkan sumber daya mutu guru guna mencapai mutu dan kreativitas anak didik, sehingga mengajarkan siswa cinta lingkungan.

Ny Aida mengatakan, kegiatan menanam pohon ini juga melibatkan guru serta seluruh siswa SD
Kemala Bhayangkari.

”Kegiatan ini juga memeringati Hari Bumi, 22 April kemarin. Selain sebagai penghijauan, juga dapat memperindah sekolah,” jelasnya. (wara - harian semarang)

Bumi Milik Anak-anak Kita

Written By Harian Semarang on Jumat, 23 April 2010 | 23.57

TUGU-Budaya industri membuka kran pemanasan global. Oleh karena itu, kehadiran bakau, terumbu karang, hutanhutan secara langsung bisa menjaga kondisi bumi.

DALAM perenungan Hari Bumi, Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara), Layar Nusantara, TLBHILBH Semarang bersama sejumlah nelayan dan petambak tradisional memeringati Hari Bumi dengan menanam ratusan pohon bakau di Pulau Tirang, Tugu. Digelar juga aksi teatrikal bersama Komunitas Seniman Omah Piring.

“Aksi teatrikal ini memberikan makna agar warna menanam bakau bersama-sama, meng ingat bakau di wilayah pantai semakin hilang. Penduduk setempat merasa bertanggungjawab melestarikan apa yang sudah ditanam leluhurnya. Kendati kecil, tapi yang kami lakukan riil,” ujar seniman Bowo Kajangan, usai gelar aksi teatrikal.

Dalam aksi tersebut, beberapa anak kecil juga dilibatkan langsung, tujuannya mengenalkan langsung alam kepada generasi penerus.

“Bumi ini milik anak-anak kita, generasi penerus, yang tua ini, nanti akan mati dan tumbuh yang kecil-kecil ini. Kami ingin mereka mencintai bumi ini,” bebernya.

Sekjen Kiara M Rizal Damanik menegaskan, memeringati Hari Bumi diperlukan semangat menjaga keharmonisan antara alam dan manusia.

“Manusia harus menerima dan menghargai alam, dengan tradisi dan adat masing-masing. Rezeki bersumber dari laut, akan selalu memberkahi hidup nelayan dan manusia. Dengan begitu kegiatan memungut hasil laut sepatutnya tidak dilakukan secara berlebihan, apalagi berpola industri eksploitatif,” ujarnya.

Diterangkan Rizal, untuk wilayah Jawa Tengah saja terdapat 14 titik bencana akibat reklamasi pantai, pembuangan limbah cair dan padat, pembabatan bakau, penyedotan pasir hingga pembelokan sungai. Dari data yang ada, Pulau Tirang terancam tenggelam akibat abrasi. Tambak rakyat di Mangunharjo dan Tugurejo amblas.

“Karena itu, kami berharap negara sadar, karena dampaknya bisa menyengsarakan rakyat. Semoga saja kekeliruan model pembangunan eksploitatif yang menghancurkan bumi dan meminggirkan rakyat ini, segera berhenti. Sudah saatnya tindakan positif rakyat di-back up pemerintah,” tandasnya. (lissa - harian semarang)

Kiprah Warga

Written By Harian Semarang on Selasa, 20 April 2010 | 01.29

Halaman ini disediakan bagi warga masyarakat, lembaga instansi pemerintahan dan swasta, lembaga sosial kemasyarakatan, lembaga keagamaan untuk mengirimkan foto-foto kegiatan yang bernilai berita ke redaksi tanpa dipungut biaya. Foto harap disertai keterangan singkat dan dapat langsung dikirimkan ke redaksi maupun via email: harian.semarang@yahoo.com















Selamat Datang Walikota Baru

Written By Harian Semarang on Senin, 19 April 2010 | 21.00

Marhen Menang Satu Putaran

Hasil tabulasi suara sementara Pilwalkot Semarang, semalam menunjukkan pasangan dengan nomor urat 5, Soemarmo-Hendi Hendrar Prihadi (Marhen) mendapatkan suara tertinggi dan bersaing cukup ketat dengan pasangan nomor 1, yakni Mahfudz Ali-Anis Nugroho (Manis). Masing-masing pasangan tersebut memperoleh suara lebih dari 30%. Sedangkan tiga pasangan lain masih di bawah 20%.

PROSES pilwalkot sendiri, dipastikan berlangsung hanya satu putaran, meski ada dua pasangan yang memperoleh suara di atas 30%. “Ketentuan itu berdasarkan UU No 12/ 2008 tentang Perubahan Kedua atas UU No 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah Pasal 107, ayat (2) yang bunyinya: pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang memperoleh suara lebih dari 30% (tiga puluh persen) dari jumlah suara sah, pasangan calon yang perolehan suaranya terbesar dinyatakan sebagai pasangan calon terpilih,” ungkap anggota KPU Kota Semarang, Joko Santoso kepada Harsem, semalam.

Ia menjelaskan, jika ada dua pasangan calon yang mencapai 30% maka yang memperoleh suara yang lebih banyak akan menjadi pemenang. Kecuali, menurutnya, jika tidak ada yang mencapai 30%, maka urutan satu dan dua tertinggi perolehan suara akan maju lagi pada putaran kedua.

Pelaksanaan pilwalkot kemarin, ungkapnya, berjalan cukup lancar dan tanpa hambatan. Meskipun terdapat beberapa kejadian-kejadin, menurutnya hanya bersifat kecil dan tidak mengganggu perolehan suara.

Hingga pukul 21.30, jumlah suara yang masuk yakni sebesar 523,069 dengan suara sah sebesar 488,043 dan suara tidak sah mencapai 35,026. Total TPS yang masuk yakni sebanyak 2.239 atau sebesar 80%. Dari keseluruhan suara masuk, pasangan Marhen mendapatkan 34,045% dan Manis pada urutan kedua mendapatkan 31,156% suara. Sedangkan jumlah daftar pemilih tetap (DPT) pada pilwalkot kali ini mencapai 1.100.078.

Kurang Greget
Hal ini, ungkap Joko, menunjukkan bahwa angka golput atau pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya masih cukup besar.

Ia menuturkan antusiasme warga kurang greget dalam mengikuti pilwalkot kali ini. “Sosialisasi kami sudah semaksimal mungkin, diberbagai tempat sudah ada ajakan untuk ikut menggunakan
hak pilih, tapi banyak TPS yang terlihat lengang, mungkin mereka jenuh dengan pemilu,” tuturnya.

Ia mengatakan, terdapat perubahan DPT kemarin. Namun pihaknya akhirnya memutuskan bahwa warga yang namanya tercatat dalam DP4, DPS dan DPS HP namun tidak masuk DPT, diputuskan bisa mengikuti pilwalkot.

“Itu berdasar surat edaran KPU Provinsi, maka kami tindaklanjuti seperti itu, dan KPPS juga sudah ditembusi lewat surat,” tandasnya. Sementara itu, Ketua Panwas Kota Semarang, Yunan Hidayat mengatakan, pihaknya belum mendapatkan laporan insiden yang siginifikan. “Yang ada hanya laporan-laporan kecil soal pengaduan warga yang tidak tercantum dalam DPT, seperti di Kecamatan Mijen, Genuk, Gajahmungkur, Ngaliyan, dan Semarang Tengah,” tuturnya.

Terkait politik uang, Yunan mengatakan pihaknya mendapatkan laporan dari berbagai wilayah soal adanya satu pasangan calon yang memberikan uang sebesar Rp 10 ribu pada warga. Di antaranya di Kelurahan Kebonagung, Semarang Timur dan Kelurahan Pedurungan Tengah, Kecamatan Pedurungan. “Hal ini terus didalami dengan mencari saksi-saksi, untuk membuktikannya sangat sulit, kalau ada pun harus ditanya, apakah memberi uang itu dengan mengarahkan mencoblos, kalau tidak kan ya sulit diproses,” tegasnya. (abas/puji - harian semarang)

Manajemen Anyar Mahesa Jenar

Menaksir-naksir manajemen PSIS paling gres jika nanti Walikota Semarang adalah Soemarmo, asyik juga rasanya. Gambaran skenario sementara manajerial PSIS adalah sebagai berikut.

Tim eks perserikatan tak lepas jauh-jauh dari tangan kepala daerah. Walikota Semarang, sejak rezim Sutrisno Soeharto hingga paling buncit Sukawi Sutarip, menjadi acuan jika manajemen hendak dibentuk, sebab Ketua Umum PSIS adalah ex-officio Walikota Semarang, kecuali kelak Soemarmo menghendaki Ketua Umum PSIS bukan dirinya.

Menjadi ketua umum atau tidak, Soemarmo akan mengusung orang-orang yang dianggapnya kapabel untuk menyeret PSIS menuju gerbang prestasi. Maka, ditunjuklah manajer umum untuk selekas mungkin meminang orang-orang guna mengisi kabinet teranyar.

Siapa kira-kira? Sosok yang pantas menjadi general manager ialah Simon Legiman. Pria berambut dan berkumis perak itu mumpuni mengelola kapal PSIS karena kenyang pengalaman, dan terpenting gila sepakbola (belakangan ia malah menjadi Wakil Ketua Umum Pertina Jateng, serta seabrek kegiatan olahraga lain).

Simon, kemungkinan besar, menunjuk Setyo Agung Nugroho sebagai manajer tim. Mengapa Agung, pertama Legiman pernah menyebutnyebut nama Agung sebagai orang yang paling pantas dipertahankan jika manajemen PSIS 2009/2010 dibongkar total. Kedua, sebab Agung cukup lama di sisi pemain PSIS beserta seabreg persoalannya, sehingga ia tak memiliki alasan untuk mengaku tak berpengalaman.

Tentu saja itu terjadi jika Agung tak menolak penunjukan atas dirinya. Maklum saja bila ia berniat istirahat sebab sekian waktu ia mendampingi PSIS, dalam pedih maupun gembira, sehingga urusan perusahaan kontraktornya terbengkalai.

Manajer Pertandingan
Untuk urusan pertandingan, manajemen baru nanti bisa jadi memilih Slamet Riyono. Slamet, warga Plamongan Indah, pernah menjadi sosok penting tatkala PSIS menyusuri musim 2000/2001 divisi satu.

Dengan Manajer Tim Yoyok Mardijo saat itu, Slamet pernah merangkai hebatnya penyelenggaraan pertandingan. Ia memelopori keterbukaan pendapatan dari penjualan tiket. Tiap pertandingan selesai, Slamet langsung mengumumkannya kepada masyarakat melalui media massa.

“Belum ada sebelum era saya pendapatan langsung diumumkan. Buat apa (penjualan tiket) ditutup-tutupi?” kata Slamet yang dosen Fakultas Hukum Untag Semarang itu.

Rudy Keltjes?
Pelatih yang dipilih oleh Simon Legiman adalah Rudy Keltjes. Sejak lama Legiman menyarankan kepada PSIS agar meminang Keltjes sebab yang bersangkutan dianggapnya cocok meramu tim Mahesa Jenar oleh beberapa sebab.

Keltjes dinilai paham benar membangun tim. Ia kenyang pengalaman dan berkarakter. Keltjes juga bisa membangun tim yang terisi pemain lokal, asing, maupun pemain berusia muda. Terpenting, Simon Legiman punya kedekatan dengan pelatih yang intim disapa “Meneer” tersebut.

Lalu siapa asisten pelatihnya? Tentu saja Eko Purjianto dan FX Tjahyono. Eko dan Tjahyono kini melatih SSB dan Klub Terang Bangsa yang dikelola oleh Simon Legiman, di sebuah stadion mulus di kawasan Pantai Marina.

