Dianiaya Suami Sampai Tewas
Suwarsih (58), warga Tanggul Mas Timur III/225, RT 3/RW 9 Kelurahan Panggung Lor, Semarang Utara, ditemukan tewas dengan luka parah, kemarin, sekitar pukul 07.00. Diduga, ia korban pembunuhan.
Menurut bisik-bisik warga sekitar, Suwarsih menghembuskan nafas terakhir karena mengalami kekerasan fisik, atau biasa disebut kekerasan dalam rumahtangga, alias KDRT. Polisi menemukan luka di sejumlah tubuh korban, di antaranya siku tangan kiri dan pipi sebelah kiri memar, serta ada bekas jeratan tali di kedua tangannya. Sebab itu, suami korban, Teguh Santoso (60), digelandang oleh tim Reserse Kriminal Polrestabes Semarang untuk diperiksa.
Informasi yang dihimpun, jasad Suwarsi ditemukan dalam posisi telentang di sebuah kursi dalam rumahnya. Suwarsih yang biasanya hanya tinggal bersama suaminya itu sering diperlakukan kasar oleh suaminya. Dua anaknya jarang tinggal di sana sebab keduanya menempati rumah lain. Para tetangganya mengaku sering mendapati Suwarsih mendapat perlakuan kasar oleh suaminya sejak puluhan tahun silam.
Di hadapan polisi, Teguh mengelak atas tuduhan melakukan KDRT. Ia berkilah, sekitar pukul 06.30 ia sempat menolong korban yang jatuh di depan kamar mandi di rumahnya. Menurutnya, Suwarsi sudah lama mengidap stroke.
“Saya berpikir, sakit strokenya kambuh. Kemudian saya angkat dan baringkan di sebuah kursi ruang tamu. Tak lama kemudian meninggal,” kata pria mantan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) ini.
Saksi lain, Lani Puspitasari (65) menyebutkan, sekitar pukul 05.30, ia melihat korban duduk di lantai teras depan rumahnya dalam kondisi tampak lemah. “Saya sempat menyapanya, tapi Suwarsi tidak menjawab. Baru pukul 07.00, saya kaget mendengar Suwarsi meninggal,” kata wanita yang juga menjadi pengurus RT, warga Tanggulmas Timur III/234 Panggung Lor, Semarang Utara itu.
Sementara salah satu tetangga korban, Din (47) mengungkapkan, rumah tangga suami istri tersebut sering bermasalah. “Sudah beberapa kali masalah kekerasan dalam rumah tangga korban dibawa ke Pak RT untuk diselesaikan. Bahkan ia (Teguh, red) pernah diminta menandatangani surat pernyataan agar tidak mengulangi lagi perbuatannya. Tapi seringkali dilanggar,” ungkapnya.
Kapolsek Semarang Utara Kompol Sugiyanto mengakui, pihaknya masih melakukan penyelidikan. "Untuk penganiayaan baru akan dikonfirmasi lebih lanjut. Ada informasi juga sering ribut dengan suami, tapi Suwarsih juga memiliki riwayat penyakit stroke," katanya.
Adik korban, Suwoto mengatakan, ia sering mendengar dari tetangga terkait perlakukan kasar Teguh terhadap istrinya. Luka paling parah terjadi 20 tahun silam. Suwarsih mengalami luka parah di bibir atas, akibatnya, ia mendapat 17 jahitan.
“Saat itu, saya sendiri sudah akan melaporkan Teguh ke polisi, namun tidak diperbolehkan oleh Suwarsih. Mbak Yu saya itu setiap ditanya tidak mau ngaku dianiaya. Khawatir kalau ditinggalkan suaminya. Dia sangat mencintai suaminya,” kata Suwoto.
Selain itu, Suwarti pernah mengalami luka di kaki sampai tidak bisa berjalan selama lima bulan. “Seminggu lalu, saya mendapat kabar bahwa Mbak Yu dicaci maki oleh Teguh,” katanya.
Hingga petang kemarin, Teguh masih menjalani pemeriksaan intensif di Mapolrestabes Semarang. Pria yang belakangan menjadi tukang parkir di kawasan Johar itu bersikukuh tidak melakukan kekerasan dalam rumah tangga yang menyebabkan istrinya meninggal itu.
Sementara jasad korban dibawa di kamar mayat RSUP Dr Kariadi untuk dilakukan visum. Usai divisum, pihak keluarga korban berencana akan langsung membawa jenazah ke daerah asalnya, Blora. (abm/rif)
.jpg)
Post A Comment
No comments :
Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.