Berita

[Berita][bleft]

Artikel

[Ekonomi][twocolumns]

Industri Tekstil Jadi Unggulan

Deputy president director PT Sritex Iwan Kurniawan Lukminto mendampingi  Menteri PPN/Kepala
 BAPPENAS Dr Armida Salsiah Alisjahbana saat berkeliling di pabrik tekstil yang berlokasi di
 Sukoharjo (SM/Langgeng Widodo)
SOLO- Tekstil menjadi salah satu industri unggulan nasional master plan perecepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia (MP3I) pada pembangunan infrastruktur dan pengembangan wilayah dalam RPJMN 2015-2019.

Oleh karena, pemerintah sangat sangat mengapresiasi dan menghargai segala upaya yang dilakukan pelaku industri tekstil, termasuk yang dilakukan PT Sri Rejeki Isman (Sritex). Menteri PPN/Kepala Bappenas Dr Armida Salsiah Alisjahbana mengatakan hal itu ketika berkunjung di PT Sritex, Sukoharjo, belum lama ini.

Dikatakannya, “Belajar dari apa yang terjadi di Cina dan India tentunya kita terus mendorong agar tercipta kepastian bagi para pelaku usaha.”

Menurut dia, industri garmen yang padat karya sudah barang tentu sangat bergantung terhadap kepastian. Sebagai misal kenaikan UMR, apakah tahun depan akan ada kenaikan yang sama atau bagaimana, termasuk besaran kenaikan inilah yang menjadi harapan kepastian dari para investor/pengusaha untuk berhitung. Bila kenaikan UMR itu tidak masuk hitungan, tentu saja pabrik akan direlokasi, apakah relokasi itu ke daerah lain atau ke luar negeri.

Lebih lanjut Armida mengatakan, Jawa Tengah akan menjadi sasaran alternatif relokasi untuk industri khususnya yang padat karya. Untuk itu, diharapkan Pemprov setempat tanggap dalam mengantisipasi rencana relokasi itu. Infrastruktur, sarana prasarana, dan sistem terpola secara menyeluruh dan terintegrasi serta menguntungkan bagi semua pihak harus disediakan.

Sementara itu, Deputy President Director PT Sritex Iwan Kurniawan Lukminto menyampaikan, saat ini basis industri tekstil global telah mengalami pergeseran. Banyak industri tekstil di Cina melakukan relokasi karena masalah tingginya upah tenaga kerja. Demikian juga dengan di India yang mengalami kecenderungan stagnan.

Sedang Vietnam, Kamboja, dan Bangladesh yang saat ini menjadi rising country di industri tekstil dan garmen masih mempunyai kelemahan. Industri tekstil keempat negara itu tidak sekuat Indonesia. Infrastruktur dan tenaga kerja murahlah yang selama ini menjadi dorongan negara-negara tersebut dalam mengembangkan industri tekstil.

Nah, kondisi seperti itu mestinya menjadi momentum bagi pemerintah Indonesia untuk mendorong industri nasional ager lebih maju. Sebab, industri tekstil adalah salah satu komoditi andalan manufaktur dan menjadi motor penggerak pembangunan ekonomi nasional. Kontribusi industri tekstil cukup signifikan dalam perolehan devisa ekspor, penyerapan tenaga kerja dan peranannya sangat strategis dalam proses industrialisasi.

Hingga kini, “Sektor industri tekstil nasional mampu menyumbang 7 persen dari total ekspor nonmigas. Dari sisi penyerapan tenaga kerja, industri tekstil cukup besar,” tandas Iwan. (G8-SMNetwork/yul)
Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.


Desakundi

[Desakundi][threecolumns]

Pendidikan

[Pendidikan][list]

Ekonomi

[Ekonomi][grids]

Politik

[Politik][bsummary]

Oase

[Oase][threecolumns]