Rudy Keltjes pernah nyaris melatih PSIS musim 2009/2010, sebelum akhirnya manajemen yakin dengan Hanafing.

Materi Pemain
Amunisi PSIS kemungkinan besar dicomot dari mereka yang pernah merumput untuk PSIS musim ini, terutama yang berusia muda, plus beberapa pemain dari kawasan lain, ditambah tiga legiun manca yang benar-benar bermutu tinggi.

Untuk urusan pinang-meminang pemain asing, Legiman cukup mumpuni dan paham kualitas. Ia tak mau merekrut pemain pintar tapi bengal macam Anthony Jommah Balah, tetapi merekrut satu pemain muda berkualitas (terutama asal Brasil), serta dua lagi relatif baru guna mendukung asas penghematan.

Digelar September
Paparan di atas tentu saja prediksi belaka. Hari-hari ini organisasi PSIS belum mendapat kerangka yang jelas, sebab Ketua Umum PSIS masih Sukawi Sutarip yang ex-officio. Kecuali klub-klub anggota PSIS mendesak supaya digelar musdalub.

Pembentukan tim baru juga bakal mendapat hambatan di ongkos. Ketua Umum PSIS yang baru dituntut merogoh duit cukup besar untuk menalangi. Padahal, kelak mungkin timbul friksi andai kepengurusan baru meminta dana dari APBD, berkaitan pilwalkot yang seru dengan manufer politik.

Padahal, Kompetisi Divisi Utama direncanakan maju. Bulan September sudah digelar. Musim ini, divisi utama baru dipentaskan 11 November 2009. Apa artinya? Tentu saja pembentukan tim bakal terancam pendekmerapat, tak ubahnya musim lalu, yang berujung pada prestasi buntung.

Lebih dari itu semua, bisa saja walikota baru punya skenario lain yang kita belum bisa menebaknya, perihal siapa saja yang ia tunjuk untuk menjadi lokomotif manajerial. Simon Legiman kita taruh sebagai pengandaian saja, meski publik PSIS sangat ingin Simon adalah orang terdepan pengelola PSIS profesional musim depan! (arief rahman - harian semarang)

Gerbong, Cerobong

Written By Harian Semarang on Jumat, 16 April 2010 | 21.18

PSIS mendaki bukit terjal. Walikota baru, yang dicoblos besok pagi, diharap menjadi penyelamat. Siapa di antara mereka memiliki pikiran brilian menggeret PSIS dari keterpurukan sehingga memberi alasan bagi kita memilihnya?

Sebulan silam, Wisnu Pujonggo secara mengejutkan melontarkan isi hatinya mengenai Mahesa Jenar. Ketua tim sukses Bambang Raya-Kristanto yang juga anggota DPRD Kota Semarang itu mengaku prihatin atas pencapaian prestasi PSIS yang megap-megap.

“Sungguh, kami sangat prihatin,” lontar pengelola sebuah event organizer yang mengurusi penyelenggaraan pertandingan PSIS akhir 90-an bersama Bambang Raya, tatkala Ligina masih berbaju Liga Dunhill, ini.

Berangkat dari sini, pihaknya bakal membedah total manajerial PSIS dengan melibatkan Snex, Panser Biru, serta para profesional yang mengerti sepakbola.

“Kalau Bambang menang, tidak akan kita libatkan anaknya ngurusi PSIS. Manajemen sehat harus dibentuk dengan menyertakan profesional dan stakeholder yang benar-benar peduli dan tahu bola. Pengusaha Semarang yang punya kepedulian kepada PSIS bakal kami libatkan, dan akan transparan dalam penggunaan dana, bahkan kami umumkan di media massa,” tegas Wisnu.

Wisnu ingin Semarang tak ketinggalan dengan Lamongan, Kediri, maupun Jepara. Kotakota yang bukan ibukota provinsi tersebut malah punya tim dengan kualitas membanggakan, menyalip Semarang yang punya tradisi kuat sepakbola.

“Kami telah menyiapkan konsep sehat yang berujung PSIS masuk kembali ke kasta tertinggi kompetisi negeri ini,” papar Wisnu.

Idealisme Anis
Nyaris senada dengan Wisnu, calon wawali Anis Nugroho Widharto menyinggung tentang kemandirian PSIS. Dalam sebuah diskusi di balaikota, 10 Februari lalu, ia ingin PSIS dikelola ala Barcelona, dengan memetakan PSIS menjadi dua wilayah, amatir dan pro.

“PSIS bisa dikelola secara profesional, bukan ala organisasi sosial, oleh orang-orang yang produktif, bukan mencari popularitas, dalam status legal yang jelas. Secara finansial PSIS mampu membiayai operasionalnya sendiri tanpa bantuan pemerintah. Dan secara politis bebas dari cengkeraman rezim manapun, karena kekuasaan tertinggi akan berada di tangan pendukung (stakeholder) PSIS,” ujarnya.

Jika ditangani secara profesional, imbuh Anis, PSIS bakal memberikan prestasi yang membanggakan, yaitu bermain di kasta Liga Super, menjadi juara, atau setidaknya konsisten di papan atas.

“Status legal harus jelas, jangan ada dualisme. Perkumpulan PSIS yang didirikan dan disokong oleh klub-klub pendiri hanya berada di ranah sepakbola amatir yang menginduk kepada Pengcab PSSI dan KONI, dengan orientasi pembinaan usia dini,” ucap Anis seraya menambahkan, PSIS kelak bisa saja berganti nama menjadi Semarang Football Club, disingkat Semarang FC, atau SFC, supaya tidak bias dengan PSIS amatir.

Menyengat Pembuluh Darah
Terhitung, hingga detik ini, memang baru (atau hanya) dua kontestan itu yang mengibarkan bendera PSIS guna menggerbongi laju mereka menuju kursi nomor satu kota ini.

Secara telaah dan latarbelakang, boleh jadi problem PSIS menyengat pembuluh darah mereka bukan hanya lantaran mereka mau mencalonkan diri menjadi walikota, tetapi juga panggilan jiwa.

Atau setidaknya ada bibit-bibit gemar sepakbola, dan menaruh cabang olahraga paling dicandui di kolong jagat raya ini di ‘cerobong’ gerbong yang menciptakan ‘celah’ karena menyangkut besar kecil suara dalam pilwalkot, mengingat PSIS adalah satu dari sekian ikon penting Semarang.

Wisnu bukan orang baru di PSIS. Ia pernah mengelola pertandingan PSIS sebelum ada liga super. Sampai kini ia juga masih tampak nongol di Stadion Jatidiri untuk bergemas-gemas menyimak tampilan tim kebanggaan Semarang itu rapuh.

Anis juga bukan ‘warga anyar’ di Mahesa Jenar. Ia pernah menjadi manajer umum. Jabatan serupa juga pernah disandang Ari Wibowo, ketua tim suksesnya. Nama perusahaannya, Lintas, pernah terpampang di dada kostum Gaston Castano cs. Sayangnya, ketika Anis cs cawecawe itu PSIS apes, terdegradasi.

Sumarmo, Farchan, dan Harini sesungguhnya juga masih ‘berbau’ PSIS. Marmo tampak sesekali muncul di sekitar PSIS, terutama saat memimpin rombongan suporter dadakan dari kalangan pemkot dan wartawan, ketika PSIS bertanding di Senayan, bertahun silam.

Farchan juga pernah menjadi bagian penting PSIS saat terjadi bentrok hebat antara suporter Semarang dan warga Jakarta, atau ketika belasan pendukung PSIS meninggal keseruduk kereta di ibukota. Ia turut mengurusi jenazah.

Sementara itu Harini tak tampak menonjol di wilayah PSIS, meski saat menjadi Kabag Humas Pemkot Semarang ia banyak berurusan dengan wartawan maupun warga yang menanyakan perihal PSIS. Itu sebabnya ia dan pasangannya sama sekali tak menyentuh PSIS sebagai bagian
dari penggalangan suara. Namun, boleh jadi ia punya strategi lain berkaitan dengan PSIS jika kelak terpilih.

Besok pencoblosan dilakukan. Warga PSIS, silakan pilih satu di antara mereka menurut hati nurani Anda. (arief rahman - harian semarang)

Kembangkan Perekonomian Desa

Lewat Simpan-Pinjam dan Koperasi Wanita

TUGU-Pemerintah terus berusaha menumbuhkembangkan Usaha Ekonomi Desa Simpan Pinjam (UED-SP) untuk memberikan pelayanan permodalan kepada masyarakat yang membutuhkan dengan persyaratan mudah, ringan dan cepat.

Program ini dipandang sebagai salah satu jurus ampuh penanggulangan kemiskinan. Beberapa waktu lalu, Bapermas Kota Semarang menggelar sosialisasi UED-SP di aula Kecamatan Tugu yang dihadiri pengurus kelurahan, warga dan kasi kesos masing-masing kelurahan.

Menurut Camat Tugu Bambang Kunhantiyo, dengan adanya program UED-SP di wilayahnya, diharapkan mampu mendongkrak kesejahteraan dan perekonomian masyarakat. Selain itu bantuan tersebut sebagai upaya pemerintah memberdayakan masyarakat miskin untuk mengurangi jumlah penduduk miskin di pedesaan.

“Masyarakat mendapatkan bantuan dari Bapermas Rp 10 juta, dalam bentuk simpan-pinjam bergulir. Bantuan ini sebisa mungkin dikelola dengan baik agar bisa digulirkan lagi ke warga lainnya. Sebelumnya pada tahun 2009, Kelurahan Jrakah juga pernah menerima bantuan UED-SP ini, sekarang disosialisasikan lagi,” ujar Bambang.

Program ini diterapkan pada kelompok masyarakat miskin, yang nantinya diharapkan bisa mandiri setelah diberi bantuan. “Apalagi bantuan yang diberikan ini sifatnya hibah. Masyarakat diharapkan bisa mandiri dalam menjalankan usahanya, tidak semata-mata menanti bantuan pemerintah saja,” ujar bapak tiga anak ini.

Dana Hibah
Selain itu, Pemkot Semarang juga akan memberikan dana hibah untuk 16 calon koperasi wanita (kopwan) yang tersebar di setiap kecamatan yang ada di kota Atlas itu. SK Pengesahan Akta Pendirian Badan Hukum koperasi tersebut, belum lama ini diserahkan pada para pengelolanya di Balaikota Semarang. Sedangkan pencairan dana dijanjikan akan dilakukan usai pilwakot.

Walikota Semarang Sukawi Sutarip mengatakan, bantuan dana tersebut diberikan untuk mempermudah pendirian koperasi. “Kalau mengandalkan dana pinjaman perbankan kan membutuhkan proses, apalagi tidak semua pengajuan akan disetujui,” tuturnya.

Program tersebut, untuk menyelaraskan program Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Jateng, terkait program pengentasan kemiskinan. “Pengembangan usaha koperasi ini diharapkan mampu turut membantu perekonomian keluarga yang jadi anggotanya,” katanya.

Untuk mengembangkan koperasi itu, dibutuhkan modal sekitar Rp 15 juta. Sedangkan pemkot hanya membantu Rp 10 juta untuk modal ditambah Rp 1 juta untuk biaya notaris. “Kekurangan yang Rp 5 juta nantinya akan disokong PKK setempat,” ujarnya.

Dalam pengembangannya, Dinas Koperasi dan UKM akan mendampingi serta menyiapkan evaluasi. Dijelaskannya, Pemprov Jateng memiliki program memberi dana Rp 100 juta untuk tiap-tiap kelurahan/ desa. Apabila program itu menyentuh Kota Semarang, warga sudah siap mengelola dana tersebut. Pengelolaan koperasi yang didirikan itu sebagai bentuk pembelajaran mengelola dana.

