Berita

[Berita][bleft]

Artikel

[Ekonomi][twocolumns]

Marhaban Ya Ramadan

Oleh Dr Abu Rokhmad
Pengajar IAIN Walisongo Semarang

RAMADAN sebentar lagi tiba. Banyak cara diungkapkan umat Nabi Muhammad SAW untuk menyambut bulan suci ini. Kegiatan ruwahan, megengan, Nisfu Sya’ban, nyadran atau nyekar dilakukan pada bulan Sya’ban semata-mata untuk mensucikan diri menyongsong bulan puasa.

Segenap umat patut bersyukur karena dipertemukan kembali dengan bulan yang penuh ampunan dan berkah ini. Sebab, tidak sedikit saudara-saudara kita yang dipanggil Allah SWT lebih dulu sehingga tidak bisa berjumpa dengan bulan penuh rahmat ini. Perjumpaan itu wajib disyukuri, lantaran jika tidak, Ramadan akan datang dan pergi tanpa makna dan manfaat apa pun.

Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa “andai umatku tahu tentang bulan Ramadan, niscaya mereka berharap sepanjang tahun menjadi bulan Ramadan” (law ta’lam ummati ma fi ramadan latamannau an takun al-sanat kulluha ramadan).

Hanya pada bulan ini semua amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya, ketaatan diterima, doa-doa dikabulkan, dan semua dosa akan diampuni. Surga akan sangat merindukan orang-orang yang berpuasa.

Berpuasa sepanjang tahun sangat mustahil dilakukan, namun dengan puasa hanya sebulan di bulan Ramadan pahalanya akan melampaui pahala puasa sepanjang tahun. Ditambah dengan salah satu malam di bulan itu yang nilainya lebih dari seribu bulan (lailatul qadar). Jika dijumlahkan, seribu bulan setara dengan 83 tahun lebih. Bila rata-rata umur manusia adalah 65 tahun, maka sisanya merupakan diposit amal sholeh yang sangat bermanfaat bagi kehidupan di akherat kelak.

Bulan yang penuh berkah dan ampunan selayaknya disambut dengan suka cita. Nabi Muhammad bahkan memberi iming-iming yang menarik: ”Barangsiapa yang dengan senang hati menyambut kehadiran bulan Ramadan, Allah mengharamkan tubuhnya dari jilatan api neraka” (man faraha bi dukhul ramadan harrama Allah jasadah ’ala al-niran).

Kemungkinan memang ada sebagian umat yang grundel saat Ramadan datang. Terutama bagi mereka yang berjualan makanan dan sejenisnya atau yang bekerja di tempat-tempat hiburan. Tidak sepatutnya sikap tersebut dimajukan, sebab bidang-bidang usaha yang mengiringi bulan puasa ini cukup banyak dan seluruhnya menjanjikan keuntungan.

Perasaan senang menyambut datangnya bulan Ramadan adalah sikap yang cukup dapat mengantarkan ia masuk surga. Dikisahkan dalam Dzurrat al-Nasihin (hal 8), seseorang yang tidak pernah sholat sepanjang hidupnya namun saat Ramadan datang ia menyambutnya dengan baju bagus, memakai wewangian, dan mengerjakan sholat. Sikap ini menimbulkan keheranan bagi orang lain: ”mengapa engkau berbuat seperti itu.” Ia menjawab: ”bulan ini adalah bulan taubat, rahmat dan barangkali Allah akan memberikan karunia kepadaku.” Segera setelah itu, ia meninggal dunia. Dalam mimpinya, orang tersebut ditanya: ”bagaimana perlakuan Allah kepadamu?” (ma fa’ala Allah bika). Ia menjawab: ”Tuhanku telah mengampuni dosaku karena aku menghormati keagungan bulan Ramadan” (ghafara li rabbi bi hurmat ta’dhim ramadan).

Kisah ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW, bahwa barangsiapa mendirikan puasa Ramadan dengan iman dan ikhlas, maka dosanya yang telah lalu diampuni oleh Allah SWT (man qama ramadan imanan wa ihtisahaban gufira lahu ma taqaddama min danbih). Kata ”Qama” di sini tidak hanya menjalani ibadah puasa, tapi juga menghidupkan malam harinya dengan ibadah-ibadah tambahan seperti tarawih, tadarus, i’tikaf dan lainnya.

Nasihat Nabi Muhammad
Mengingat keagungan dan keutamaan bulan puasa ini, Rasulullah memberi nasihat kepada segenap umat Islam di akhir bulan Sya’ban dan menjelang bulan Ramadan. Khutbah menyambut bulan puasa ini merupakan bentuk perhatian khusus Rasulullah agar umatnya tidak melalaikan bulan Ramadan.

Dalam khutbahnya, Rasulullah mengingatkan bulan yang agung dan penuh berkah ini. Di dalamnya terdapat satu malam yang nilainya lebih dari seribu bulan (lailat alqadr). Barangsiapa beramal sunah di bulan ini, pahalanya seperti beramal wajib di bulan lain. Barangsiapa (sekali) beramal wajib di bulan ini pahalanya seperti orang yang beramal wajib tujuh puluh kali pada bulan lainnya (man taqarraba fihi bi khaslat kana kaman adda sab’in faridatan fima siwah).

Pada khutbahnya juga disebutkan bahwa Ramadan adalah bulan sabar dan sikap sabar balasannya adalah surga. Bulan ini juga bulan kasih sayang dan bulan di mana rezeki seorang mukmin akan ditambah. Barangsiapa memberi makanan saat berbuka meski hanya seteguk air atau sebiji kurma saja, akan memperoleh ampunan dari Allah atas segala dosanya tanpa mengurangi pahala dari yang berpuasa.

