Berita

[Berita][bleft]

Artikel

[Ekonomi][twocolumns]

Budidaya Jamur Tiram, Angkat Ekonomi Warga Tak Mampu

Sumian, warga Jl Puspa Raya Gedawang Banyumanik tengah memanen jamur tiram, kemarin (SM/Muhammad Syukron)
SEMARANG-Menekuni bisnis budidaya jamur tiram memang sangat menguntungkan. Tingginya permintaan pasar dan mudahnya proses budidaya jamur tiram menjadi salah satu alasan mengapa jenis jamur ini lebih sering dibudidayakan masyarakat dibandingkan jenis jamur lainnya.

Meskipun begitu, sampai hari ini ada sebuah kendala yang sering dihadapi para pemula dalam menjalankan bisnis budidaya jamur tiram. Yaitu faktor pemilihan lokasi budidaya yang sesuai dengan habitat hidup jamur tersebut.

Biasanya pertumbuhan jamur tiram akan optimal sepanjang tahun bila lokasi budidayanya sesuai dengan habitat aslinya, yakni di kawasan pegunungan atau di daerah dataran dengan ketinggian antara 400-800 meter di atas permukaan air laut (mdpl), serta memiliki suhu udara sekitar 20-28 derajat C dengan tingkat kelembapan sekitar 70% sampai 80%. Lalu bisakah jamur tiram dibudidayakan di daerah panas? Sumian (34) warga Jalan Puspa Raya RT 6 RW 2 Kelurahan Gedawang, Kecamatan Banyumanik, dengan tegas menjawab, ''Bisa.''

Menurut bapak satu anak itu, Kota Semarang sebagai daerah panas pun terbukti  dapat dibudidayakan. Sudah setahun lebih, suami  Dwi Maryana (26) yang lulus SMK Widya Praja Ungaran pada 1999 itu kewalahan melayani permintaan pasar.

''Langkah mudah budidaya jamur tiram di daerah panas adalah membuat bangunan kumbung dengan sistem sirkulasi buka tutup agar sirkulasi kumbung pada siang hari tetap terjaga kelembabannya. Gunakan atap tahan panas, jaga kelembaban dengan meletakkan air di dalam kumbung, usahakan kumbung di dekat pohon, lindungi sekitar lumbung dari sinar matahari langsung, tinggi kumbung usahakan tidak kurang dari 4 meter, rak baglog jamur jangan lebih dari 3 tingkat, sering lakukan penyiraman minimal 3 kali dalam sehari,'' papar Sumian, saat ditemui di kediamannya, Kamis (14/2) pagi.

Dari 1200 baglog jamur, setiap hari Sumian mampu memanen jamur tiram 5 hingga 15 kilogram dengan harga Rp 12 ribu per kilogramnya. Agar tetap panen dalam waktu 12 hari, Sumian yang sehari-hari juga membuka jasa video shoting, konsultan dan desain interior itu menyiram dengan nutrisi berupa gula cair dan vitamin B-komplek.

''Selain warga sekitar, tukang sayur keliling juga mengambil jamur tiram dari saya. Karena permintaan tinggi, kami kewalahan dan berencana menambah baglog agar produksinya meningkat. Permintaan konsumen setiap harinya meminta 36 kilogram,'' katanya.

Modal awal usaha budidaya jamur tiram pun, kata Sumian diberikan oleh Masyarakat  Berdaya Indonesia (MBI), salah satu jejaring Lembaga Amil Zakat Al Ihsan (LAZiS) Jateng.

''Kami berikan modal bukan berupa uang, tetapi baglog kepada Sumian dan 10 ibu di Kelurahan Gedawang. Masing-masing 400 baglog. Kita juga support program beserta pemasarannya yang terpusat. Ini menjadi bagian LAZiS Jateng untuk mengangkat ekonomi kaum dhuafa dan janda,'' jelas Meike Fitrianingtyas, penggagas dan pendamping program MBI LAZiS Jateng, kemarin. (Muhammad Syukron-SMNetwork/yul)
Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.


Desakundi

[Desakundi][threecolumns]

Pendidikan

[Pendidikan][list]

Ekonomi

[Ekonomi][grids]

Politik

[Politik][bsummary]

Oase

[Oase][threecolumns]
Create gif animations. Loogix.com. Animated avatars. Animated avatar. Motley Animated avatar. Gif animator. Animated avatar. Gif animator. Zoom Gif animator. Motley Create gif animations. Zoom Animated avatar. Movie Create gif animations. Gif animator. Zoom Animated avatar. Loogix.com. Animated avatars. Negative Animated avatar. Zoom Rumah Zakat Animated avatar. Negative Babyface, Harian Semarang liquid executive club, tonitok rendezvous