“Kalau tidak punya keterampilan mengelola uang, bisa-bisa dana Rp 100 juta itu habis untuk belanja konsumtif. Dengan pengalaman menjalankan koperasi, mereka sudah terbiasa mengelola uang,” tandasnya.

Sementara itu Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Masrohan Bahri mengatakan, dengan tumbuh sehatnya usaha, koperasi diharapkan dapat membantu warga sekitar untuk dapat meningkatkan kesejahteraan keluarganya.

“Nantinya akan dikembangkan pelatihan-pelatihan guna menumbuhkan koperasi wanita agar dapat menjadi andalan masyarakat. Di masa mendatang, setiap kelurahan nanti diupayakan ada satu koperasi wanita,” katanya. (lissa/abas/puji - harian semarang)

Pudakpayung Kelurahan Siaga Percontohaan

PUDAKPAYUNG-Untuk meningkatkan pengetahuan kader kesehatan yang tergabung dalam Forum Kesehatan Desa (FKD), kemarin sejumlah kader mengikuti sosialisasi agar bisa mengatasi permasalahan kesehatan yang sering muncul di lingkungan Pudakpayung.

Sosialisasi ini diberikan kepada perwakilan kader kesehatan dari 15 RW berkaitan dengan dijadikannya Kelurahan Pudak Payung jadi Kelurahan Siaga Percontohan se-Kota Semarang. Kelurahan ini pernah Juara 1 Lomba Desa Siaga Tingkat Provinsi Jateng untuk kategori Kotamadya.

“Kelurahan siaga merupakan gambaran masyarakat yang mampu mencegah serta mengatasi masalah kesehatan yang ada di masyarakat,” tutur Tri, Kepala Poliklinik Kesehatan Desa (Polindes).

Dalam pengembangan kelurahan siaga, pelayanan kesehatan dasar harus dipenuhi. Sebagai titik awal pengembangan menuju kelurahan siaga dibentuk FKD, posyandu, dan polindes. “Sehingga masyarakat tidak tergantung pada rumah sakit dan puskesmas. Diharapkan masyarakat mengetahui pencegahan penyakit maupun mengatasinya,” tutur Ketua FKD Jumirin. FKD merupakan mitra puskesmas yang bersentuhan langsung dengan warga.

Empat Kelompok
Dalam sosialisasi ini peserta yang hadir dibentuk empat kelompok guna membahas permasalahan kesehatan yang sering muncul di wilayah masing-masing. Dari hasil diskusi tersebut disimpulkan, yang jadi prioritas utama permasalahan kesehatan yakni DBD, TB, dan kurang gizi.

Ketiga masalah kesehatan tersebut jadi PR bagi Kelurahan Pudakpayung. Setelah mengetahui masalah yang ada, dalam forum itu pula dibahas mengenai tindak lanjut mengatasi masalah tersebut.

”Untuk DBD dari kader telah melakukan penyuluhan, baik melalui per temuan RT maupun RW, tapi kesadaran warga masih kurang untuk melakukan PSN,” kata Tri. Namun dalam penyampaiannya mungkin ke depan dibuat lebih menarik.

Misalnya dalam penyuluhan diberikan visualisasi dengan pemutaran film. ”Kalau penyuluhan hanya omongan saja yang mendengar nanti malah mengantuk, untuk itu perlu dibuat menarik dengan adanya tayangan film mengenai cara pencegahan DBD,” kata salah seorang kader. (wara-harian semarang)

Dra Hj Harini Krisniati MM,

Written By Harian Semarang on Senin, 12 April 2010 | 02.20

SEMARANG HARUS BERUBAH Menuju Kota Mandiri 2015

SEMARANG HARUS BERUBAH!! Kalimat itu terkesan sederhana, tetapi secara harfiah mengandung makna yang sangat dalam. Dan itulah paradigma paten sekaligus cita-cita yang ingin diwujudkan Harini Krisniati, Calon Walikota Semarang 2010-2015. Apakah kondisi Kota Semarang belum seperti harapan banyak orang? “Semarang bisa jauh lebih baik dari kondisi sekarang. Saya jamin!” kata Harini, satu-satunya wanita yang bertengger sebagai calon walikota

DENGAN pengalamannya sebagai birokrat yang meniti karir dari bawah, serta dukungan masyarakat heterogen Kota Semarang, Harini yakin apa yang menjadi keinginannya mengubah Kota Atlas menjadi Kota Mandiri ini akan dapat terwujud. Syaratnya, Harini harus terpilih dulu sebagai Walikota Semarang periode 2010-1015. Bersama pasangannya, Ari Purbono, Harini pun yakin, dengan ridho Tuhan YME dan dukungan penuh masyarakat, niat tulusnya untuk memimpin Kota Lunpia bakal terwujud.

Untuk menuju pilar perubahan itu, menurut mantan Plt Sekda Kota Semarang ini, sebenarnya tidak sulit. “Semarang punya banyak potensi. Sayangnya selama ini tidak digarap secara serius. Pemimpin hanya berkutat pada permasalahan yang tampak di permukaan saja, sementara permasalahan lain yang lebih urgen justru terabaikan. Dampaknya, Semarang tak pernah berubah,” katanya.

Ya, Semarang dari dulu tak pernah berubah. Banjir dan rob tetap menjadi persoalan rutin yang tak pernah teratasi. Jumlah rakyat miskin tetap berlimpah, jaminan kesehatan dan pendidikan belum merata, dan jumlah pengangguran terus bertambah. Di sisi lain, lapangan pekerjaan sangat sulit. Sungguh menyedihkan! Sementara kalangan birokrat yang seharusnya melayani masyarakat justru terkesima dengan nikmatnya kursi jabatan. Kepentingan masyarakat terabaikan, sementara kepentingan pribadi menjadi kenikmatan yang meninabobokan.

Pelayanan tata ruang publik yang amburadul dan bertele-tele, misalnya, menjadikan calon investor gerah untuk berinvestasi. Pelanggaran pun muncul. Banyak proyek bangunan yang terus tumbuh dengan mangabaikan persyaratan pokok berupa perizinan. Coba bayangkan, seandainya persoalan ini bisa teratasi, berapa jumlah pendapatan asli daerah (PAD) yang bisa didapat.

Sebaliknya, karena pelayanan yang amburadul tadi, berapa jumlah uang yang hilang? Tentu saja fantastis. “Kalau saya jadi pemimpin, untuk sekadar membuat perizinan hanya butuh waktu 21 hari. Pemberian izin yang terlalu lama menjadikan investor malas berbisnis di Semarang. Pelayanan untuk itu harus diubah. Saya jamin,’’ tukasnya mantap.

Persoalan-persoalan pelik di depan mata itulah yang membuat Harini tergugah untuk bisa cawe-cawe merombaknya, mengubahnya, dan mewujudkannya menuju Kota Semarang sebagai Kota Mandiri yang dirindukan setiap individu warganya . Dia punya prinsip, ada masalah tentu ada pula cara pemecahannya. Toh, sekali lagi, Kota Semarang punya potensi untuk maju, berubah, dan akhirnya benar-benar mandiri.

Sebagai Ibukota Provinsi dengan luas wilayah 373,63 km yang berada pada lintas jalur jalan utara Pulau Jawa yang menghubungkan Kota Surabaya dan Jakarta, Kota Semarang memiliki kecenderungan untuk berkembang menjadi kawasan perkantoran, pemukiman, perdagangan, industri, pendidikan, dan lain-lain. Semarang punya Pelabuhan Tanjung Emas, Bandara Ahmad Yani yang bertaraf internansional, dua Stasiun Kereta Api Tawang dan Poncol, serta Terminal Terboyo dan Mangkang yang megah. Sayangnya, fasilitas perhubungan itu kondisinya memrihatinkan. Rutinitas perbaikan dan perombakan sering tanpa memikirkan kepentingan jauh ke depan.

Potensi-potensi luar biasa itu masih lagi terselimuti persoalan rumit seperti urbanisasi (masyarakat miskin perkotaan 136.000 KK per 25% dari jumlah penduduk yang mencapai 1.500.000 jiwa dengan tingkat pertumbuhan 1,4%). Persoalan lain adalah pengangguran (107.333 orang), penyandang masalah sosial: anak jalanan (966 orang), pengemis/waria (500 orang lebih), belum lagi jumlah pekerja seks komersial (PSK) yang jumlahnya hampir mencapai ribuan orang.

Masih ada lagi masalah transportasi: angkutan kota kurang lebih 2.000 unit, mobil pribadi sekitar 30 ribu, sepeda motor sekitar 200 ribu, dan bus kira-kira 700 unit. Di sisi lain masih maraknya pelanggaran tata ruang, dan satu lagi masalah klise adalah belum teratasinya banjir dan rob.

Visi Misi
Menuju Kota Mandiri 2015 memang sudah menjadi visi ke depan pasangan Harini-Ari Purbono. Untuk mewujudkannya, pasangan ini menjabarkannya lewat misi yang mengedepankan keharusan perubahan Kota Semarang. Yakni: Pertama, Menjadikan entrepreneur Government dalam rangka reformasi birokrasi. Kedua, Mengedepankan fungsi pemerintah sebagai motivator, regulator, dan fasilitator dalam rangka membangun kemandirian masyarakat. Ketiga, Mengoptimalkan petensi daerah guna mempercepat kemandirian daerah dan pemerataan pembangunan.
Keempat, Meningkatkan pertumbuhan investasi dan pendapatan daerah dengan regulasi perizinan. Kelima, Mengintegrasikan dan menyinergikan programprogram penanggulangan kemiskinan. Keenam, Revitalisasi ekonomi kerakyatan berbabsis koperasi. Ketujuh, Mewariskan mental kejuangan dan spirit kepahlawanan kepada masyarakat. Kedelapan, Memperluas pembangunan infrastuktur dengan membuka akses simpul-simpul ekonomi untuk mempermudah pembangunan di semua sektor. Kesembilan, menuntaskan persoalan-persoalan pokok di Kota Semarang.

Prioritas Pembangunan
Dari paparan visi misi di atas tergambar, betapa peliknya problematika Kota Semarang. Dan untuk membenahinya butuh pemimpin yang punya naluri, kemauan, kemampuan, dan kepedulian luar biasa. Itu ada pada sosok Harini. Figur perempuan yang dikenal pekerja keras dan disiplin.

Sebagai pengejawantahan programnya, Harini sudah membuat skala prioritas bidang-bidang pembangunan Dra Hj Harini Krisniati MM, Calon Walikota Semarang SEMARANG HARUS BERUBAH Menuju Kota Mandiri 2015 SEMARANG HARUS BERUBAH!! Kalimat itu terkesan sederhana, tetapi secara harfiah mengandung makna yang sangat dalam. Dan itulah paradigma paten sekaligus cita-cita yang ingin diwujudkan Harini Krisniati, Calon Walikota Semarang 2010-2015. Apakah kondisi Kota Semarang belum seperti harapan banyak orang? “Semarang bisa jauh lebih baik dari kondisi sekarang. Saya jamin!” kata Harini, satu-satunya wanita yang bertengger sebagai calon walikota.
yang harus segera dilakukan, yaitu:
1. Penguatan ekonomi masyarakat, yang meliputi:
a. Rehab/pembangunan pasar tradisional (47 buah)
b. Bantuan dana bergulir dengan system tanggung renteng (Rp
20 miliar per tahun)
c. Penguatan institusi local ekonomi dengan sistem koperasi.

