Berita

[Berita][bleft]

Artikel

[Ekonomi][twocolumns]

Mercon Meledak di Demak, 4 Tubuh Hancur, 3 Rumah Remuk


AWAN kelabu mengurung Sayung, Minggu malam lalu. Ledakan mercon meremukkan tiga rumah dan empat tubuh manusia.

Malam di Desa Bulusari, Sayung, Demak, Minggu (30/10) lalu, bergulir seperti biasa. Gerimis tipis tak mengisyaratkan apa-apa. Hingga kemudian mendadak terdengar dentuman dahsyat mirip bom di kancah perang.

Ledakan berkekuatan tinggi, tentu saja. Datangnya dari sebuah rumah yang kemudian hancur berkeping-keping sesaat setelah bunyi ledakan. Suara dentuman sampai ke radius 1 km, bahkan getarannya hingga 100 meter ke segala penjuru mata angin. Bukan hanya meremuk rumah, organ tubuh orang-orang berterbangan hingga ke atap genting rumah warga.

Dari rumah siapa sumber ledakan hebat tersebut bermula? Tak lain dua rumah milik Abdul Rohim (30) di RT 04/RW 02 Dukuh Penjor, Desa Bulusari. Rumah-rumah tersebut adalah tempat memproduksi petasan.

Ledakan kencang yang terjadi sekitar pukul 19.45 ini seketika menewaskan empat orang, yaitu Romadhon (22), Kamandanu alias Nunuk Pradewo (45), Mashuri (23), Irafatul Ibad (30). Serta dua orang luka-luka, istri Kamandanu, Munandiroh (28), dan anaknya, Eka Mahfuroh (8) yang hingga tadi malam masih mendapat perawatan serius di RSUD Sunan Kalijaga.

Posisi korban meninggal tidak jauh dari reruntuhan bangunan rumah Abdul Rohim. Hanya jasad hitam dan menghangus yang paling dikenali sebagai Romadhon, adik ipar Rokhim. Selebihnya adalah ceceran daging organ jenazah Kamandanu, Mashuri, dan Irafatul, dengan kaki dan tangan putus dan kepala tak berbentuk lagi. Ceceran bekas organ tubuh itu tergeletak di atas triplek putih di antara tumpukan bambu.

Khusus jenazah Irafatul, kemarin pagi baru ditemukan polisi dengan kondisi tubuh yang juga remuk tertimbun di reruntuhan bangunan. Sama halnya dengan korban tewas lainnya, peracik petasan ini juga ditemukan dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Polisi cukup kesulitan melakukan evakuasi, karena kondisi tubuh korban sudah bercerai-berai. Bagian-bagian organ tubuh mereka berhamburan dan menempel di puing-pung bangunan akibat ledakan.

Kepolisian Resor Demak meminta warga setempat yang merasa kehilangan sanak saudara segera melapor, sebab diduga masih ada korban lain yang tertimbun di reruntuhan rumah tersebut.

Untuk memudahkan proses evakuasi korban, kemarin siang polisi membongkar bangkai rumah peracik petasan Pembongkaran tersebut dilakukan dengan menggunakan alat berat.

Aparat Kepolisian gabungan dari Polres Demak, Polda Jateng, dan tim Inafis berulangkali mengusir warga yang berdesakan menyaksikan proses evakuai ini sehingga membuat kewalahan petugas. Melalui alat pengeras suara, beberapa kali petugas meminta orang-orang yang tidak berkepentingan meninggalkan lokasi kejadian.

Petugas kepolisian juga melarang para warga yang berada di dekat lokasi ledakan untuk tidak merokok karena dikhawatirkan bisa mengakibatkan ledakan susulan karena sebagian bahan petasan ada yang tidak ikut meledak.


Perang Petasan
Ledakan hebat tersebut tentu saja membuat panik warga. “Kami panik mendengar ledakan dan bumi bergoyang seperti gempa,’’ kata Suyudi, warga sekitar. Disebabkan panik luar biasa, sebagian warga memilih menunggu kabar apa yang sebenarnya terjadi. Namun sebagian lagi memberanikan diri mendatangi sumber suara.

Kemudian tampaklah di depan mata mereka tiga rumah roboh berantakan, satu rusak berat, bangun mushola sebagian hancur, dan genting rumah Murtado jebol. Karena gelap, hanya dengan lampu seadanya warga bersama polisi dan anggota Kodim 0716 Demak menyisir lokasi, mencari korban di antara reruntuhan rumah.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa dilakukan peracikan mercon secara besar-besaran? Menurut warga Bulusari, setiap malam Idul Adha selalu tergelar tradisi perang petasan. Ledakan terjadi diduga karena salah meracik adonan saat mereka merakit petasan.

Kepada Harsem Kades Bulusari Mashudi mengakui, di lingkungannya memang sering dilakukan perang petasan. Tetapi pihaknya tidak bisa melarang aksi warga karena hal ini sudah menjadi tradisi. "Namun saya tidak pernah memberi izin warga merakit petasan untuk malam Idul Adha," akunya.

Menurut Direskrimum Polda Jateng Kombes Pol Bambang Rudi Supratikyo, ledakan terjadi akibat kecelakaan pembuatan petasan oleh korban tanpa izin. "Bahan dasar petasan adalah serbuk alumunium, amunium fosfat, potassium, dan serbuk campuran. Bahan itu dijual bebas dan korban sudah mempelajari (adonannya)," jelasnya di lokasi,  kemarin. Bila bahan baku mercon yang meledak dalam jumlah banyak, maka efeknya berkekuatan tinggi (high explosiv).

Hingga kemarin sore, petugas yang melakukan penelusuran dibantu warga telah menemukan hampir semua tubuh korban, meski ada kemungkinan korban lain yang tertimbun rereuntuhan. Polisi menyita racikan obat petasan 12 sak (25 kg), selongsong petasan, potongan kertas, gamping bubuk, potasium , garam 3 ember, besi, pipa paralon, untuk proses penyidikan. 
 
Sementara Kapolres Demak AKBP Sigit Widodo melalui Kasubag Humas Polres Demak AKP Sutomo mengimbau warga agar menghentikan tradisi perang petasan. Sudah banyak korban jiwa atau cacat tubuh akibat ledakan mercon. (swi/rif)

Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.


Desakundi

[Desakundi][threecolumns]

Pendidikan

[Pendidikan][list]

Ekonomi

[Ekonomi][grids]

Politik

[Politik][bsummary]

Oase

[Oase][threecolumns]