Berita

[Berita][bleft]

Artikel

[Ekonomi][twocolumns]

Diusulkan, Harga Rumah Sederhana Jadi Rp 95 Juta

Pengunjung melihat-lihat maket rumah menengah yang dipamerkan dalam pameran REI Expo di Java Supermall, kemarin. SM/Fani Ayudea
SEMARANG - Para pengembang di Jateng meminta pemerintah menaikkan harga rumah tapak sejahtera program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) naik menjadi Rp 95 juta. Kenaikan tersebut diperkirakan masih dapat terjangkau masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) karena cicilan kredit per bulan masih sekitar Rp 800.000-Rp 900.000.
Wakil Ketua DPD REI Jateng Bidang Rumah Sederhana Andi Kurniawan mengatakan, kenaikan harga bahan bangunan serta sulitnya mendapat harga tanah yang murah jadi alasan usulan kenaikan harga rumah bersubsidi. Saat ini mencari tanah dengan harga ideal Rp 150.000 per meter persegi untuk FLPP sangat susah. Sulitnya mencari tanah terutama terjadi di wilayah Solo Raya seperti Kota Solo dan Kabupaten Sukoharjo.
"Komponen tanah yang termasuk biaya pengolahan tanah dan sertifikasi, menyumbang sepertiga harga jual rumah. Karena itu REI Jateng mengusulkan kenaikan harga rumah tapak sejahtera dari Rp 88 juta menjadi Rp 95 juta," katanya di sela-sela pameran REI Expo di Java Supermall, kemarin.
Usulan kenaikan harga rumah tapak sejahtera tak hanya terjadi di Jateng. Menurutnya, Jawa Barat, DIY, Jawa Timur juga mengusulkan kenaikan harga menjadi Rp 95 juta dari Rp 88 juta. Sementara di Papua harga rumah tapak sejahtera diusulkan menjadi Rp 150 juta. "Harga Rp 150 juta di Papua tetap tak masuk, karena harga bahan bangunan melonjak tinggi. Apalagi cuaca ekstrim saat ini membuat transportasi laut susah. Harga satu sak semen mencapai Rp 1,5 juta," ujarnya.
Menurutnya, pengembang minta dukungan pemda dalam hal kemudahan regulasi perizinan penyediaan tanah. Pengembang juga sudah mohon pada Kemenpera untuk menerbitkan surat yang menjadi pegangan pemda dalam mendukung program rumah tapak sejahtera. "BPN juga menjanjikan untuk mengupayakan biaya sertifikasi relatif lebih ringan bagi pengembang," jelasnya.
Sulitnya mencari lahan untuk rumah bersubsidi, juga membuat pengembang rumah sederhana mulai beralih membangun rumah menengah. Saat ini hanya tersisa sekitar 15% pengembang dari anggota REI Jateng yang masih menggarap rumah sederhana, dari awalnya sekitar 70 anggota REI. "Mereka memilih beralih menggarap rumah menengah dengan kisaran harga jual Rp 150 juta hingga Rp 300 juta per unit," tuturnya.
Kejenuhan pengembang membangun rumah sederhana, lanjutnya, bila dibiarkan akan mempengaruhi realisasi pencapaian pembangunan rumah sederhana. Tahun ini rumah sederhana ditarget terbangun mencapai sekitar 16.000 unit.
"Jika target tersebut sulit terkejar, maka angka backlog otomatis semakin lebar. Realisasi per April belum mencapai 30% dari target pembangunan 16.000 unit. Di Jateng dari target 3.000 unit, juga baru tercapai sekitar 1.000 unit saja," paparnya.(SMNetwork-J8/yul)
Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.


Desakundi

[Desakundi][threecolumns]

Pendidikan

[Pendidikan][list]

Ekonomi

[Ekonomi][grids]

Politik

[Politik][bsummary]

Oase

[Oase][threecolumns]