2. Peningkatan pelayanan publik, meliputi:
a. Regulasi perizinan
b. Pemberian intensif
c. Optimalisiasi One Stop Service (OSS)

3. Peningkatan infrastruktur kota:
a. Pembangunan ring road luar, untuk membuka simpulsimpul
ekonomi baru
b. Akses jalan ke Pelabuhan Tanjung Emas.

4. Peningkatan SDM (Pendidikan dan Kesehatan):
a. Enterpreneur Government di dalam birokrasi.
b. Pemetaan SDM sesuai minat dan bakat.
c. Pemanfaatan data base penduduk miskin untuk layanan kesehatan gratis
d. Wajib pendidikan 12 tahun.

5. Penanganan lingkungan hidup, meliputi:
a. Penanganan rob dan banjir selesai tahun 2013, dengan luas 800 hektar dan biaya Rp 1,7 triliun (pembangunan Waduk Jatibarang, Banjirkanal Barat, drainase Semarang Tengah).
b. Layanan pengangkutan sampah 80% dari produksi sampah per hari untuk 150 kelurahan.

6. Pengenalan seni dan budaya melalui keluarga, dimulai dari usia prasekolah.
7. Pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak:
Peningkatan pendapatan keluarga sejahtera/PPKS,KDRI, Posyandu, pola asuh anak, PKK, penanganan penyandang masalah sosial.
8. Investasi optimalisasi zona industri, regulasi perizinan, lapangan kerja.
9. Kepemudaan dan olahraga, yakni pembangunan fasilitas pemuda dan olahraga terpadu.
10. Pariwisata (Kebun Binatan Wonosari & jaringan wisata)
11. Perdagangan & industri (sinergisitas antara pelaku usaha dan pemerintah)
12. Potensi laut dan agro (pembuatan pabrik pengolahan ikan, pengembangan varitas buah unggul.

13. Tranportasi:
a. Manajemen transportasi missal dengan menambah 10 koridor BRT di bawah badan layanan umum dengan melibatkan seluruh pelaku transportasi dan memberlakukan tariff murah untuk pelajar/mahasiswa, dan buruh/pekekrja dengan subsidi APBD.
b. Pembangunan fly over di berbagai titik jalan yang menimbulkan kemacetan.
14. Air bersih: Membatasi perizinan pengambilan air bawah tanah dan optimalisasi manajemen air bersih dengan mencari sumbersumber baru, pembaharuan jaringan perpipaan, dan efisiensi di semua bidang.***



Ingin Jadi Pemimpin, Bukan Penguasa!
APA beda pemimpin dan penguasa? Jika pertanyaan itu ditujukan pada masyarakat awam, tentu tak akan muncul jawaban spesifik. Sebab dua kata itu secara harfiah menunjukkan sosok seseorang yang bisa berbuat segalanya sesuai dengan jabatannya. Tata cara bertindaknya pun bisa sesuai aturan, bisa pula melanggar, tergantung niat sang pemangku jabatan tadi. Begitu tipis perbedaan di dalamnya. Tetapi di mata Harini Krisniati, satu-satunya sosok wanita yang mencalonkan diri sebagai Walikota Semarang periode 2010-2015, pemimpin dan penguasa tentu berbeda. Sama-sama punya kedudukan, wibawa, dan keistimewaan, tetapi keduanya bisa punya nilai berbeda di hati masyarakat, atau komunitas yang menjadi bawahannya.

Lalu antara keduanya, mana yang cocok dan diharapkan oleh Harini? “Saya ingin jadi pemimpin,
bukan penguasa,’’ tegasnya.

Tentu hal itu ada hubungannya dengan pencalonannya sebagai walikota. Sekadar catatan, semua calon yang ada seluruhnya diusung oleh kekuatan partai politik. Tanpa “kendaraan” parpol, sepertinya memang mustahil seseorang bisa maju sebagai balon walikota. Dan sekarang terbukti, untuk Pilwalkot Semarang 18 April mendatang, tidak ada satu pun calon perseorangan. Yakni calon yang maju tanpa diusung partai politik.

Bukan berarti Harini antipati dengan kekuatan massa parpol. Sebab dari organisasi inilah kekuatan massa bisa digalang. Harini pun memutuskan niatnya menjadi cawalkot dengan berangkat dari sebuah koalisi partai.

Namun sebagai antisipasi jika nanti mendapat amanat rakyat untuk menjadi Walikota Semarang, Harini tidak ingin disebut sebagai penguasa. “Saya lebih sreg dengan sebutan pemimpin,’’ katanya mantap. Menurut ibu dua anak itu, karena calon walikota diusung oleh kekuatan parpol, biasanya ketika sudah menjabat walikota, sosoknya berubah menjadi sosok penguasa. Masyarakat menjadi komoditas politik, sementara program-program yang dicanangkan hanya menimbulkan ketidakpastian di kalangan masyarakat. Sosok penguasa selalu bersandar pada organisasi politik yang pernah mengusungnya.

Ketika ada kritik atas tindakannya yang menyimpang, parpol pengusung membela mati-matian. Tidak jarang penguasa berlindung di balik nama besar partai, sementara program pembangunan yang pernah digembor-gemborkan di panggung kampanye hanya menjadi catatan yang anehnya –selalu-- bisa dipertanggungjawabkan. Ironis, memang. Tapi itulah sosok penguasa.

Lain halnya dengan sosok pemimpin, seperti yang diidam-idamkan Harini. Ia tetap menyadari sebagai bagian dari kekuatan parpol, terutama parpol yang mengusungnya. Tetapi ketika sudah didapuk menjadi seorang pemimpin, ia tidak akan mengorbankan masyarakat sebagai komoditas politik. “Masyarakat harus menjadi obyek pembangunan, bukan subyek,’’ katanya.

Satu hal lagi, figur pemimpin secara otomatis akan menyadari dirinya sebagai motivator penggerak, punya kreativitas, inovatif, dan bekerja atas nama kepentingan rakyat. Tidak ada alasan politis dalam menjalankan kepemimpinan, meski kekuatan parpol senantiasa dijadikan partner atau mitra dalam menggali informasi soal kebutuhan sekaligus keluhan masyarakat.

Pengalaman segudang sebagai birokrat, bisa menjadi modal bagi Harini. Seringnya turun ke bawah mendengar aspirasi masyarakat, juga menjadi pemacu untuk mengubah Kota Semarang yang sarat dengan problematika. Tingginya angka kemiskinan, pengangguran, dan sempitnya lapangan kerja, harus dicarikan jalan keluar sesegera mungkin. Lima tahun memimpin telah diperhitungkan matang bagaimana mengelola Semarang menjadi lebih baik, sehingga kepercayaan mamsyarakat terhadap pemimpinnya benar-benar bukan kamuflase. Dan itulah sebenarnya jatidiri seorang pemimpin, bukan penguasa.***


Bio Harini

HARINI KRISNIATI lahir di Magelang 25 Desember 1957. Di kota itu pula ia menempuh jenjang pendidikan SD dan SMP, sebelum akhirnya pindah di Semarang dan meneruskan ke jenjang SMA serta Fisip Undip (1982). Sedang S2-nya (Magister Management) ia tempuh di UII Yogyakarta tahun 2000.

Dari pernikahannya dengan Ir Indra Trisnadi dikaruniai dua anak, Dina Harindra Trisnani yang disunting Kapten (Mar) Achmad Yulianto, dan Oscara Trisnanda. Sebagai abdi masyarakat di jajaran Pemkot Semarang, berbagai jabatan penting pernah ia emban, yakni sebagai Kabag Humas, Kabag Pemerintahan/Ka Satpol PP, Kabag Organisasi, Kepala Dinas Koperasi di UKM, Kepala BKPM PB & A, Kepala Dinas Sosial Pemuda dan Olahraga, sebelum akhirnya ditunjuk sebagai Plt Sekda Kota Semarang.

Di sela-sela kesibukannya sebagai PNS, Harini juga masih disibukkan dengan berbagai jabatan di organisasi. Ia pernah aktif di GMNI, pernah pula menjabat Sekretaris Korpri Kota Semarang, Ketua Departement Wanita FKDPI Jawa Tengah, Wakil Ketua Alumni Undip, Ketua Yayasan Abdi Masyarakat, Ketua Umum Persani Kota Semarang, dan Ketua Kwarcab Pramuka Kota Semarang.

Dari berbagai pengabdian itu, Harini menerima beberapa penghargaan, antara lain Satya Lencana Presiden RI Tahun 2007, dan Smart Woman Tahun 2008.***



Soemarmo HS

Masyarakat Harus Sejahtera

Pemilihan Walikota Semarang 18 April mendatang, bakal didominasi kalangan birokrat. Salah satunya adalah H Soemarmo Hadi Saputro. Pria kelahiran 13 Agustus 1959 yang terakhir menjabat Sekretaris Daerah (Sekda) itu, hapal betul permasalahan pelik Kota Atlas, sehingga jika terpilih sebagai walikota, dia sudah menyiapkan konsep pemecahannya.

BAGI masyarakat Kota Semarang, nama Soemarmo HS sudah tidak asing lagi. Sosoknya kembali mencuat sebagai bahan pemberitaan media dan perbincangan masyarakat ketika jabatannya sebagai sekda tibatiba dilengser oleh Walikota Semarang Sukawi Sutarip. Namun keputusan orang nomor satu di Semarang itu mengundang kontroversi. Apalagi setelah Gubernur Bibit Waluyo ikut cawe-cawe dan mengatakan bahwa keputusan walikota tidak bisa dibenarkan.

Soemarmo pun tetap dianggap sebagai Sekda Kota Semarang yang sah. Lepas dari permasalahan pro kontra jabatan sekdanya, figur Soemarmo memang layak disebut sebagai salah satu birokrat yang ikut menentukan arah pembangunan Kota Lunpia ini.

Suami Hj Siti Suhermin Martiningsih itu punya pengalaman segudang di ranah birokrasi. Sebab dia memang merintis karir dari bawah. Dari seorang Kaur Bandes, kemudian jadi lurah, Sekwilcam, camat, Kabag, Asisten Tata Praja, Kepala Bappeda, sampai jabatan tertinggi sebagai Sekda Kota Semarang.

Mungkin dari perjalanan pengabdian yang sangat panjang itu pula, hati kecil Soemarmo tebersit keinginan untuk memperbaiki Kota Atlas yang dia nilai belum sesuai keinginan masyarakat. Segala problema yang sangat kompleks harus segera diatasi. Dan puncaknya, dengan niat tulus atas nama pengabdian, Soemarmo memberanikan diri untuk bersaing dalam pilwalkot mendatang.

‘’Insya Allah jika saya mendapat amanat, saya akan mencurahkan perhatian secara maksimal untuk membangun Kota Semarang. Saya banyak tahu permasalahan kota ini, dan saya sudah menyiapkan konsep pemecahannya,’’ tutur Soemarmo.

Di benak bapak empat anak ini, ada lima masalah pokok Kota Semarang yang sebisa mungkin segera diatasi, yaitu masalah kemiskinan dan pengangguran, rob dan banjir, tata ruang dan infrastruktur, pelayanan publik, serta masalah kesetaraan dan keadilan gender. Berapa sebenarnya jumlah penduduk miskin di Kota Semarang? Dari total jumlah penduduk 1.742.655 jiwa, ternyata masih ada 476.400 jiwa atau 131.240 kepala keluarga penduduk miskin. Belum lagi masalah pengangguran yang persentasenya mencapai 32,44% dari jumlah total penduduk.

