Sembelih 45 Kambing untuk Mengenang Sesepuh Desa
![]() |
| TRADISI: Warga kelurahan Ngijo berkumpul di pemakaman Sentono untuk
mendoakan Mbah Kiai Asyari, penyebar agama Islam di kampung tersebut. (HARSEM/WARA MERDEKAWATI) |
NGIJO-Sebagai bentuk ungkapan rasa syukur, warga Dukuh Sentono Kelurahan Ngijo Kecamatan Gunungpati memiliki tradisi cukup unik. Mereka mengekspresikan rasa syukur dengan menyembelih kambing di kompleks pemakaman Sentono.
Seperti yang dilakukan kemarin, sebanyak 45 ekor kambing disembelih warga di area kompleks pemakaman. Warga setempat percaya tradisi menyemblih kambing berasal dari seorang tokoh ulama yang pertama kali menyebarkan ajaran agama Islam di Kampung Ngijo, bernama Mbah Kiai Asyari.
“Dulu Mbah Asyari, punya pondok pesantren dan setiap santri yang sudah khatam Quran diminta menyembelih kambing yang dagingnya dibagikan kepada warga sebagai ucapan syukur,” kata Hamdani, warga setempat.
Kebiasaan itulah yang menjadikan tradisi menyembelih kambing tetap dilakukan. Meskipun Mbah Kiai Asyari tidak dimakamkan di Pemakaman Sentono, namun warga setempat tetap melakukan tradisi tersebut. Karena warga percaya sebagai tempat petilasan seorang ulama, banyak mengandung Karomah. Petilasan yang sampai saat ini masih ada, diantaranya watang atau batang kayu jati.
Tradisi penyembelihan kambing, hanya dilakukan sekali dalam satu tahun. Pelaksanaannya dilakukan pada bulan Rajab hari Kamis Wage, yang bertepatan dengan haul Kiai Asyari dan Nyadran untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.
Modin Dukuh Sentono Ahmad Yasak mengatakan, tradisi tersebut sudah dilakukan secara turun temurun dan dilakukan setiap tahun. Kambing-kambing yang disembelih murni sedekah warga, yang memiliki hajat atau nazar. Tidak hanya dari warga sekitar namun juga beberapa dari luar kota, dan luar Jawa seperti Riau.
“Tahun ini ada 45 ekor kambing yang disembelih, ada 38 warga yang melakukan sedekah kambing. Seluruh daging kambing setelah dipotong lalu dimasak dan dibagikan kepada warga yang datang untuk dimakan bersama-sama,” katanya.
Tradisi tersebut masih tetap dijaga hingga saat ini sebagai bentuk sosial keagamaan dan untuk menjalin silaturahmi sesama muslim melalui prosesi ziarah dan bersih-bersih makam para pendahulu. “Di sini kita tidak hanya mendoakan Kiai Asyari, tetapi juga untuk sanak saudara yang telah lebih dahulu menghadap kepada Allah,” jelasnya.
Muhtarom, salah seorang warga mengaku, sudah sejak masih kecil rutin mengikuti tradisi tersebut, meski sampai saat ini belum bisa bersedekah dengan menyembelih kambing.
“Selain mendoakan orang tua, juga untuk berdoa supaya di tahun-tahun yang akan datang lebih baik, dan bisa turut bersedekah dengan menyembelih kambing,” katanya. (wam/16)

Post A Comment
No comments :
Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.