Berita

[Berita][bleft]

Artikel

[Ekonomi][twocolumns]

Ayah Mertuaku Super Genit


Ayah mertuaku, sebut saja namanya Pak Mus, sudah berusia kepala enam. Anehnya ia sama sekali tak menyadari usianya yang telah uzur tersebut, malah sebaliknya ia seperti kembali ke masa mudanya. Setiap hari ada saja kelakuannya yang membuat aku jengkel bukan kepalang, apalagi saat melihat ia mencoba merayu anak-anak sekolah yang hampir setiap hari lewat di depan rumah kami. Uh ingin rasanya aku menjewer telinganya, sayangnya ia mertua aku.

Kelakuan buruknya itu mulai muncul sejak ia tak didampingi lagi oleh istrinya karena bercerai. Sejak awal, aku memang sudah melihat bakat genitnya, tapi aku tak begitu memperdulikannya karena diluar sifat itu, Pak Mus sebenarnya orang yang baik. Ia begitu menyayangi cucu-cucunya, ia juga seorang ayah yang bertanggung jawab. Semua anak-anaknya dibekalinya sebuah rumah masing-masing satu untuk kami tinggali. Namun semenjak Pak Mus bercerai, suamiku memutuskan untuk tinggal bersama kami dan merawatnya.
Pada dasarnya aku sangat menghormati beliau, tapi belakangan sikap genitnya semakin membuat aku jengkel. Bukan apa-apa, ia tak pernah melihat situasi saat sikap genitnya muncul, bahkan ketika anak-anak dan menantu-menantunya ada didekatnya, Pak Mus tak segan-segan menggoda dan merayu perempuan yang kebetulan ada didekat kami, entah itu perempuan yang masih muda ataupun yang sudah berumur bahkan anak-anak yang masih berumur belasan tahun.

Pernah suatu ketika, saat menggelar arisan ibu-ibu di rumah kami, Pak Mus dengan pedenya bergaya bak ABG, mengenakan celana blue jeans yang dipadu dengan T-shirt, berkaca mata hitam sambil mengumbar senyum, menampakan gusi yang giginya tinggal sebagian. Sebenarnya saat itu aku ingin tertawa geli, tapi saat aku melihat ia mulai menggoda ibu-ibu yang hadir dengan cara mencolek dan mencubit salah satu dari mereka, aku jadi malu.

Aku hanya bisa meminta maaf, saat ibu-ibu itu memprotes sikap Pak Mus yang dinilai keterlaluan. Di lain waktu aku mendapat pengaduan dari para tetangga yang melihat Pak Mus mejeng di sebuah mall dan sedang bercanda ria dengan para ABG. Saat ia pulang, suamiku mencoba menanyai kebenaran berita itu dan Pak Mus dengan enteng hanya menjawab, “Ah, biasalah namanya juga anak muda.” Ya ampun pak, bapak itu sudah tua. Tentu saja kata-kata itu cuma ada dalam hatiku.

Suatu kali aku bahkan pernah didatangi seorang ibu, yang mencari-cari Pak Mus. Ibu itu mempermasalahkan kelakuan Pak Mus yang sering menggoda dan merayu anaknya yang masih duduk di bangku kelas tiga SMP.  “Anak saya jadi takut ke sekolah gara-gara sering digoda laki-laki tua yang katanya tinggal disini, tolong dong dik, dinasehati orang tuanya, jangan sampe saya lapor ke polisi,” kata ibu itu sambil bersungut-sungut.

Karena sering mendengat keluhan dari berbagai pihak, kami sekeluarga akhirnya memberanikan diri untuk menasehati bapak. Namun bukannya sadar, seperti sebelumnya bapak hanya tersenyum-senyum. “Lho bapak kan ga pernah menyakiti mereka, bapak cuma ajak mereka nonton, makan diluar, harusnya mereka berterima kasih dong sama bapak karena udah ditraktir, kok orang tuanya malah marah-marah. Tenang saja, bapak tak bakal menghamili salah satu dari mereka,” tuturnya enteng.

Bukannya mendapat jalan keluar, kami malah menjadi tambah pusing. Kami semua sudah tak bisa berbuat banyak, karena memang tingkahnya itu tak pernah membuat kami repot dalam urusan keuangan, bapak memang masih memiliki tabungan yang sangat cukup dan kami percaya bapak tak akan bertindak lebih jauh saat menggoda para ABG, karena sering kali ia berkata bahwa ia cuma ingin bersenang-senang.

Tetapi, ia “tak cuma ingin bersenang-senang” ketika pada suatu sore suamiku memergoki dia sedang berusaha mengintipku saat aku mandi. Mas Pram, suamiku, berteriak marah mendapati ayahnya yang berjingkat-jingkat menyusuri dapur, dan mencari lubang untuk melepas pandangannya ke tubuhku yang telanjang. Kurangajar!

Sejak saat itu, mertuaku tak diperbolehkan diam di rumahku lagi, tapi hidup di sebuah kontrakan kecil di Semarang Selatan. (Dikirim Fety, di Kelud Raya, Semarang)
Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

1 comment :

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.


Desakundi

[Desakundi][threecolumns]

Pendidikan

[Pendidikan][list]

Ekonomi

[Ekonomi][grids]

Politik

[Politik][bsummary]

Oase

[Oase][threecolumns]