Angka itu bisa saja terus bertambah jika konsep penanganannya kurang menyentuh akar permasalahan, kurang terpola dan terpadu, serta kurang tepat sasaran. Permasalahan pengangguran muncul sebagai akibat dari dampak ekonomi global, kualitas angkatan kerja tidak sebanding dengan kebutuhan lapangan kerja, serta pertumbuhan tenaga kerja lebih besar dari lapangan kerja.

‘’Untuk mengatasi semua itu, menurut saya, setidaknya ada lima konsep atau program untuk menanggulanginya,’’ kata Soemarmo. Yang pertama, lanjut Soemarmo, perlunya pemberian bantuan langsung kepada kelompok warga masyarakat miskin yang sudah sangat kesulitan memenuhi kebutuhan pokok. Kedua, pemberian subsidi biaya kepada kelompok warga miskin. Subsidi itu bisa berupa pendidikan murah, beasiswa, pengambangan rusunawa, panti sosial, pembukaan lapangan kerja padat karya secara berlanjut, dan masih banyak lagi.

Kemudian yang ketiga, pemberian stimulan peningkatan pendapatan masyarakat miskin. Keempat, pengembangan pemberdayaan potensi daerah secara efektif untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan daerah. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan, yakni gerakan bangkit 1000 koperasi, bantuan modal bergulir bagi UMKM, pengembangan gerakan bapak asuh dari UMKM binaan pemkot, dan lain-lain.

Sementara yang kelima, peningkatan pelayanan KB melalui penyediaan alat kontrasepsi gratis bagi masyarakat miskin di setiap tempat pelayanan KB.

Tata Ruang dan Infrastruktur
Permasalahan lain yang menurut Soemarmo harus segera diatasi adalah soal tata ruang kota dan infrastruktur. Dalam masalah ini, Soemarmo menyiapkan sembilan konsep atau program. Yakni: Pembangunan
1. Rusunawa bagi masyarakat berpenghasilan rendah
2. Penataan traffic manajemen lalulintas dan pembangunan jaringan jalan lingkar dalam, lingkar tengah, dan lingkar luar, yang meliputi: l Pengembangan jalan lokal primer dan lokal sekunder serta jalan lingkungan. l Rencana jalan tol Semarang- Batang. l Rencana jalan tol Semarang-Solo l Jalur iner ring road l Jalur outer ring road.
3. Revitalisasi taman kota dan pembatasan koefisien dasar pembangunan (KDB) terutama pada
wilayah pusat .
4. Pemerataan dan pengaturan transportasi missal yang murah, aman, dan nyaman.
5. Pembangunan city walk koridor Jl Pandanaran-Jl Pemuda-Jl Agus Salim-Jl MT Haryono-Jl Ahmad Yani dan Jl Gajahmada.
6. Pembangunan E-Gov system aplikasi pengawasan dan pengendalian pemanfaatan ruang kota, sebagai upaya penjaminan konsistensi dan komitmen terhadap Rencana Tata Ruang Kota (RTRK).
7. Revitalisasi pasar tradisonal.
8. Revitalisasi Taman Budaya Raden Saleh sebagai pasar seni dan budaya.
9. Pembangunan Semarang Trade Centre sebagai sarana informasi dan jasa bagi pelaku pasar.

Konsep lain yang sudah disiapkan Soemarmo adalah program pelayanan publik, yang meliputi:
a. Peningkatan pelayanan One Stop Service (OSS) dengan melakukan pembenahan pada beberapa aspek, seperti regulasi, standar pelayanan, dan SDM.
b. Peningkatan jaminan pelayanan prima sesuai Standar Pelayanan Publik.
c. Pelayanan dokumen kependudukan (akte kelahiran, KTP, KK) gratis.
d. Peningkatan dana santunan kematian bagi warga miskin
e. Fasilitasi program Larasita (Layanan Rakyat untuk Sertifikasi Tanah).

Tentu saja semua program di atas sudah melalui pemikiran dan penelitian yang matang, sehingga Soemarmo berani menjadikan sebagai konsep dan program jika nanti terpilih sebagai Walikota Semarang 2010-2015.

“BANGKIT MAS” Semarang Bangkit, Maju, Sejahtera

SEMARANG dikenal sebagai kota perdagangan. Hal ini mengandung arti kota yang mendasarkan bentuk aktivitas pengembangan ekonomi yang menitikberatkan pada aspek perniagaan, sesuai dengan karakteristik masyarakat dan kota, yang di dalamnya melekat penyelenggaraan fungsi jasa yang menjadi tulang punggung pembangunan, dalam rangka mewujudkan masyarakat sejahtera.

VISI
Terwujudnya Semarang sebagai kota perdagangan dan jasa yang berbudaya menuju masyarakat sejahtera.

MISI
1. Mewujudkan sumberdaya manusia dan masyarakat Kota Semarang yang berkualitas
2. Mewujudkan pemerintahan kota yang efektif dan efisien, meningkatkan kualitas pelayanan publik, serta menjunjung tinggi supremasi hukum.
3. Mewujudkan kemandirian dan daya saing daerah.
4. Mewujudkan tata ruang wilayah dan infrastruktur yang berkelanjutan.
5. Mewujudkan kehidupan masyarakat yang sejahtera.

5 Konsep Atasi Banjir dan Rob

SEMARANG kaline banjir! Itulah realitas yang ada. Tak cuma kali atau sungai. Perkampungan dan jalan-jalan protokal sudah sejak lama juga menjadi tumpuan air hujan, meski hanya sesaat. Yang kedua adalah rob. Di beberapa kawasan perkampungan, terutama yang dekat pantai, air rembesan laut selalu jadi langganan. Upaya mengatasi dua masalah itu, rob dan banjir, nyaris tak pernah membuahkan hasil.

Program apa yang disiapkan Soemarmo jika nanti terpilih menjadi Walikota Semarang? ‘’Setidaknya ada lima program yang harus saya realisasikan untuk mengatasi masalah banjir dan
rob. Saya akan serius menangani dua permasalahan itu. Dengan dukungan penuh masyarakat, saya yakin bisa,’’ ujar Soemarmo mantap.

Untuk mengatasi masalah rob dan banjir, menurut Soemarmo, harus diketahui dulu pangkal permasalahannya. Banjir dan rob, lanjut Soemarmo, terjadi karena menurunnya kapasitas saluran drainase yang disebabkan sedimentasi, sampah, dan bangunan liar. Juga meningkatnya beban drainase akibat alih fungsi lahan yang tidak diikuti dengan pengembalian fungsi resapan dan tampungan.

Penyebab lain adalah intrusi air asin di Kota Semarang bawah serta gejala penurunan elevasi tanah (land subsidence), dan naiknya muka air laut sebagai dampak dari pemanasan global. “Masih ada penyebab lain, yakni operasi pemeliharaan yang kurang optimal dan penegakan hukum masih lemah,’’ tambah Soemarmo.

Untuk mengatasi persoalan pelik tadi, ada lima cara atau pemecahan yang bisa dilakukan, baik secara teknis maupun non-teknis.

1. Pemecahan secara teknis (bagian hilir)
l Sistem polder: tanggul laut, tanggul keliling, tampungan, sistem pintu & stasiun pompa, dan internal drain.
l Memanen air hujan dengan penampung air hujan.
l Mengembalikan daerah sempadan sungai/saluran sebagaimana mestinya.

2. Pemecahan secara teknis (bagian hulu)
l0 Memanen air hujan dengan resapan dan tampungan (embung, lumbung air, dll).
l Mengembalikan daerah sempadan sungai/saluran sebagaimana mestinya.

3. Pemecahan secara nonteknis
l Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang lingkungan sehat, drainase, sampah, dll, melalui public education dengan memanfaatkan media massa.
l Meningkatkan peran serta dan keterlibatan masyarakat dalam pengembangan dan pengelolaan system drainase.
l Meningkatkan kerjasama dengan pemerintah kabupaten yang terkait secara hidrologis.
l Menegakkan hukum (law enforcement).

4. Pemecahan nonteknis
l Publik education melalui slogan di bidang kebersihan “yen durung biso ngresiki, ojo ngregeti”.
l Pengalihan profesi bagi masyarakat yang terkena dampak proyek Waduk Jatibarang, antara lain: petani di Jatibarang dialihprofesikan menjadi petani ikan/pemandu wisata/pengrajin handycraft.
l Pembentukan kelompok swadaya masyarakat dalam pengelolaan drainase khususnya di wilayah Banjirkanal Barat dan Timur.
l Meningkatkan kerjasama dengan pemerintah kabupaten yang terkait secara hidrologis.
l Menegakkan hukum (law enforcement)

5. Pemberian sanksi dan penindakan tegas (eksekusi) terhadap bangunan yang tidak sesuai dengan tata ruang kota.


Anak Pejuang Mengabdi Semarang

SOEMARMO HADI SAPUTRO, dilahirkan dari keluarga pejuang. Ayahnya, Abdullah Hadi Supadmo (alm) adalah seorang anggota TNI AD, sedang ibunya, Saudah (almh) menjadi anggota Legiun Veteran RI. Ia merintis karir sebagai pegawai negeri sipil dari tingkat bawah, sampai akhirnya menjadi Kaur Bangdes Kecamatan Semarang Utara (1983), Kaur Bangdes Kecamatan Semarang Barat (1985), Lurah Panjangan (1991), Lurah Kalipancur (1993), Sekwilcam Kecamatan Ngaliyan (1995), Camat Ngaliyan (1997), Camat Banyumanik (1999), Kepala Bagian Kepegawaian (2000), Kepala Bagian Umum (2002), Asisten Tata Praja (2004), Kepala Bappeda (2005), dan Sekda Kota Semarang (2006-2009).

Soemarmo juga mengabdi lewat beberapa organisasi, baik sebagai ketua, pembina, maupun pengurus biasa. Yaitu Ketua FKKPI Jateng, Ketua Pencak Silat Perisai Diri Jateng, Ketua Dewan Pembina Jamaah Ahli Toriqot Mutabaroh Indonesia (JATMI) Jateng, Dewan Pembina Vespa Mania Jateng, Ketua Umum PBVSI Kota Semarang, Ketua Jamaah Haji Fatimah Zahra Kota Semarang, Ketua Umum LPTQ Semarang, Ketua Korpri Kota Semarang, Ketua Harian PSIS, Wakil Ketua Kwarcab Pramuka Kota Semarang, Dewan Penasihat Komunitas Cah Semarang, Ketua Komisi Penanggulangan HIV/AIDS Kota Semarang, Majelis Pertimbangan Organisiasi Pemuda Pancasila Kota Semarang, dan Pembina Federasi Olahraga Masyarakat Indonesia Kota Semarang.


Bio Soemarmo


Nama : Drs H Soemarmo Hadi Saputro MSi
Tempat/Tgl Lahir : Cijulang, 13 Agustus 1959
Nama Istri : Hj Siti Suhermin Martiningsih
Nama Anak :
1. Gumilang Febriansyah Wisudananto
2. H Juan Rama
3. Anggita Putri Sekarsari
4. Meliya Anindyaguna Rosyda
Menantu : Flora Melani Widhasmara
Cucu : Farrel Arkan Maulana Wijoyo
Alamat Rumah : Jl Bukit Umbul No 2 Semarang
PENDIDIKAN
1. SD Negeri Bantul (1971)
2. SLTP Negeri 1 Bantul (1974)
3. SLTA Negeri Banjarnegara (1977)
4. D-III APMD Yogyakarta (1982)
5. S-1 STPMD Yogyakarta (1992)
6. S-2 MAP Undip Semarang (2005)

Bambang Raya Saputra

Kober Ngopeni

Dari lima pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Semarang, bisa dikatakan hanya Bambang Raya Saputra-lah “orang swasta” di luar lingkungan Pemkot Semarang. Dan tercatat baru kali ini warga etnis Tionghoa menjadi calon wakil walikota, dia adalah Kristanto yang akan mendampingi Bambang Raya sebagai pasangannya dalam Pilwalkot Semarang.

