Berita

[Berita][bleft]

Artikel

[Ekonomi][twocolumns]

Dinas Pertanian Tambah Areal Tanam Kedelai

HARSEM/SUKMAWIJAYA. Karena harga fluktuatif,  petani tidak berani tanam kedelei.
Demak-Setelah Perpres nomor 32 tahun 2013 tentang penugasan kepada Bulog untuk pengamanan harga dan penyaluran kedelai, Dinas Pertanian Demak berencana akan menambah perluasan tanam kedelei.

Selama ini antusias petani sangat kurang untuk menanam kedelei, disamping mudah terpengaruh fuktuatif harga, biaya perawatan kedelai sangat tinggi apalagi organisasi pengganggu tanaman (OPT) cukup banyak, sehingga petani lebih memilih menanam komoditas lain.

Setelah muncul Perpres yang menugaskan Bulog (Badan Urusan Logistik) melaksanakan pengamanan harga dengan harga pembelian pemerintah (HPP) untuk kedelai Rp 7.450 per-kg, tahun depan (2014) dinas pertanian akan menambah luasan lahan tanam kedelai di Demak.

“Rencana luas lahan akan dilakukan pada program substitusi tanam tembakau dengan kedelai. Akibat pembatasan areal tanam tembakau, kemungkinan akan menambah luas tanam kedelai di wilayah pertanian tembakau,” ucap Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Demak, Wiwin Edi Widodo, kemarin.
Wiwin mewakili Kepala Dinas Pertanian Demak H Wibowo menambahkan, selama ini areal tanam kedelai di Demak hanya 6 ribu hektar, lebih rendah dibanding luasan tanam kacang hijau mencapai 29 ribu pada musim tanam ketiga. 

Pihaknya  akan memberlakukan penambahan areal tanam kedelai tahun depan, karena musim kemarau tahun ini kurang efektif, banyak turun hujan. Selanjutnya lahan dibiarkan bero (istirahat).
Terpisah, Wakil Ketua DPRD Demak, H Ahmad Husaini, menilai seharusnya Demak mulai merubah konsep tanam komoditas, dengan pola tanam yang sehat. Seperti komoditas kedelai, selama ini petani lokal belum bisa memproduksi secara maksimal. 

Untuk mengantisipasi fluktuatif harga komoditas kedelai tidak hanya menambah areal tanam kedelai lokal atau bulog ditugaskan sebagai pengaman saja, namun ada monopoli impor kedelai dilakukan oleh bulog. 
Dan juga ada pembatasan impor kedelai, dengan jumlah impor sekitar 20  persen dari jumlah produktifitas kedelai impor. Hal ini akan mendorong nilai jual kedelai lokal lebih stabil.   

Husaini mengakui kedelai lokal belum bisa bersaing dengan kedelai impor. Bila pemerintah serius melakukan swasembada kedelai, kemungkinan hal ini tidak mustahil bila biaya perawatan kedelai lokal bisa ditekan, sehingga harga panenan kedelai lokal tak lebih mahal dari kedelai impor. (swi/hst)  

Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.


Desakundi

[Desakundi][threecolumns]

Pendidikan

[Pendidikan][list]

Ekonomi

[Ekonomi][grids]

Politik

[Politik][bsummary]

Oase

[Oase][threecolumns]