Pasokan Solar Dibatasi
UNGARAN-Pertamina mulai memberlakukan pembatasan pasokan solar ke SPBU di wilayah Ungaran, Kabupaten Semarang.
Pembatasan 50% dari pesanan normal tersebut dinilai menyulitkan pihak pengelola SPBU, karena dituding melakukan penimbunan BBM. Demikian diungkapkan Oni (40) pengelola SPBU - 4450502 Jl Diponegoro, Ungaran, kemarin.
Menurut Oni, pembatasan pasokan solar tersebut mulai diberlakukan pada pengiriman solar pada Rabu (14/3) tengah malam. Dari jumlah pesanan normal sebanyak 16.000 liter solar per hari, oleh pihak Pertamina hanya dipasok sebanyak 8.000 liter per hari.
"Karena jumlah pasokan dikurangi sebanyak 50%, maka untuk penjualan hari ini tepat jam 10.00 stok solar sudah habis," terang Oni, kemarin. Dijelaskan pula, untuk pasokan premium dan pertamax sejauh ini masih stabil. Total pengiriman tetap sesuai dengan jumlah pesanan, yakni untuk pertamax 10.000 liter perhari dan premium 16.000 liter perhari. "Hanya pasokan solar yang jumlahnya dikurangi. Bensin dan pertamax masih normal," jelas dia.
Oni menyayangkan, pembatasan pasokan solar kali ini tidak disosialisasikan terlebih dahulu oleh pihak Pertamina. Hal ini dinilai sangat merugikan pihak pengelola SPBU. Pasalnya, turunnya stok solar dipastikan akan berimbas pada terhambatnya putaran uang.
"Bahkan Pertamina juga tidak memberikan alasan kenapa pasokannya dikurangi separuh dari jumlah pesanan. Bahkan tadi saat solar habis Pertamina melarang SPBU memasang tulisan habis. Sebagai gantinya SPBU diperintahkan memasang tulisan yang berbunyi menunggu pengiriman," papar Oni.
Hadapi Komplain
Di sisi lain, lanjut dia, pihak pengelola juga harus menghadapi komplain dari konsumen. Dalam hal ini pengelola terpaksa melakukan pembatasan bagi pedagang eceran yang memiliki surat izin dari Dinas Koperasi UMKM dan Perindag Kabupaten Semarang. "Kami terpaksa hanya melayani pedagang eceran yang memiliki izin. Jumlahnya hanya sekitar 11 pengecer saja. dan perlu diketahui, seminggu lalu kami pernah diprotes oleh para pengecer," tambahnya.
Dan yang paling berbahaya, menurut Oni, pembatasan pasokan ini juga menimbulkan tudingan miring dari masyarakat terhadap SPBU yang dikelolanya. Bahkan untuk mengantisipasi hal tersebut pihaknya telah melakukan koordinasi pengamanan dengan pihak Polres Semarang. "Daripada kami nanti dituduh melakukan penimbunan BBM, yang lebih baik berkoordinasi dengan polisi. Masalahnya pelanggaran terhadap UU Minyak dan Gas itu sanksinya sangat berat," ujarnya.
"Sesungguhnya pembatasan pasokan itu sudah menjadi tradisi bagi Pertamina setiap menjelang ada kenaikan harga BBM," imbuh Oni. Sementara Humas PT Apac Inti Corpora, Adi Setyawan saat dihubungi menjelaskan, rencana kenaikan harga BBm yang akan dilaksanakan per 1 April mendatang tidak begitu memberi pengaruh secara signifikan terhadap biaya produksi. Pasalnya, mesin produksi yang digunakan perusahaan saat ini lebih banyak menggunakan listrik dan batubara. "Mesin kami banyak menggunakan listrik, sedangkan untuk boiler menggunakan batubara," katanya.
"Prediksi saya, kenaikan harga BBM, utamanya solar hanya akan berpengaruh pada biaya transportasi produksi. Karena kami menggunakan truk sebagai transportasi hasil produksi dan bahan baku," ungkap dia. (ino/15)
Post A Comment
No comments :
Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.