Berita

[Berita][bleft]

Artikel

[Ekonomi][twocolumns]

Wouw…Pacarku Terlalu Agresif


Dalamnya lautan bisa diukur, dalamnya hati siapa yang tahu. Tingginya gunung bisa didaki, tingginya birahi siapa yang ngerti?

BEGITU peribahasa yang cocok untuk menggambarkan kisah romantika anak muda yang satu ini. Fendi (21) dan Nora (20), keduanya nama samaran, adalah teman sekampus di sebuah perguruan tinggi di Semarang. Keduanya berpacaran sejak semester I.
    
Cerita bermula dari intensitas pertemuan mereka yang banyak dalam aktivitas organisasi maupun UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa). Fendi dan Nora saling tertarik karena seringnya bersua. Seperti kata orang tua, witing trisna jalaran sangka kulina. Cinta bersemi karena terbiasa berjumpa.
    
Fendi dan Nora sering menonton bioskop maupun makan bersama di restoran. Berwisata bareng teman-teman maupun pergi berdua kerap mereka lakukan. Sampai sebatas itu, pacaran mereka masih wajar-wajar saja. Tak terlampau buruk keluar dari norma susila. Apalagi Fendi punya budi pekerti baik. Dia jalani masa pacaran itu sebagai pintu menuju perkawinan. Ya. Fendi memang serius mencintai Nora, yang dia hormati karena ayahnya salah satu dosen di kampusnya.
    
Jadi, selain dia memang berpikiran baik, juga ditambah rasa syukurnya “dapat” anak dosen. Baginya, hal itu menambah semangat belajar agar mendapat nilai baik yang patut dia banggakan.
    
Hal sebaliknya ada pada Nora. Cintanya yang “buta” terhadap Fendi, membuatnya selalu ingin lengket dengan kekasihnya. Tak bisa sehari pun dia berpisah dengan sang pujaan. Bukannya ikut sregep sinau,  Nora justru pinginnya pacaran melulu. SMS dan teleponnya selalu mengajak Fendi ber-indehoy di mana saja. Maunya mesraaaaa kapan saja.
    
Entah karena godaan setan atau nafsu yang telah  merasuki pikiran, pada suatu malam, Nora menubruk Fendi di kamar kosnya yang kebetulan sedang sepi.  Fendi yang tak menyangka “diserang” begitu rupa, kaget bukan kepalang. Tak habis pikir Nora berani mengajaknya berhubungan badan. Spontan dia hardik Nora yang telah membuka kerudung dan menyingkap roknya di lantai karpet itu.

“Karepmu piye? Njur ngopo nek wis ngene?” bentak Fendi sambil mendelik.
Diusirlah Nora malam itu juga. Fendi menyatakan putus hubungan dengan Nora yang bertolak belakang dari penilaiannya selama ini.
Begitulah Fendi. Dia tolak ajakan mesum dari sang pacar. Sejak itu, dia ngeres otaknya jika melihat Nora. Membayangkan cewek “terhormat” itu berbuat mesum dengan cowok lain. Dia berpikiran begitu karena mengetahui, Nora berganti pacar tak lama setelah diputus olehnya. Terlebih rupa si pacar baru mirip dengannya.

“Ya ampun, Gusti. Selamatkanlah hamba dari perbuatan terkutuk itu. Selamatkanlah Nora dari nafsu syahwatnya yang tinggi,” ratap Fendi mencoba instropeksi. (ichwan)

Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.


Desakundi

[Desakundi][threecolumns]

Pendidikan

[Pendidikan][list]

Ekonomi

[Ekonomi][grids]

Politik

[Politik][bsummary]

Oase

[Oase][threecolumns]