Di akhir khutbahnya, Nabi Muhammad SAW menganjurkan empat hal agar diamalkan sebanyak
mungkin pada bulan Ramadan, yaitu membaca kalimat thayyibah, istighfar, dimasukkan ke dalam surga dan berlindung dari neraka jahanam. Amalan-amalan di atas dapat dilaksanakan tanpa harus menunggu waktu luang. Kapan saja bisa diamalkan sambil tetap menjalankan aktivitas dan pekerjaan sehari-hari.

Persiapan Ramadan
Yahya ibn Mu’adz—seorang ulama zaman dulu—menyatakan bahwa datangnya bulan Ramadan perlu dipersiapkan jauh-jauh hari, yaitu sejak bulan Rajab dan Sya’ban. Dikatakannya bahwa Rajab adalah bulan untuk mensucikan badan, Sya’ban untuk mensucikan hati dan Ramadan untuk mensucikan ruh. Jika seseorang sudah membersihkan badannya pada bulan Rajab, dan mensucikan hatinya pada bulan Sya’ban maka ia akan memperoleh kesucian rohani pada bulan Ramadan.

Sebaliknya, bila bulan Rajab dan Sya’ban berlalu begitu saja tanpa ada penyujian fisik dan hati, maka Ramadan kurang optimal sebagai madrasah rohaniah. Oleh karena itu, bulan Rajab sebenarnya bulan meminta ampunan dari segala dosa, Sya’ban adalah bulan penyucian hati dari semua cacat dan Ramadan adalah bulan untuk mencahayakan hati. Di bulan Rajab dan Sya’ban ini, Rasulullah mensunnatkan puasa sebagai pemanasan untuk menjalankan puasa pada bulan berikutnya.

Pendapat ulama di atas ditangkap secara apik oleh orang Jawa yang mengawali penyambutan bulan Ramadan dengan ritual ruwahan, seperti nyadran, misalnya. Nyadran dalam tradisi Islam pesisir dilakukan pada bulan Ruwah atau Sya’ban sebagai ritual menghadapi puasa Ramadan. Nyadran sendiri awalnya dipengaruhi ajaran Hindu dan Budha namun di tangan komunitas Islam tradisi tersebut dimuati nilainilai Islam yang kental. Di lapangan nyadran tak ubahnya seperti ziarah kubur dalam tradisi Islam dan pembuatan makanan untuk orang lain sebagai cermin sedekah. Ziarah dan sedekah adalah simbol penyucian hati dan badan, seperti pendapat
Yahya Ibn Mu’adz di atas.

Ada dua hal penting yang perlu dipersiapkan menyambut bulan Ramadan, yaitu persiapan fisik dan hati. Persiapan fisik meliputi sarana dan prasana apa saja yang dibutuhkan untuk menyempurnakan pelaksanaan ibadah puasa. Bisa jadi tempat-tempat ibadah (masjid dan mushola) dipercantik penampilannya dan dilengkapi fasilitasnya. Menyangkut kebutuhan keluarga, juga dipersiapkan sedemikian rupa sehingga menambah ketenangan saat menjalankan ibadah. Merancang kegiatan selama bulan Ramadan seperti tarawih dan tadarus bersama, menggelar acara anak-anak untuk menyambut dan mengisi (pesantren kilat—misalnya) bulan suci juga menjadi bagian persiapan fisik ini.

Yang tidak kalah penting dan utama adalah persiapan batin. Hakekat puasa adalah ibadah yang melatih diri seseorang untuk jujur, ikhlas, sabar dan mengendalikan diri. Begitu keluar dari rumah, tidak banyak orang yang tahu apakah ia masih berpuasa atau sudah batal saat pulang. Begitu pula dalam menjalani aktivitas sehar-hari, mungkin ia tidak mampu atau tergoda melakukan hal-hal yang dapat mengurangi pahala puasa, seperti berdusta, memfitnah atau banyak bicara yang tidak perlu dan lain sebagainya. Jujur, ikhlas, sabar, dan mengendalikan diri adalah beberapa pesan moral yang wajib yang dilaksanakan mengiringi ibadah puasa.

Seseorang yang tidak mampu mewujudkan pesan moral di atas, boleh jadi ia masuk kategori, seperti sinyalemen Rasulullah SAW: ”banyak sekali orang yang berpuasa tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja.” Sesungguhnya cara terbaik menyambut hadirnya bulan Ramadan adalah meninggalkan seluruh perbuatan maksiat dan memperbanyak taat dan beribadah kepada Allah SWT. Marhaban ya Ramadan. Semoga kita diberi kekuatan untuk menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh. ***

Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.


Desakundi

[Desakundi][threecolumns]

Pendidikan

[Pendidikan][list]

Ekonomi

[Ekonomi][grids]

Politik

[Politik][bsummary]

Oase

[Oase][threecolumns]
Create gif animations. Loogix.com. Animated avatars. Animated avatar. Motley Animated avatar. Gif animator. Animated avatar. Gif animator. Zoom Gif animator. Motley Create gif animations. Zoom Animated avatar. Movie Create gif animations. Gif animator. Zoom Animated avatar. Loogix.com. Animated avatars. Negative Animated avatar. Zoom Rumah Zakat Animated avatar. Negative Babyface, Harian Semarang liquid executive club, tonitok rendezvous