Berita

[Berita][bleft]

Artikel

[Ekonomi][twocolumns]

Tikus Serang Padi, Petani Rugi 1,5 M

Petani di Desa Kebondowo melakukan gropyok tikus dengan menggunakan media jaring, Minggu (3/2).
 SM/RANIN AGUNG-SM NETWORK
UNGARAN-Hama tikus merajalela di Desa Kebondowo, Banyubiru, Kabupaten Semarang. Ratusan petani mengalami kerugian besar. Tikus susah diberantas karena bersembunyi di eceng gondok.

JIKA dihitung, 1 hektar rata-rata menghasilkan 8 ton gabah. Dengan luasan padi di desa tersebut sekitar 60 hektar, maka sekali panen bisa menghasilkan gabah 480 ton. Jika harga gabah di tingkat petani Rp 3.400/kilogram maka kerugian akibat tikus mencapai Rp 1,5 miliar.

Diungkapkan Damanhuri (45), Ketua Ketua Kelompok Tani Tri Marga Banyubiru, dirinya bersama petani lainnya mengaku kesulitan memberantas hama tikus. Mengingat tikus berlindung di tanaman enceng gondok yang tumbuh di Rawa Pening.

"Hasil panen tidak sesuai dengan harapan petani pasalnya semuanya gagal karena tikus. Umumnya hama tikus menyerang secara bersamaan dan menghabiskan tanaman padi hingga gabah,” katanya di sela gropyokan tikus, kemarin.

“Tikus susah diberantas karena berlindung di enceng gondok di Rawa Pening," imbuhnya.

Padahal, lanjut dia, mayoritas petani dituntut untuk mengembalikan uang pinjaman bank. Atas serangan tikus yang merugikan petani, pihaknya berharap Pemkab Semarang melakukan langkah trobosan pengendalian hama.

Kepedulian Pemerintah
Senada dengan Damanhuri, Rabun (52) ketua kelompok tani Ngudi Mulya memaparkan, selain hama tikus pada lahan pertanian yang memanjang dari Bukit Cinta hingga Desa Kebondowo juga dijumpai hama wereng, busuk mare, dan keong mas.

Terlepas dari itu menurut Rabun, Pemkab Semarang melalui dinas terkait sudah melakukan droping obat. Hanya saja, keberadaaan obat tidak bisa diandalkan untuk mengurangi populasi tikus yang semakin hari semakin bertambah.

"Kepedulian pemerintah kami rasa masih kurang. Jika enceng gondok masih banyak ditemui di Rawa Pening maka lahan pertanian kami dapat dipastikan akan diserang tikus pada musim penghujan seperti sekarang," paparnya.

Dari data kelompok tani, selama melakukan gropyokan tikus dengan menggunakan media jaring selama dua jam petani memperoleh tikus 1.500 ekor. "Media jaring lebih efektif dibanding mercon asap. Namun untuk menerapkannya butuh kekompakan," tuturnya.

Ditemui terpisah, Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunbut) Kabupaten Semarang, Urip Triyogo mengatakan, Pemkab Semarang sudah melayangkan surat kepada Kementerian Pertanian dan Kementerian Lingkungan Hidup RI terkait enceng gondok yang dijadikan sarang tikus.

"Kami sudah melakukan droping obat serta mengajak kelompok tani melakukan gropyokan. Hanya saja, pemberantasan massal butuh biaya besar," tandas Urip Triyogo. (H86-SM Network/nji)
Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.


Desakundi

[Desakundi][threecolumns]

Pendidikan

[Pendidikan][list]

Ekonomi

[Ekonomi][grids]

Politik

[Politik][bsummary]

Oase

[Oase][threecolumns]