ADALAH Bambang Raya Saputra, calon Walikota Semarang 2010-2015 yang optimistis mampu membawa Kota Semarang mengejar ketertinggalannya dengan kota-kota besar lain di Pulau Jawa. Ini didasari dari pengalamannya sebagai seorang legislator, baik saat menjadi anggota DPRD Kota Semarang maupun ketika mewakili Jawa Tengah di MPR RI.

“Saya bersama Pak Kristanto, yang juga mantan legislator baik di tingkat Kota Semarang maupun Jawa Tengah telah menyiapkan sejumlah program yang saya yakini mampu menjadikan Kota Semarang memiliki akselerasi untuk bersaing dengan kota-kota lain,” kata Bambang.

Suami Rr Sri Adyati ini berkeinginan menjadikan Kota Semarang sebagai ibukota provinsi yang harus mampu menjadi barometer pertumbuhan kota atau kabupaten di sekitarnya. Untuk menjadikan kota ini sebagai pusat pertumbuhan, diperlukan terobosan baru yang sangat tergantung dari good will seorang walikota.

Menurutnya, seorang pemimpin tidak hanya cukup mengerti mengenai selukbeluk birokrasi pemerintahan, namun juga harus memiliki cukup waktu untuk menyerap aspirasi dari masyarakatnya. Masyarakat Kota Semarang mendambakan pemimpin yang kober ngopeni, ora ngrusuhi rakyat, yaitu memiliki waktu yang cukup untuk memikirkan kepentingan rakyat dan tidak membebani mereka.

Tidak dapat dipungkiri, rakyat sering mengeluh tentang pemimpin-pemimpin yang cenderung lebih mengedepankan kepentingan birokrasi, bahkan membebani mereka dalam berbagai hal, karena rakyat diposisikan hanya sebagai obyek, bukan subyek pembangunan.

Mantan atlet PON ini melihat, pembangunan yang selama ini dilakukan, cenderung ke arah pembangunan yang bersifat fisik. Ada salah satu sektor yang selama ini terkesan ditinggalkan, yakni pembangunan budaya. “Kita sepakat, kota ini harus menjadi kota metropolitan yang maju secara fisik dan religius. Tapi perlu diingat, pembangunan yang dilakukan harus tetap beradasarkan pada akar kebudayaan masyarakatnya,” ungkapnya.

Dorongan kuat untuk mencapai kota metropolitan dengan kemajuan-kemajuan fisik, perdagangan dan jasa, menurutnya, terbukti belum mampu mengangkat kesejahteraan rakyat secara optimal. Masih banyak orang yang merasa termarjinalkan, terpinggirkan, dan tidak dilibatkan dalam proses pembangunan kota. Bertebarannya mal-mal misalnya, telah mematikan
pasar-pasar tradisional, kurang baiknya penataan PKL juga memarjinalisasi rakyat kecil. Semua itu perlu penanganan yang serius, penerapan kebijakan yang berpihak pada rakyat.
Kontrak Sosial
Menurut ayah empat putra ini, jabatan walikota adalah suatu amanah yang harus dipertanggungjawabkan, baik kepada Tuhan maupun kepada masyarakat. Terlebihlebih di era pemilihan secara langsung sekarang ini, secara tersirat walikota telah ”menandatangani“ kontrak
sosial dengan masyarakat pemilih.

Kalau rakyat dan ridho Allah SWT memberikan kepercayaan kepadanya, dirinya akan melaksanakan semua program dengan penuh tanggung jawab, tentu bersama dengan semua lapisan dan golongan masyarakat. ”Tidak ada hal yang tidak bisa kita lakukan, kalau kita kompak, bersatu, bekerja sama menunaikan tugas-tugas yang ada,“ tandasnya.

Dengan kebersamaan serta melibatkan potensi masyarakat yang ada, dirinya yakin Walikota dan Wakil Walikota Semarang akan lebih mudah dalam mengemban amanat rakyatnya dengan prinsipprinsip pelayanan. Karena pada hakekatnya, pemerintah ada untuk melayani masyarakat
agar hidup damai dan sejahtera lahir dan batin. ”Oleh karena itu pimpinan yang benar adalah pemimpin yang mau melayani masyarakatnya dengan menggunakan prinsip kober ngopeni,“ tegas Bambang.***


Masyarakat Berbasis Budaya

Dirinya sependapat bahwa Kota Semarang perlu menjadi kota metropolitan yang maju secara fisik dan masyarakatnya religius. Tapi, perlu pula diingat bahwa harapan itu tidak akan terwujud
secara optimal kalau tidak ada perhatian yang lebih pada sektor budaya. Baginya, Kota Semarang harus dibangun berlandaskan budaya masyarakatnya.

Masyarakat Kota Semarang adalah masyarakat yang heterogen, terdiri dari berbagai suku, agama, golongan, dan berbagai lapisan secara demografik (sosial, ekonomi, pendidikan). Oleh karena itu, masyarakat kota ini tentu mendambakan pemimpin yang mampu mengangkat dan memberdayakan budaya-budaya yang ada.

“Kita layak belajar dari bangsa Jepang, Cina, India, yang saat ini bangkit berbasiskan kekuatan budaya lokal untuk bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Kami yakin, masyarakat Kota Semarang pun mampu bangkit dan mampu bersaing dengan kota-kota atau kabupaten-kabupaten lain di Indonesia, bahkan di dunia, kalau dibangun berbasiskan kekuatan budaya. Masyarakat Kota Semarang kaya-raya dengan budaya, dan itulah potensi yang harus dikembangkan,” ungkap Bambang.

Ketahanan budaya lokal perlu ditingkatkan, sehingga masyarakat mampu menghadapi gempuran pengaruh dari luar yang belum tentu cocok dengan karakteristik masyarakat. Perlu ada keseimbangan antara modernisasi dan pengembangan budaya-budaya lokal itu, sehingga mal-mal tidak harus mematikan pasar tradisional, pembangunan jalanjalan raya tidak harus memarjinalkan pedagang kaki lima atau warung-warung tenda. Semua ini memerlukan konsep pembangunan yang komprehensif dan kepedulian pada rakyat banyak. Perlu “terobosan-terobosan baru” yang keluar dari pemikiran birokratis semata.

Bambang mencontohkan, kepemimpinan Walikota Solo Joko Widodo dan wakilnya FX Rudyanto, yang telah melakukan “terobosan-terobosan baru” semacam itu dalam menata kotanya. Dua pemimpin itu berhasil menata padagang kaki lima, membatasi pengembangan mal-mal untuk tidak mematikan pasar-pasar tradisional.

Untuk mewujudkan harapan itu, idealnya pemimpin Kota Semarang adalah pemimpin yang mampu menggerakkan masyarakatnya yang tersebar di 16 kecamatan yang terdiri dari 177 kelurahan. Pemimpin yang diharapkan, adalah pemimpin yang mampu melakukan “terobosan-terobosan” untuk memberdayakan masyarakatnya dari berbagai suku, agama, golongan, aliran politik, dari berbagai tingkatan ekonomi, sosial, dan pendidikan.

Pemimpin yang dibutuhkan kota ini adalah pemimpin yang dapat menyinergikan semua kekuatan masyarakat untuk membangun kotanya. Pemimpin yang bukan hanya mengetahui selukbeluk birokrasi pemerintahan melainkan pemimpin yang justru dekat dengan rakyat dan paham aspirasi mereka.

Karena dekat dan mengerti aspirasi rakyat, maka pemimpin yang dibutuhkan itu akan menerapkan kebijakan-kebijakan yang berbasis kepentingan rakyat, bukan hanya mengutamakan hal-hal yang berkaitan dengan pemerintahan. Intinya, pemimpin itu harus menempatkan rakyat dari semua lapisan dan tingkatan menjadi subyek (bukan obyek) pembangunan kota. Hanya dengan cara itulah, maka penanganan masalah perkotaan (misalnya
pengangguran, kemiskinan, dan infrastruktur) dapat berhasil.

“Data tahun 2009 menunjukkan angka pengangguran Kota Semarang sekitar 120.000 orang dan angka kemiskinan 486.175 jiwa atau 32,8% dari total jumlah penduduk. Ini harus digarap agar masyarakat sejahtera,” tandasnya.

Delapan Visi
Ada delapan visi dari pasangan Bambang-Kristanto (BK) yang akan diwujudkan bila terpilih sebagai Walikota Semarang, pertama, mewujudkan kepedulian masyarakat terhadap kondisi Kota Semarang di bidang sosial, budaya, politik, ekonomi, agama, hukum, dan keamanan.

Kedua, menyusun konsep pembangunan Kota Semarang berbasis budaya, juga, ketiga, mengembangkan koordinasi yang baik antara pemerintah, akademisi, pengusaha, tokoh agama, dan aparat keamanan, sehingga Kota Semarang menjadi kota yang kondusif bagi peningkatan pembangunan sektor sosial, budaya, politik, ekonomi, agama, dan keamanan.

Keempat, mengefektifkan koordinasi antar-Satuan Kerja Pelaksana Daerah (SKPD), dengan tujuan meningkatkan efektivitas dan efisiensi kebijakan-kebijakan Pemerintah Kota Semarang, kelima, melakukan reformasi birokrasi untuk meningkatkan kinerja Pemerintah Kota Semarang dalam pembangunan sektor dunia usaha, infrastruktur, dan pelayanan publik. Keenam, mengefektifkan langkah-langkah pemberantasan korupsi, bekerja sama dengan lembaga-lembaga lain (KPK, Kepolisian, Kejaksaan, dan Lembaga Swadaya Masyarakat) untuk menciptakan pemerintahan yang baik dan bersih (good and clean governance).

Kelima, meningkatkan pelayanan terpadu Pemerintah Kota Semarang untuk mewujudkan kondisi yang kondusif bagi penanaman modal (investasi), dan keenam, mengembangkan jiwa-jiwa kewirausahaan, baik di kalangan birokrasi maupun masyarakat dalam kerangka penanganan masalah pengangguran dan kemiskinan.***


Bio Bambang

Bambang Raya Saputra, lahir di Madiun, 22 Maret 1952. Bersama keluarga tinggal di Jalan Pasir Mas Raya 3, Semarang. Menikah dengan Rr Sri Adyati dan dikaruniai empat orang putra. Alumnus Institut Manajemen & Bisnis Indonesia (IMBI) Yogyakarta (1993) dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi “IEU” Yogyakarta (2005) ini sekarang masih menjadi anggota DPRD Kota Semarang, sejak tahun 2004. Mantan atlet PON VIII tahun 1972 dari KONI Jawa Tengah ini, sebelumnya pernah menjadi anggota MPR RI (1999/2004).

Mantan Wakil Ketua DPRD Kota Semarang (2004-2009) ini di organisasi kemasyarakatan pernah menjadi Ketua Harian FORKI Jawa Tengah, Ketua Bidang Organisasi INKAI Pusat, Ketua GM Kosgoro Jawa Tengah, Ketua AMPI Jawa Tengah dan Penasihat FKPPI Jawa Tengah.

