Petani Nggropyok Tikus (upper) 160 Ha Sawah Terancam Puso
UNGARAN-Sekitar 160 hektare sawah di Desa Cerbonan, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang terancam puso, karena diserang hama tikus dan keong emas.
MENGANTISIPASI meluasnya serangan hama tikus, petani Cerbonan yang tergabung dalam kelompok "Rowo Tani" melakukan gropyokan tikus, kemarin pagi. Ketua kelompok tani, Legimin (45) menjelaskan, sesungguhnya hama tikus sudah menggagalkan dua kali musim tanam bagi petani Cerbonan dan sekitarnya. Akibatnya, kerugian yang ditimbulkan mencapai ratusan juta.
MENGANTISIPASI meluasnya serangan hama tikus, petani Cerbonan yang tergabung dalam kelompok "Rowo Tani" melakukan gropyokan tikus, kemarin pagi. Ketua kelompok tani, Legimin (45) menjelaskan, sesungguhnya hama tikus sudah menggagalkan dua kali musim tanam bagi petani Cerbonan dan sekitarnya. Akibatnya, kerugian yang ditimbulkan mencapai ratusan juta.
"Dua kali musim tanam digagalkan oleh hama tikus. Petani tidak bisa panen dan justru mengalami kerugian cukup besar," ungkap Legimin, kemarin saat ditemui di sawah. Menurut dia, berbeda dari sebelumnya, serangan hama tikus kali ini justru merusak tanaman padi usia maksimal 50 hari, dengan tingkat kerusakan pada daun dan batang tanaman.
Hal itu masih diperburuk adanya hama tambahan, yakni keong emas yang ikut mempercepat kematian tanaman padi. "Biasanya serangan hama tikus situ terjadi saat usia tanaman padi mulai berbuah atau menjelang panen. Tapi sekarang ini usia tanaman baru 50 hari sudah diserang dengan sasaran daun dan batang. Kalau sudah seperti ini dipastikan tanaman padi akan puso," jelas Legimin.
Akibat gagal tanam tersebut, Legimin yang memiliki sawah sekitar dua hektare mengaku rugi sebesar Rp 28 juta, sebagai biaya pembelian bibit dan pengolahan tanah dalam dua musim tanam terakhir. Mernutunya, hal yang sama juga dialami oleh para petani Cerbonan lainnya. "Kalau ditotal jumlah kerugian petani cerbonan mencapai ratusan juta. Kerugian saya pribadi dalam dua musim tanam ini sebesar Rp 28 juta," terangnya.
Nasib sama juga dialami Marsudi (56) warga RT 03/RW 09 desa Cerbonan, Kecamatan Banyubiru. Petani pemilik lahan sawah seluas 1,5 hektare ini mengaku rugi sebesar Rp 10 juta. "Untuk biaya pembelian bibit dan pengolahan tanah dalam dua musim tanam ini saya habis sekitar Rp 10 juta. Dan akibat serangan hama tikus ini praktis tanaman padi akan puso dan tidak ada hasil panen yang akan kami petik," katanya.
Kurang Tanggap
Lebih lanjut Marsudi menyayangkan sikap pemerintah daerah yang dinilai kurang tanggap terhadap nasib petani. Menurutnya, sejauh ini pihak Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Kabupaten Semarang belum pernah mendatangi lokasi serangan hama tikus dan memberikan bantuan apapun kepada petani. Padahal hal kejadian tersebut sudah dilaporkan melalui petugas Kecamatan Banyubiru.
"Sebenarnya kami berharap agar pemerintah bersedia membantu bibit dan obat-obatan pembasmi hama tikus. Tapi kenyataannya hingga saat ini laporan kami belum mendapatkan tanggapan," ujar Marsudi. Dikatakannya, luas area sawah di Cerbonan saat ini mencapai sekitar 160 hektare yang digarap oleh 35 petani.
Kepala Distanbunhut Kabupaten Semarang Urip Triyogo saat dikonfirmasi mengatakan, sesungguhnya pihaknya selama ini sudah menyediakan obat pembasmi hama tikus jenis Constran ke seluruh kantor kecamatan. Hal ini dimaksudkan untuk mendekatkan kebutuhan petani dalam melakukan pembasmian hama hewan pengerat tersebut.
"Petani bisa mengambil di kantor kecamatan atau langsung ke dinas. Bila perlu kami akan membantu petani melakukan pengasapan untuk membasmi tikus," jelas Triyogo. Terkait permintaan adanya bantuan bibit, Triyogo menegaskan, hal tersebut tidak bisa dilakukan secara serta merta.
Pasalnya, sebelum bantuan diserahkan pihaknya harus terlebih dahulu melakukan pendataan terhadap luas lahan dan bentuk kerusakan yang ditimbulkan. Hasil pendataan tersebut kemudian akan diusulkan ke pemerintah pusat atau provinsi untuk direalisasikan. "Kalau bantuan bibit harus melalui pendataan lapangan terlebih dahulu, sebelum kemudian kami usulkan ke pusat atau provinsi untuk direalisasikan," tandasnya.
Diungkapkan, populasi hama tikus murni disebabkan adanya perubahan cuaca ekstrem di kawasan Indonesia. Untuk itu bupati melalui Distanbunhut telah mengeluarkan surat edaran ke seluruh kecamatan, agar setiap desa yang memiliki area persawahan melakukan gerakan pembasmian tikus melalui gropyokan. "Sudah ada surat edaran dari bupati agar desa mengerahkan para petani melakukan gropyokan tikus," katanya. (ino/15)
Labels
Desakundi
Post A Comment
No comments :
Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.