Berita

[Berita][bleft]

Artikel

[Ekonomi][twocolumns]

Pembuat Barongsai Jelang Imlek Banjir Order, Kewalahan Layani Pesanan

Seorang pekerja tengah menempel kertas dorslag ke kerangka kepala barongsai. HARSEM/WARA MERDEKAWATI


MIROTO-Perayaan Imlek yang tinggal menghitung hari, kurang meriah rasanya tanpa permainan singa atau naga yang dimainkan dengan iringan tabuhan genderan. Ya, permainan yang merupakan budaya Cina dikenal dengan nama Barongsai.
     Atraksi permainan barongsai seringkali mampu membuat para penontonnya berdecak kagum. Namun, tidak banyak orang yang mengetahui bagaimana proses pembuatan Barongsai dan Naga. Berada di tengah gang sempit Jalan Seteran Tengah nomor 11 Kelurahan Miroto, Kecamatan Semarang Tengah itulah barongsai dan liong dibuat.
     Rambutnya sudah memutih, tenaganya pun sudah tidak sekuat seperti dulu waktu masih muda. Tetapi Sutikno (62), masih cekatan dalam merangkai barongsai. Lelaki keturunan Tionghoa ini adalah pembuat barongsai, kesenian yang pernah dilarang keberadaannya selama Orde Baru.
     Menurutnya, usahanya ini sudah dia geluti selama dua puluh tahun lamanya. Berbekal dari ilmu yang diberikan orang tuanya, Sutikno pun meneruskan usaha yang telah diwarisi orang tuanya membuat Barongsai dan Liong.
“Sekitar dua puluh tahun saya menggeluti usaha ini. Saya belajar membuat barongsai dari orang tua saya,” ungkapnya sembari menjahit kain sebagai pelengkap Naga.
     Dibantu oleh tiga orang pekerjanya, menjelang pergantian tahun Cina ini, Sutikno menggarap pesanan Barongsai dan Naga yang akan dikirim sampai ke berbagai kota di luar Pulau Jawa. Seperti Manado, Pontianak, Singkawang bahkan Papua.
     Bahan yang digunakan untuk membuat Barongsai ini cukup sederhana, yakni dengan bambu, kertas dorslag, lem kayu, cat minyak. Proses pembuatannya pun mudah, bambu yang sudah disayat tipis dibentuk sesuai ukuran sebagai kerangka utama. Untuk kerangka kepala barongsai standar memiliki diameter 130 cm, sedangkan naga hanya 110 cm.
Setelah kerangka dirangkai, lalu ditempeli dengan kertas dorsloag dan dilem menggunakan lem kayu. “Pelapisan dorslagnya sampai tiga lapis, agar kepala barongsai maupun naga tidak cepat rusak,” ungkapnya.
Setelah jadi, barulah dijemur diterik matahari lalu proses pewarnaan pun dilakukan. Sutikno mengaku, dalam pembuatan Barongsai ini terkadang terkendala oleh cuaca. Kalau sedang hujan, otomatis tidak dapat mengerjakan barongsai.
“Kendalanya ada di cuaca, kalau pas musim hujan atau tidak imlek biasanya kami membuat stok,” lanjutnya.
Proses pembuatan Barongsai memakan waktu selama 1 minggu, sedangkan naga bisa mencapai dua minggu. Mengenai harga yang ditawarkannya cukup terjangkau mulai dari 1,5 juta hingga 3 jutaan. Namun harga disesuaikan dengan pesanan dari si pemesan.

Mengenai model barongsai, dirinya pun selalu meng update model terbaru. Biasanya model dari RRC, Malaysia, Singapura, dari beberapa negara itu ada ciri khasnya sendiri. “Modelnya selalu mengikuti dari persobaria yakni wadah untuk pembuat barongsai,” ungkapnya.

Menjelang imlek seperti sekarang ini, Sutikno selalu kebanjiran order. Dirinya pun hingga kewalahan menerima pesanan. “Sampai saya tolak pesanan, kecuali kalau yang memang kenal dekat ya saya kerjakan,” tuturnya. (wam/njs)


Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

2 comments :

  1. Mohon info alamat dan nmr pembuat barongsai dong
    kirim via email liana0980.yahoo.co.id
    Thanks

    ReplyDelete

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.


Desakundi

[Desakundi][threecolumns]

Pendidikan

[Pendidikan][list]

Ekonomi

[Ekonomi][grids]

Politik

[Politik][bsummary]

Oase

[Oase][threecolumns]