Di Partai Golkar, laki-laki penghobi olahraga ini pernah menjabat sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kota Semarang selama dua periode dan sekarang menjadi salah satu Wakil Ketua DPD Partai Golkar Jateng. Dia pernah bekerja di PT Sanggar Film dan di PT Tanah Mas. Pernah juga menjadi Direktur PT Standar Multi Guna dan Direktur CV Dwi Muda Perkasa.

Dalam pencalonannya sebagai Walikota Semarang, dirinya mengaku telah menyiapkan sejumlah program andalan yang diyakininya mampu menjadikan kota ini memiliki akselerasi untuk bersaing dengan kota-kota lain. Salah satunya adalah pemberdayaan masyarakat secara maksimal untuk mendukung setiap program pembangunan. “Salah satu program prioritas kami adalah menjadikan institusi RT/ RW sebagai mitra pembangunan. Bahkan kami akan mengupayakan tersedianya anggaran untuk para ketua RT/RW,” tegas Bambang.***

Oleh: Sardi, AK. (harian semarang)

Kristanto

Gagasan Harus Diwujudkan

Dari lima pasang calon Walikota-Wakil Walikota Semarang 2010-2015, dialah satu-satunya calon beretnis Tionghoa. Ini sebuah sejarah baru bagi Kota ATLAS. Akankah dia mampu membawa perubahan bagi kota ini? Lalu apa programprogramnya bagi warga?

Mantan anggota DPRD Kota Semarang periode 2004-2009 ini pernah menggebrak Jawa Tengah dengan menjadi satu-satunya dan yang pertama sebagai anggota legislatif dari etnis Tionghoa. Itu terjadi tahun 1997-1999. “Tahun itu sayalah pertama dan satu-satunya anggota DPRD Jateng yang beretnis Tionghoa,” ungkap Pak Kris, panggilan akrabnya.

Dari langkah awal itulah, Komisaris PT Tanah Mas ini semakin mantap menerjuni dunia politik. Ia tercatat sebagai salah satu Wakil Ketua Partai Golkar Kota Semarang, sejak menjadi anggota DPRD Provinsi Jateng hingga sekarang.

Tak heran, ketika Bambang Raya menggandengnya sebagai pasangannya dalam Pilwalkot Semarang, ia pun menyiapkan diri dengan berbagai program yang ditawarkan kepada masyarakat calon pemilih. Memang ada sebagian programnya yang hampir sama dengan para calon lain, namun itu disikapinya sebagai sebuah gagasan yang harus diwujudkan dalam memimpin kota ini.

Suami Juniati Ceha ini tetap akan konsen dengan pemberian pendidikan dasar bebas biaya. Karena menurut bapak dua putri ini, pendidikan dasar sangat penting untuk mewujudkan kota metropolitan yang berbudaya. “Dalam kerangka inilah dibutuhkan kualitas sumber daya manusia yang memadai. Apabila tidak, maka Kota Semarang akan berkembang jauh meninggalkan masyarakatnya secara mental maupun fisik,” tegasnya.

Untuk mencegah hal itu, maka standar pendidikan terendah masyarakat Semarang yang saat ini masih pada lingkup SMP/MTs, harus ditingkatkan menjadi SMA/MA/SMK untuk mengurangi kesenjangan antara perkembangan kota dan masyarakatnya.

”Prioritas program pada bidang ini adalah membudayakan masyarakat untuk mengikuti asuransi pendidikan SMA/SMK/MA yang ditawarkan kepada orangtua yang anaknya duduk di SD/MI dan SMP/MTs agar dapat mempersiapkan dana untuk melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang SMA/SMK/MA. Sehingga, 10 tahun mendatang standar pendidikan terendah masyarakat adalah setingkat SMA,“ harapnya.

Di bidang kepemudaan, Kristanto akan berupaya memberdayakan potensi kepemudaan dan olahraga, khususnya kepada generasi muda. Yakni dengan pembangunan Pusat Kegiatan Pemuda (Youth Centre, red) yang merupakan pusat semua kegiatan kepemudaan yang bersifat rekreatif, kreatif, dan kompetitif.

Dengan demikian potensi kepemudaan dapat diwadahi dan diarahkan agar tidak termarjinalisasi oleh modernisasi kota. Sedang untuk peningkatan infrastruktur perkotaan dan ruang publik, mantan Ketua SOKSI Jateng ini akan memodernisasi sarana transportasi dengan membangun Terminal Induk Terpadu Mangkang sebagai simpul transportasi darat antarprovinsi, antarkota, dan dalam kota. Di samping itu, terminal juga dilengkapi dengan stasiun KA dan area publik modern.

”Selain itu akan kita lakukan pula peningkatan fasilitas Terminal Terboyo serta Sub-Terminal Pudakpayung dan Majapahit. Ini diharapkan mampu mendukung tuntutan mobilitas masyarakat kota metropolitan yang tinggi dan dapat meningkatkan PAD dari segi retribusi terminal,” tegasnya.

Bersama pasangannya, dia akan berupaya sekuat tenaga untuk dapat merevitalisasi Pasar Johar dan Yaik sebagai pasar kebanggaan Kota Semarang, sekaligus sebagai pusat aktivitas perdagangan grosir dan ritel berkonsep pasar tradisional modern.***


Perlu Terobosan Baru

Calon Wakil Walikota Semarang yang diusung Koalisi Karya Bersama (Partai Golkar dan 13 partai nonparlemen, red) ini bertekat tetap menjadikan Semarang sebagai Ibukota Jawa Tengah. Untuk itu, bila terpilih dirinya akan mereformasi birokrasi, pencegahan korupsi, menghilangkan rob dan banjir, sehingga semua infrastruktur berjalan prima.

“Saya akan menghilangkan budaya ‘kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah’. Ini yang menghambat investor masuk Semarang. Selain lama dan sulit dalam pelayanan, terkadang juga ada mafia investor yang berperan sebagai penghubung antara calon investor dengan pihak pemerintah. Ini menimbulkan biaya tinggi,” tegasnya.

Untuk itu, penataan bandara, stasiun, terminal bus, dan sarana transportasi lainnya harus diprioritaskan. “Juga pembangunan hotel, restoran, dan tempat-tempat hiburan, serta fasilitas olahraga bertaraf internasional harus segera diwujudkan. Gunanya satu, untuk menarik investor masuk Semarang,” lanjutnya.

Oleh karenanya, untuk mewujudkan harapan tersebut diperlukan terobosan-terobosan baru, di mana faktor yang sangat penting untuk melakukan terobosan-terobosan baru tersebut adalah kepemimpinan.

Menurutnya, Kota Semarang membutuhkan pemimpin yang tidak sekadar memahami seluk-beluk birokrasi pemerintahan, melainkan pemimpin yang memiliki waktu yang cukup untuk menyerap aspirasi masyarakat dan berjuang mewujudkan aspirasi itu, serta tidak membebani rakyat dalam kebijakannya.

Juga pemimpin yang mampu menyinergikan semua lapisan dan golongan masyarakat, memiliki jiwa kewirausahaan (entrepreneurship), berani mengambil keputusan secara cepat, tepat, dan benar, terutama menyangkut kepentingan masyarakat banyak.

“Juga pemimpin yang mengutamakan kepentingan masyarakat daripada kepentingan pribadi, kelompok, dan golongan. Selain tentunya, memahami manajemen pemerintahan. Lebih baik lagi memiliki pengalaman cukup di bidang pemerintahan, baik di eksekutif, legislatif, maupun yudikatif. Dan itu semua hanya ada pada pemimpin yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, setia kepada Pancasila dan UUD 1945,” tegasnya kepada Harsem. ***


Bio Kris

KRISTANTO , lahir di Palembang, 24 Juni 1951. Menyelesaikan pendidikan dasarnya di SD Santo Pius, lalu SMP dan SMA Xaverius semuanya di Palembang. Komisaris PT Tanah Mas ini menikah dengan Juniati Ceha dan dikaruniai dua putri, Rika Adisti (30) dan Dhia Paramita (21).

Bagi Kota Semarang, terpilihnya Kristanto sebagai calon wakil walikota mendampingi Bambang Raya merupakan sebuah catatan sejarah tersendiri. Baru kali ini warga etnis Tionghoa menjadi calon wakil walikota. Dia pula yang tercatat untuk pertama kalinya menjadi anggota DPRD Provinsi Jateng (1997-1999) yang berasal dari etnis Tionghoa.

Ia yang berlatar belakang pengusaha, mengagendakan pemberdayaan usaha ekonomi kerakyatan bila menang dalam pilwalkot kali ini. Yakni peningkatan ekspor produk usaha ekonomi kerakyatan melalui pembentukan Perusda Eksportir yang bertugas mengekspor dan memasarkan berbagai komoditas asli Kota Semarang ke luar negeri, khususnya ke Australia untuk menghidupkan kembali kerjasama Sister City antara Semarang dan Brisbane dan Sister Province antara Jateng dan Queensland.

Selain itu juga pembuatan sentra PKL dengan pembelian lahan oleh Pemkot Semarang untuk memberi lahan sewa yang layak agar PKL tertata dalam kawasan yang tepat. “Karena PKL terbukti merupakan penggerak ekonomi di masa krisis ekonomi. Untuk itu perlu diciptakan kenyamanan dan keamanan di suatu lokasi. Jangan digusur, namun ditata dengan rapi,” tegasnya.***

Oleh: Sardi, AK. (harian semarang)

Mahfudz Ali

Written By Harian Semarang on Jumat, 09 April 2010 | 02.35

Loyalis yang Jujur

Lima calon pasangan walikota dan wakil walikota telah ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Semarang. Dari kelima pasang itu, Mahfudz Ali-Anis Nugroho Widharto (Manis)-lah yang mendapat dukungan penuh Walikota Semarang Sukawi Sutarip. Mengapa?

MAHFUDZ Ali, ayah dua anak yang keduanya kuliah di Universitas Diponegoro (Undip) ini lahir di Tuban dari kalangan masyarakat biasa.

Namun, karena seputaran lingkungannya adalah pondok pesantren, membuat dirinya akrab dengan lingkungan pondok, para santri dan kiai-kiai sepuh serta para ustadz. Di masa itu, suami Dra Hj Dyah Lituhayu, MSi ini pernah ikut mondok pada sebuah pesantren di Tuban.

Usai menamatkan pendidikan dasarnya, mantan seorang wartawan ini melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Gajahmada (UGM) Yogyakarta
hingga meraih gelar sarjana pada 1985. Sambil menjalani profesi sebagai seorang pengacara dan advokad, pada tahun 1995 ia dapat menyelesaikan S2-nya di UGM, sehingga gelar MSi pun disandang.

Pria yang berprinsip hidup ‘sederhana dan apa adanya’ ini ternyata tak cukup puas dengan dua gelar itu, sehingga walau kegiatannya padat selaku Wakil Walikota Semarang, Mahfudz yang energik ini tetap melanjutkan Program S3 di Undip.

Ketua Takmir Masjid al-Muhajirin Banyumanik Semarang ini oleh masyarakat Semarang dinilai sebagai sosok calon pemimpin yang memiliki kredibilitas dan kapabilitas yang baik serta layak untuk menjadi pemimpin di Kota Semarang mendatang. Ini bisa dilihat dari pernyataan Cahyo Cisyantoro, Ketua Umum SMA (Sahabat Mahfudz- Anis). Dikatakan, dirinya memastikan bahwa Mahfudz Ali pasti berkomitmen pada warga Semarang dengan membenahi semua sektor yang kurang dan melayani warga Semarang.

