Home » , , , , » Sebelum Dibunuh di Hotel Kenanga Indah, Wulan Berulangkali Ciumi Ibunya

Sebelum Dibunuh di Hotel Kenanga Indah, Wulan Berulangkali Ciumi Ibunya

Written By Sena on Senin, 28 Mei 2012 | 13.51




 FOTO KENANGAN: Sulasi dan Umiyati memegang foto Tri Wulandari, korban pembunuhan di Hotel Kenang Indah, Bandungan.HARSEM/NINO ADISUMARTO

UNGARAN- Siang hari, sebelum dibunuh di Hotel Kenanga Indah, Wulan minta minyak wangi pada ibunya. Dan berulangkali mencium ibunya. 

Kepergian Tri Wulandari (16) secara tragis sebagai korban pembunuhan di kamar 4c Hotel Kenanga Indah, Bandungan telah menyiratkan duka mendalam bagi pasangan Sulasi (56) dan Umiyati (44), orangtua korban yang tinggal di Desa Boto, Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang.
Keduanya sulit menerima kenyataan, putri ketiga dari empat bersaudara tersebut pergi begitu cepat. Betapa tidak, terakhir bersama sang ibu, Sabtu (19/5) Wulan pergi ke SMK PGRI Salatiga untuk membayar uang pangkal. "Kebetulan Wulan sudah mendaftar dan diterima di sekolah tersebut," tutur Umiyati.

Dikisahkan, hari itu usai membayar uang pangkal ke SMK PGRI Wulan mengajak sang ibu ke pasar minta dibelikan minyak wangi. Gelagat aneh lainnya, menurut Umiyati, Wulan juga berulang kali mencium dirinya. Hal itu dilakukan saat keduanya naik becak dari pasar menuju terminal. "Tadinya mau saya belikan sepatu, tapi Wulan malah minta minyak wangi, dan ia mencium saya berulang kali. Saya tidak menduga kalau itu sebuah firasat perpisahan," ucap Umiyati lagi.

Sampainya di rumah, sekitar pukul 13.00, lanjut Umiyati, korban berpamitan menjahitkan baju seragam di Pak Kodri dengan mengendarai Yamaha Mio H 2491 NC. Keterangan dari penjahit, saat melakukan ukur baju korban terlihat tergesa-gesa setelah menerima telepon dari seseorang. 
Dari situlah kemudian korban tidak pulang ke rumah. Pihak keluarga yang sudah melakukan pencarian nihil hasilnya. 

Periang
Puncaknya, orangtua korban mendapat informasi dari polisi, dan malam itu juga mengecek kebenarannya di RS Bhayangkara, Semarang. "Ternyata benar, putri saya telah menjadi korban pembunuhan. Minggunya jenazah Wulan langsung kami ambil dan dimakamkan," papar Kepala Desa Boto, Sjaichul Hadi.

Saat kejadian, ayah korban sedang tidak berada di rumah, karena bekerja di Jakarta. "Saya baru tahu setelah ditelepon polisi kalau keluarga saya sedang terkena musibah," ucap Sulasi.
"Wulan adalah sosok pribadi yang baik, bersahabat dan periang. Tapi selama ini ia tidak pernah cerita apapun soal teman cowok atau pacarnya. Dia pernah mengutarakan kalau cita-citanya menjadi ahli desain grafis. Kami sangat kehilangan," imbuh teman korban, Lisa Novi (15) berkaca-kaca.

"Saya tidak tahu kenapa anak saya harus dibunuh. Wulan adalah anak rumahan yang jarang pergi-pergi. Bahkan ia tidak pernah cerita soal hubungannya dengan lelaki. Musibah ini benar-benar menyesakkan dan sulit dipercaya. Saat ini kami hanya bisa berdoa agar kasusnya bisa segera terungkap, dan pelakunya ditangkap dan dihukum setimpal dengan perbuatannya menghilangkan nyawa putri kami," kata Umiyati.

Saat berkunjung di rumah duka, kemarin, rumah korban masih ramai didatangi kerabat, tetangga, sejumlah guru dan teman-teman sekolah Wulan, yang datang untuk menyampaikan bela sungkawa. (ino/15)


Share this article :

Poskan Komentar

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. HARIAN SEMARANG - Semarang Banget - All Rights Reserved
Template Created by Mas Fatoni Published by Tonitok
Proudly powered by Blogger