Jateng-Turki Jajaki Kerja Sama Ekspor Impor
![]() |
| Sekjen Turkish Indonesian Trade Association Mr Ismail Cekmeck mempresentasikan peluang kerja sama ekspor impor Turki-Indonesia di Hotel Grasia Semarang, kemarin (SM/Fista Novianti ) |
SEMARANG-Peluang kerja sama ekspor impor Indonesia khususnya Provinsi Jawa Tengah dengan negara Turki sangatlah besar. Untuk meningkatkan volume perdagangan, sejumlah pengusaha ekspor impor Jateng menjajaki kerja sama dengan pengusaha asal Turki.
Sekjen Turkish Indonesian Trade Association (TITA), Mr Ismail Cekmeck menuturkan, potensi perekonomian di Turki sebagai salah satu negara Timur Tengah masih lebar. Didukung letaknya yang strategis menjadi pintu masuk dari Eropa atau Afrika ke Asia dengan penduduk kurang lebih 75 juta jiwa. Berdasarkan World Bank 2011 lalu, tren perekonomian Turki dan Indonesia semakin membaik. Pendapatan per kapita mencapai sekitar USD 16.885. Pada 2005-2009 bagi Indonesia terjadi surplus 54% naik dari 0,803 miliar pada 2006 menjadi USD 2,088 miliar di 2008.
''Sayangnya, masih banyak kendala yang menghinggapi pengusaha karena minimnya informasi kedua negara itu. Serta kurang mengenalnya kondisi lapangan, bahasa, budaya, karakteristik, pembawaan dan tingkah laku,'' katanya saat kegiatan ''Membangun Kerja Sama Perdagangan Indonesia-Turki untuk Meraih Peluang Pasar Baru'' di Hotel Grasia Semarang, kemarin.
Guna memacu peningkatan volume ekspor impor antara Indonesia-Turki, TITA sebagai wadah perkumpulan bisnis pengusaha Turki menyatakan siap menjajaki kerja sama dengan para pengusaha ekspor impor di wilayah Jateng yang tergabung di Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI). TITA akan semakin agresif mempertemukan antarpengusaha.
Menurut Ismail, TITA selama ini memiliki visi misi meningkatkan jaringan bisnis Indonesia-Turki. Yakni dengan menyediakan forum bisnis serta beragam program Trade Bridge bilateral, internasional dan sektoral. ''Dengan beragam upaya tersebut termasuk kerja sama dengan pengusaha asal Jateng maka diharapkan target volume perdagangan sampai 2014 mendatang bisa mencapai USD 5 miliar,'' harap dia.
Murat Agcabay dari pengusaha Agcabay Tekstil Holding menambahkan, Jawa Tengah memiliki potensi luar biasa. Kekayaan alam yang dimiliki Jateng menjadi peluang cukup prospektif untuk melakukan kerja sama perdagangan. Industri utama Turki terdiri dari beragam produk seperti tekstil dan produk tekstil (TPT), furnitur, alat-alat kesehatan, makanan dan minuman, produsen telur, kapal, kertas dan masih banyak lagi.
''Jateng saat ini menjadi tujuan investor. Hal ini seiring dengan stabilitas perekonomian di provinsi ini yang terus membaik,'' kata Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jateng, Ari Wibowo.
Kerja sama ini, kata Ari, harus benar-benar dimanfaatkan pengusaha ekspor impor Jateng untuk mengembangkan bisnis mereka. ALFI ingin memberikan peluang kepada pengusaha. Berdasarkan data dari Terminal Peti Kemas Semarang (TPKS) menyebutkan, volume ekspor pada 2012 sebesar 241.113 TEUs naik 7,3% dari tahun lalu sebesar 227.657 TEUs. Sementara volume impor mencapai 225.942 TEUs naik 8,7% dari 199.811 TEUs.(K14-SMNetwork/yul )
Sekjen Turkish Indonesian Trade Association (TITA), Mr Ismail Cekmeck menuturkan, potensi perekonomian di Turki sebagai salah satu negara Timur Tengah masih lebar. Didukung letaknya yang strategis menjadi pintu masuk dari Eropa atau Afrika ke Asia dengan penduduk kurang lebih 75 juta jiwa. Berdasarkan World Bank 2011 lalu, tren perekonomian Turki dan Indonesia semakin membaik. Pendapatan per kapita mencapai sekitar USD 16.885. Pada 2005-2009 bagi Indonesia terjadi surplus 54% naik dari 0,803 miliar pada 2006 menjadi USD 2,088 miliar di 2008.
''Sayangnya, masih banyak kendala yang menghinggapi pengusaha karena minimnya informasi kedua negara itu. Serta kurang mengenalnya kondisi lapangan, bahasa, budaya, karakteristik, pembawaan dan tingkah laku,'' katanya saat kegiatan ''Membangun Kerja Sama Perdagangan Indonesia-Turki untuk Meraih Peluang Pasar Baru'' di Hotel Grasia Semarang, kemarin.
Guna memacu peningkatan volume ekspor impor antara Indonesia-Turki, TITA sebagai wadah perkumpulan bisnis pengusaha Turki menyatakan siap menjajaki kerja sama dengan para pengusaha ekspor impor di wilayah Jateng yang tergabung di Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI). TITA akan semakin agresif mempertemukan antarpengusaha.
Menurut Ismail, TITA selama ini memiliki visi misi meningkatkan jaringan bisnis Indonesia-Turki. Yakni dengan menyediakan forum bisnis serta beragam program Trade Bridge bilateral, internasional dan sektoral. ''Dengan beragam upaya tersebut termasuk kerja sama dengan pengusaha asal Jateng maka diharapkan target volume perdagangan sampai 2014 mendatang bisa mencapai USD 5 miliar,'' harap dia.
Murat Agcabay dari pengusaha Agcabay Tekstil Holding menambahkan, Jawa Tengah memiliki potensi luar biasa. Kekayaan alam yang dimiliki Jateng menjadi peluang cukup prospektif untuk melakukan kerja sama perdagangan. Industri utama Turki terdiri dari beragam produk seperti tekstil dan produk tekstil (TPT), furnitur, alat-alat kesehatan, makanan dan minuman, produsen telur, kapal, kertas dan masih banyak lagi.
''Jateng saat ini menjadi tujuan investor. Hal ini seiring dengan stabilitas perekonomian di provinsi ini yang terus membaik,'' kata Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jateng, Ari Wibowo.
Kerja sama ini, kata Ari, harus benar-benar dimanfaatkan pengusaha ekspor impor Jateng untuk mengembangkan bisnis mereka. ALFI ingin memberikan peluang kepada pengusaha. Berdasarkan data dari Terminal Peti Kemas Semarang (TPKS) menyebutkan, volume ekspor pada 2012 sebesar 241.113 TEUs naik 7,3% dari tahun lalu sebesar 227.657 TEUs. Sementara volume impor mencapai 225.942 TEUs naik 8,7% dari 199.811 TEUs.(K14-SMNetwork/yul )

Post A Comment
No comments :
Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.