Wanita-wanita Pemecah Batu Hasilnya Tak Sebanding Keringatnya
![]() |
| Memecah batu kali menjadi lahan pekerjaan beberapa wanita warga Sadeng |
RAUT lelah tampak jelas di wajah Mbah Sarminah (80), warga RT 02/RW 04 Bendosari, Kelurahan Sadeng, Kecamatan Gunungpati Semarang. Sudah setengah hari, dengan tangannya yang sudah renta dan keriput, dia membelah batu-batu kali seukuran kepalan tangan menjadi beberapa bagian kecil atau yang sering disebut koral. Pekerjaan memecah batu tersebut sudah dilakoninya sejak puluhan tahun lalu.
Karena tenaganya sudah tidak sekuat saat muda dulu, sebongkah batu seukuran tangan anak kecil saja harus berkali-kali dipukul dengan palu baru bisa terpecah. Duduk bersimpuh dengan sisa-sisa tenaga tuanya, dia berusaha untuk memecah setiap batu. Keringat pun mengucur, membasahi sebagian wajah dan tubuhnya. "Wis gak duwe tenogo (sudah tidak punya tanaga, red),” katanya.
Untuk memecah batu kali menjadi koral, Mbah Sarminah menggunakan sebuah palu besi dan karet ban bekas yang dibuat melingkar di ujungnya untuk menahan batu supaya tidak terpental ketika dipukul.
Batu-batu kali tersebut didapatnya dari Kali Kripik yang berjarak sekitar 200 meter dari rumahnya. Dengan menggunakan keranjang dari anyaman bambu, satu per satu batu dikumpulkan kemudian dipanggulnya menuju emperan rumah. Sesampainya di emperan, batu-batu kali itu dipecah menjadi lebih kecil.
Batu-batu kali yang sudah dipecah kemudian dikumpulkan. Setiap rit atau satu mobil pikap dihargai antara Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu. Karena tenaganya sudah terlalu tua, dalam sehari dia hanya mampu memecah batu antara 2-3 keranjang. Padahal untuk dikumpulkan menjadi satu rit, dia harus mengumpulkan sedikitnya 30 keranjang batu koral. Sehingga butuh waktu hampir dua minggu untuk bisa mendapatkan uang. Kalau direnungkan, keringat yang dikeluarkan tak sebanding hasilnya.
”Anak-anak sudah berkeluarga semua, masak menggantungkan pada anak terus. Anak-anak juga sudah punya kebutuhannya sendiri-sendiri,” tuturnya.
Lain halnya dengan Tukijah (32), dengan tenaga yang masih muda, setiap hari dia mampu memecah batu sampai tujuh keranjang. ”Ini pekerjaan sambilan saja, daripada tidak ada kegiatan. Jasilnya lumayan bisa untuk menambah uang belanja dan jajan anak,” terang ibu dua anak ini.
Pekerjaan suaminya yang hanya buruh pabrik, hanya mampu untuk kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, pekerjaan memecah batu itu terpaksa dia lakukan. ”Kadang satu bulan bisa dapat Rp 600 ribu, itu pun kalau terjual semua,” katanya.
Ketua RT 02 RW 04 Kelurahan Sadeng, Asmu’i mengatakan, banyak ibu-ibu rumah tangga yang melakukan pekerjaan memecah batu kali menjadi koral. “Kalau dulu banyak, sekarang sudah mulai berkurang, karena sekarang sudah banyak yang bekerja di luar rumah,” katanya.
Dijelaskannya, pekerjaan memecah batu dilakukan ibu-ibu rumah tangga untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga dan mengisi waktu luang. “Dari pada menganggur di rumah, kalau ada waktu mereka mengambil batu dan hasilnya dijual, untuk menambah kebutuhan sehari-hari,” ujarnya. (wam-12)
Labels
Warta Kota

Post A Comment
No comments :
Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.