“Kami menilai Bapak Mahfudz Ali sosok yang idealis, berkomitmen tinggi dan terpenting beliau sangat anti pada sikap-sikap koruptif serta jauh dari tindakan asusila. Untuk itu ibukota Jawa Tengah ini sudah selayaknya dipimpin oleh tokoh yang memilki idealisme tinggi dalam meningkatkan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat,” kata Cahyo.

Atas ungkapan itu Mahfudz pun menyatakan, jika nantinya terpilih, diharapkan dukungan SMA benar-benar diwujudkan sampai masa lima tahun memimpin Semarang. “Kalau saya salah, ingatkan saya, bilang terus terang kalau saya keliru. Kalau tidak, kalian sama saja menjerumuskan saya, menistakan saya,” tegas Ketua KONI Semarang ini.

Suka Pecel
Pernah suatu malam, dirinya bersama Anis Nugroho mendatangi warung Nasil Pecel Mbok Sador, dan duduk bersama pembeli lainnya. Sambil menikmati hiburan lagu-lagu yang dinyanyikan para pengamen, dirinya pun menyantap nasi pecel yang cukup khas. “Enak, bener enak, saya memang sudah sering ke sini,” kata mahasiswa Program Studi Doktoral S3 Ilmu Hukum Undip ini.

Wakil Walikota Semarang ini mengakui, keberadaan PKL sangat dibutuhkan untuk menggerakkan ekonomi masyarakat. Meski begitu tentu perlu adanya sinergi dengan pemerintah dalam hal penataan PKL yang ada di tengah kota seperti di Simpanglima. Agar tidak memperburuk wajah kota, PKL harus menjaga kebersihan dan tidak membuat kotor jalan-jalan protokol kota.

“Mengingat jalan protokol yang ada di Bundaran Simpanglima dan Jalan Pahlawan
merupakan wajah kota, maka estetika atau keindahan di lingkungan ini harus diperhatikan,” ungkap suami Dra Hj Dyah Lituhayu MSi yang memang sering mendatangi para PKL yang menjajakan makanan khas Semarangan.

Sukawi Dukung Penuh
Dalam pencalonannya sebagai Walikota Semarang, Ketua BNK ini mendapat dukungan penuh dari Sukawi Sutarip, Walikota Semarang yang juga Ketua DPD Partai Demokrat Jateng. “Saya tegaskan, bahwa saya mendukung penuh pencalonan Pak Mahfudz dan Mas Anis. Jadi tidak benar kalau ada berita bahwa saya ke sana atau ke sini. Manis harga mati dan harus menang,” kata Sukawi di hadapan 1.200 relawan Manis di kediamannya.

Pada kesempatan itu, Sukawi berharap agar para relawan tidak ragu dalam memperjuangkan kemenangan pasangan Manis.

“Pasangan Mahfudz Ali-Anis Nugroho adalah pasangan terbaik yang mampu memimpin Kota Semarang. Terutama Pak Mahfudz Ali, dia adalah birokrat paling jujur yang pernah saya kenal. Selama lima tahun mendampingi saya sebagai wakil walikota, Pak Mahfudz luar biasa kejujuran dan loyalitasnya pada Semarang. Figur seperti itu yang dibutuhkan rakyat untuk menuju kesejahteraan,” tandas Sukawi.***


Yakin Menang Satu Putaran

SETELAH resmi terdaftar di KPU sebagai pasangan bakal calon walikota-wakil walikota berpasangan dengan Anis Nugroho Widharto, yang kemudian akrab disebut Manis, Mahfudz Ali merasa lega. Walau merupakan pasangan kedua yang mendaftar ke KPU Kota Semarang, dirinya yakin bisa memenangi Pilwalkot Semarang, 18 April mendatang.

Mahfudz memang tidak menargetkan berapa suara yang harus diraih, namun sebagai calon incumbent, dirinya berharap kemenangan akan diraihnya dalam satu putaran. “Mau berapa persen, yang penting bisa menang dalam satu putaran,” tandasnya saat itu seusai dari ruang kerja KPU Kota Semarang.

Untuk menunjang sukses perolehan suara, setidaknya dirinya bersama Anis pasangannya telah mendirikan “Gerakan Dukungan (Gerdu) Manis” yang tersebar tidak hanya di tingkat kecamatan se-Kota Semarang, tetapi juga di tingkat kelurahan. Untuk tingkat RT dan TPS juga telah dibentuk lebih dari 12.000 KPRT (Kelompok Pemenangan tingkat RT). Gerdu inilah nantinya yang akan dijadikan sebagai pusat kegiatan Manis, selain tentunya untuk memperbesar popularitas dan elektabilitas Mahfudz Ali-Anis Nugroho Widharto SE.

“Kami memiliki perhitungan tersendiri dan telah menyiapkan langkah-langkah pasti menuju kemenangan. Langkah ini diikuti dengan pembentukan tim sukses di tingkatan PAC atau kecamatan. Tim sukses tersebut berasal dari unsur partai yang akan melaksanakan kegiatan dalam mengenalkan figur Mahfudz Ali dan Anis Nugroho. Juga menyosialisasikan program-program serta visi-visi Manis memimpin Kota Semarang ke depan,” ungkap ayah dua putra ini.

Selain mengadakan Gerdu Manis, pihaknya juga mengadakan lomba Kampung Manis, di mana sebuah kampung tersebut akan dihiasi sesuatu yang serba Manis. Di sana akan disediakan hadiah menarik bagi kampung yang memiliki desain paling unik dan menarik.

Dan dalam waktu tidak terlalu lama, pihaknya juga tengah mempersiapkan kegiatan dalam skala besar, untuk meraih dukungan dan penguatan citra Manis. Di antaranya yaitu, Lomba Ojek Manis, Lomba Jalan Sehat, serta Siskamling Manis. Bahkan juga pembentukan Laskar Ankor (anti korupsi). “Kami juga membentuk Laskar Ankor (antikorupsi), karena saya menganggap, pemberantasan korupsi saat ini masih sangat lemah, dan salah satu program terpenting Manis yaitu memberantas korupsi,” katanya.

Menjadi komitmen Mahfudz, bahwa musuh dalam pemerintahan kita yang pertama dan utama adalah korupsi. Untuk itu Manis akan mengawal pemberantasan sampai ke akar-akarnya. Pemerintahan ke depan harus bebas dari segala praktik korupsi di segala lapisan. Nantinya tak akan ada tebang pilih, siapa yang bersalah harus diproses sesuai hukum yang berlaku. “Pemerintahan kita ke depan harus menitikberatkan pada pemberantasan korupsi di segala sektor, dengan tidak melalaikan program-program penyejahteraan untuk masyarakat,” ungkap Mahfudz.

Metropolis Religius
Tak hanya ingin menjadikan Semarang sebagai Kota Metropolitan, Manis juga akan mengajak masyarakat Kota Semarang lebih ke arah religius. Artinya, setiap aspek penyelenggaraan pemerintahan dan kehidupan bermasyarakat, senantiasa dilandasi nilai-nilai keagamaan, berpegang teguh pada prinsip-prinsip kemanusiaan, peduli terhadap sesama serta mengembangkan rasa kesetiakawan an sosial.

Baginya semuanya harus seimbang, yakni menerapkan pemerintahan dengan tidak meninggalkan nilai-nilai religius. “Ini sangat penting untuk diterapkan di kota Atlas ini. Dan yang jelas Manis siap melayani warga dan membenahi Kota Semarang,” tandasnya.

Untuk menuju itu semua, pihaknya telah mencanangkan beberapa program prioritas, salah satunya percepatan reformasi pemerintahan. Di antaranya pembuatan akte kelahiran, KTP dan KK gratis. Juga penyempurnaan pelayanan perizinan dalam one stop service, pembentukan unit layanan pengadaan barang dan jasa berbasis teknologi informatika (e-Procurement), penyempurnaan e-Government, standardisasi pelayanan berdasarkan ISO di seluruh SKPD dan pengembangan pola karir PNS yang transparan berlandaskan kompetensi.

Banjir dan Rob
Tentang peristiwa klasik yang menimpa Kota Semarang, yakni banjir dan rob, dirinya telah menyiapkan beberapa langkah. Langkah yang pertama berupa penuntasan pembangunan Waduk Jatibarang dan komponennya. Selain itu juga revitalisasi saluran drainase perkotaan, penuntasan pembangunan polder, pembudayaan gerakan bersih sungai dan drainase, dan yang tak kalah pentingnya adalah konservasi lahan dan pembangunan embung atau bendung atau chek-dam di Kawasan Hulu.

Sementara untuk mewujudkan masyarakat Semarang yang sehat, dirinya menyiapkan lima langkah yang akan ditempuhnya. Kelima langkah itu adalah cakupan menyeluruh jamkesmas, layanan puskesmas bermutu, revitalisasi posyandu, penguatan kesadaran gerakan hidup sehat dan penanggulangan penyalahgunaan Napza (narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya).

“Kita akan perhatikan kesehatan masyarakat, terlebih kesehatan untuk warga miskin atau tidak mampu. Bagi warga golongan ini akan mendapatkan keringanan atau malah dibebaskan dari biaya pengobatan. Mekanisme dan subsidi anggarannya akan dialokasikan dalam jumlah memadai. Manis sangat paham bahwa masyarakat yang sehat akan membuat kesejahteraan masyarakat meningkat,” lanjut Mahfudz.***


Bio MAHFUDZ

LAHIR di Tuban, 12 Mei 1958. Menyelesaikan sekolah mulai SD sampai SMA di Jawa Timur, yakni di SD Tuban lulus tahun 1970, sekolah menengah di SMP NU Tuban (1973) dan SMA Probolinggo (1976). Setelah itu kuliah di Fakultas Hukum UGM lulus tahun 1985. Sepuluh tahun kemudian dapat gelar MSi dari UGM dan saat ini masih menjalankan Program Studi Doktoral S3 Ilmu Hukum Undip.

Beristrikan Dra Hj Dyah Lituhayu, MSi, yang mengajar di Fisip Undip. Dikarunia dua anak, Primada Qurrota Ayun dan Ramada Haqqo Mujtahida, keduanya kuliah di Undip. Anak pertama kuliah di FISIP, sedang adiknya di Teknik Lingkungan. Bersama keluarga tinggal di Jalan Tusam L/6 Banyumanik, Semarang.

Pernah menjadi seorang wartawan yang kemudian menekuni profesi sebagai pengacara dan advokat, selain menjadi Dosen Fakultas Hukum Unissula. Di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) ini pernah menjadi Pembantu Dekan (PD) III, Dekan FH hingga Pembantu Rektor (PR) III Unissula Semarang.

Mahfudz Ali dibesarkan di lingkungan pondok pesantren dan kiai-kiai sepuh. Pecinta jalan sehat dan wayang kulit ini memegang prinsip hidup ‘sederhana dan apa adanya’. MA, panggilan akrabnya, juga aktif dalam berbagai aktivitas organisasi sosial kemasyarakatan dan keagamaan, di ntaranya sebagai Ketua Pelajar dan Mahasiswa Tuban di Yogyakarta, Ketua Takmir Masjid al-Muhajirin Banyumanik Semarang, Koordinator KP2KKN Jawa Tengah dan Ketua KONI Kota Semarang. Selain itu juga sebagai Ketua Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI), Ketua Badan Narkotika Kota (BNK) dan Ketua Majelis Dzikir SBY Nurussalam Kota Semarang dan sekarang masih sebagai Wakil Walikota Semarang (2005-2010).***

Oleh: Sardi, AK. (Harian Semarang)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. HARIAN SEMARANG - Semarang Banget - All Rights Reserved
Template Created by Mas Fatoni Published by Tonitok
Proudly powered by Blogger