Di SDN Bandungrejo 2 Ruang Guru Memprihatinkan
| RUANG SEMPIT: Para guru di SDN Bandungrejo 2, Mranggen terpaksa berkantor di ruang yang sempit |
DEMAK-Trenyuh melihat kondisi ruang guru di SDN Bandungrejo 2, Mranggen, Demak yang begitu sempit. Begitu sempitnya, sehingga tidak semua guru memiliki meja tersendiri. Dari 16 guru yang ada, alhasil terpaksa ada yang hanya mendapat kursi saja di depan meja guru lainnya.
Hal itu terpaksa dilakukan, karena ruangan guru yang begitu luas sebelumnya, kini harus dipakai sebagai ruang kelas. “Dengan jumlah siswa yang ada, seharusnya dibutuhkan 10 kelas, namun saat ini hanya ada enam kelas,” ungkap Kepala Sekolah SDN Bandungrejo 2, Sudarko.
Sebenarnya ada dana alokasi khusus (DAK) 2011 senilai lebih dari Rp 200 juta, namun hanya bisa digunakan untuk renovasi tiga kelas, tak bisa digunakan untuk membuat kelas baru di halaman belakang sekolah yang masih luas. “Usulan kami untuk membuat tiga kelas yang direnovasi itu dibuat agar bisa ditingkat juga tak disetujui,” ungkapnya. Maklum pembangunan tersebut dilakukan oleh pemenang lelang, tidak swakelola, sehingga pihak sekolah tak bisa berbuat apa-apa.
Sekolah tersebut selalu diminati para siswa. Kini 372 siswa belajar di sana. Untuk menambah ruang kelas baru, maka kepala sekolah berinisiatif membuat rencana pembangunan kelas baru dengan biaya Rp 105 juta. Sudarko lantas membicarakan rencana tersebut dengan ketua komite sekolah, Muslim. “Pak Muslim kemudian meminta saya untuk mengadakan pertemuan wali siswa.
Pertemuan lalu dilakukan tanggal 27 Oktober 2012, yang diikuti 47 wali siswa,” ungkapnya.
Dalam pertemuan itu, Sudarko mengharapkan sumbangan sukarela dari wali siswa untuk pembangunan ruang kelas yang baru. Para wali siswa di lain kesempatan, diminta untuk menulis kesanggupannya menyumbang. “Sampai saat ini sudah sekitar 50% wali siswa yang mengisi kesanggupan memberikan sumbangan tersebut,” ungkapnya.
Sudarko memang sengaja tidak meminta sumbangan tersebut di awal penerimaan siswa baru, seperti yang banyak dilakukan SD lainnya. “Kami ingin siswa merasa nyaman belajar dulu. Lagipula kami juga mendengar aspirasi para orangtua murid. Kan kasihan kalau saat itu, ada yang juga menyekolahkan anaknya ke SMP dan SMA,” tambahnya.
Selama ini pihaknya sudah mengusulkan pembangunan kelas baru tersebut, tapi belum ada tanggapan dari pihak terkait. Dia juga berharap wakil rakyat, seperti Fahrudin Bisri Slamet dapat mengunjungi sekolah tersebut , agar dapat mengetahui kondisi yang sebenarnya. “Pak Slamet seharusnya berdiri di dua sisi, yaitu pihak sekolah dan wali murid,” harapnya.
Mengenai kelanjutan program sumbangan sukarela tersebut, Sudarko menyerahkan kepada atasannya. Namun kalau rencana itu dihentikan, dia meminta para wali murid paham konsekwensinya. Bisa saja diadakan pembagian waktu belajar di pagi dan siang hari. “Namun para guru sudah siap untuk mengajar sampai sore,” tegasnya. (tab)

Post A Comment
No comments :
Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.