Berita

[Berita][bleft]

Artikel

[Ekonomi][twocolumns]

Puasa, Konsumsi Bertambah?

Oleh H Taslim Syahlan
Sekretaris Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI Jateng

ASSALAMUALAIKUM, Marhaban Ya Ramadhan. Ahlan wa syahlan ya syahral mubarok.

Para pembaca yang semoga dimuliakan Allah. Ketika bulan Ramadan tiba, semua orang mengatakan bulan suci ini adalah bulan penuh berkah. Berkahnya sangat melimpah.

Sepintas kita memaklumi, berkah yang dimaksud adalah amal kita, ibadah kita, dan semua aktivitas kita sehari-hari mendapat pahala. Mendapat kebaikan dari Gusti Allah Ta’ala. Karena diniati ibadah dan dilaksanakan sambil berpuasa. Sebagai kewajiban umat beriman.

Memang berkah atau berkat yang berasal dari kata barokah berarti bertambahnya kebaikan (ziyadatul khoir). Sehingga setelah berpuasa sebulan badan kita jadi sehat atau lebih sehat, emosi kita jadi terkendali, semangat kita meningkat, moral kita menuju mulia, dan seterusnya.

Namun ternyata yang terjadi tidak mesti demikian. Berkah justru bersifat material dan sangat dekat dengan aroma kapitalisme. Buktinya, konsumsi masyarakat meningkat belipat-lipat. Yang biasanya tidak ada lantas diada-adakan. Seperti kolak, cocktail, sup buah, kurma dan seterusnya. Jajanan di rumah juga semakin banyak jenisnya. Belum lagi saat mendekati Lebaran. Apa-apa mesti baru. Baju, sepatu, peci, sarung, celana, maunya serba baru. Perabot rumah, perangkat elektronik, juga diganti. Apalagi soal konsumsi pulsa ponsel, hampir tak terkontrol pengeluarannya.

Tentu saja, para pedagang atau produsen yang pasti komersial, mengeruk keuntungan sangat besar. Jadi, mengapa puasa bukan menjadikan orang hemat tapi justru pemborosan?

Memang, peningkatan konsumsi wajar sebagai gejala budaya. Orang mengatakan, berpuasa telah menahan diri, maka menu berbuka mesti yang istimewa. Lebaran adalah ajang silaturahim, maka harus tampil sempurna. Ada pula argumen, itu adalah hadiah bagi yang telah menjalankan ibadah. Jadi, perlu makan yang enak, nyandang yang apik, komunikasi harus lancar dan seterusnya.

Tapi jika dilihat dari maksud disyariatkannya puasa, hal itu tampak kurang sinkron. Sebab apa, puasa mengajarkan agar orang melatih lapar dan dahaga. Agar bersyukur atas nikmat Allah yang tela diberikan. Mestinya berupaya mengurangi porsi, agar tidak serakah. Tidak kemaruk menuruti nafsu mulut yang ingin selalu makan. Yang berperut buncit diharapkan bisa mengecilkan dengan ”program diet” berbingkai ibadah tersebut. Selanjutnya bias mengendalikan nafsi dan emosi. Sabar dan qona’ah.

Marilah kita ingat kisah dalam sebuah hadis. Pada suatu hari Nabi Muhammad didatangi seorang sahabatnya. Si sahabat meminta solusi atas lapar perutnya yang telah satu hari tidak makan. Dia tunjukkan perutnya telah diganjal sebutir batu kepada Rasulullah.

Namun ternyata Nabi juga membuka bajunya. Ditunjukkan kepada si sahabat, ada tiga batu mengganjal sabuk beliau. Ternyata pemimpin yang dia minta mencarikan makanan malah tidak makan tiga hari. Nah!.

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah. Marikah kita syukuri rezeki yang telah kita peroleh. Mari kita jadikan siyam ini sebagai kesempatan mengurangi porsi menuruti keinginan materialis kita. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang bertaqwa. Wassalam. ***

Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.


Desakundi

[Desakundi][threecolumns]

Pendidikan

[Pendidikan][list]

Ekonomi

[Ekonomi][grids]

Politik

[Politik][bsummary]

Oase

[Oase][threecolumns]
Create gif animations. Loogix.com. Animated avatars. Animated avatar. Motley Animated avatar. Gif animator. Animated avatar. Gif animator. Zoom Gif animator. Motley Create gif animations. Zoom Animated avatar. Movie Create gif animations. Gif animator. Zoom Animated avatar. Loogix.com. Animated avatars. Negative Animated avatar. Zoom Rumah Zakat Animated avatar. Negative Babyface, Harian Semarang liquid executive club, tonitok rendezvous