Berita

[Berita][bleft]

Artikel

[Ekonomi][twocolumns]

Mokah

Catatan Moh Ichwan
Wartawan Harsem

MUNGKIN di antara kita pernah melakoni perbuatan ini, mokel atau mokah. Yaitu membatalkan puasa dengan sengaja. Belum waktunya maghrib sudah makan atau minum. Atau bahkan jimak dengan istri/suami. Hehehe...

Saat kita kecil dulu, karena baru latihan berpuasa, biasanya merengek kepada ibu untuk diizinkan berbuka sebelum Maghrib. Kalau makan saat adzan Dhuhur disebut puasa bedug. Jika minta makan saat ashar, maka disebut poso ashar.

Yang lebih dini dari dhuhur, biasa diolok dengan sebutan poso sungan, nek lesu mangan. Alias ikut sahur, berniat puasa, tapi begitu perut terasa lapar langsung makan. Dasar anak-anak.

Sering pula kita tak minta izin kepada ibu. Yakni diam-diam mengambil makanan di lemari dapur. Atau pergi ke warung dan jajan. Setelah perut kenyang lalu tidur atau pura-pura tidur untuk menutupi kalau sudah mokah.

Saat ibu dan bapak serta saudara-saudara berbuka di waktu Maghrib, kita ikut-ikutan berbuka. Seolah telah puasa penuh. Hehe. Puasa kok bohong-bohongan. Itulah dinamika menjalankan syariat agama. Ada prosesnya.

Jika memang belum kuat, tak apa mokah. Sambil terus dimotivasi agar besok lebih tahan. Meningkat sedikit demi sedikit. Dari Dhuhur, ke ashar. Lalu Maghrib.

Gusti Allah sendiri memberi dispensasi dalam keadaan tertentu. Yaitu bagi orang jompo, orang sakit, dan yang sedang payah dalam perjalanan. Kepada mereka dibolehkah mokah. Bahkan boleh tidak berpuasa. Tapi harus diganti di hari lain di luar Ramadan, atau dengan membayar denda yang disebut fidyah. Yaitu memberi makan orang miskin sejumlah hari mokah-nya (QS Al-Baqarah: 184-185). Sebab Allah memang tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (QS Al-Baqarah: 286).

Mokel bisa pula menjadi ukuran keseriusan seseorang dalam berpuasa. Yang berarti ukuran keimanannya pula. Saat anak-anak memang berat menahan lapar dan dahaga. Tapi ketika remaja atau menjelang dewasa, godaannya tak lagi menahan perut dan mulut. Melainkan nafsu syahwat.

Tengok saja cerita pengalaman anak-anak SMP dan SMA yang ditulis di blog atau yang disurvei dan dimuat di media massa. Banyak di antara mereka tak tahan menggandeng atau bahkan mencium pacarnya ketika sedang berpuasa.

Karena telanjur berjumpa, terlebih rasa rindu telah mendera, mereka mengaku spontan berciuman. Bukan cipika-cipiki, tapi ”adu mulut” alias ciuman bibir. Tentu saja puasanya batal, karena terjadi pertukaran air liur. Mulutnya kemasukan sesuatu dan bahkan tertelan.

Banyak di antara mereka mengaku mokel dulu sebelum berciuman. Toh sudah jelas mau batal puasanya. Sekalian nanti minta ampun dan menggantinya di hari lain. Hihi. Lha, kalau kebablasan sampai berhubungan badan bagaimana?

Ini bukan gosip. Selusuri saja tempat-tempat wisata sepi semacam Candi Gedongsongo, Bandungan, lembah Tembalang, Hutan Penggaron, atau Pantai Tanjung Mas Baruna atau Pantai Marina. Pagi hari usai Subuh atau sore hari, Anda bisa mendapatkan pemandangan yang ”mengerikan.”

Sepasang muda-mudi saling mendekap. Badan bersatu, bibir berpagutan. Tanya saja satpam, bakul jajan, atau wong ngarit di tempattempat tersebut. Hampir pasti mereka akan bilang sering melihat adegan mesum di bulan puasa. Astaghfirullah. Jangan rekam dengan kamera jika Anda tak ingin dipenjara atas tuduhan pelanggaran UU Antipornografi.

Lha, kalau suami dan istri yang sah dan halal saja dilarang jimak pada siang hari di bulan Ramadan, bagaimana dengan yang berzina saat berpuasa? Yang halal saja terkena kafarot (denda berat), yakni satu kali jimak harus diganti puasa 60 hari berturut-turut. Jika gagal di tengah harus diulang dari awal. Atau memberi makan 60 orang miskin dengan menu standar pelakunya. Lalu, hukuman apa yang pantas untuk para pelaku mokah dengan zina? Sedangkan zina di luar puasa saja di-had (dihukum dengan sanksi jelas) berupa cambuk 80 kali bagi bujangan dan rajam bagi yang telah berkeluarga.

Naudzubillahi min dzalik. Setan jelas-jelas dibelenggu selama bulan puasa. Itu berarti dosa mereka murni dari nafsu. Tak boleh mengambinghitamkan setan sebagai penggoda. Semoga kita dan keluarga kita dilindungi Allah dari dosa besar terkutuk tersebut. Semoga kita semua mendapat ampunan dan rahmat-Nya. Selamat berbuka puasa. Selamat menahan diri dari keinginan mokel. Amin.***
Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

1 comment :

  1. saya sangat berterima kasih banyak MBAH RAWA GUMPALA atas bantuan pesugihan dana ghaib nya kini kehidupan kami sekeluarga sudah jauh lebih baik dari sebelumnya,ternyata apa yang tertulis didalam blok MBAH RAWA GUMPALA itu semuanya benar benar terbukti dan saya adalah salah satunya orang yang sudah membuktikannya sendiri,usaha yang dulunya bangkrut kini alhamdulillah sekaran sudah mulai bangkit lagi itu semua berkat bantuan beliau,saya tidak pernah menyangka kalau saya sudah bisa sesukses ini dan kami sekeluarga tidak akan pernah melupakan kebaikan MBAH,,bagi anda yang ingin dibantu sama MBAH RAWA GUMPALA silahkan hubungi MBAH di 085 316 106 111 insya allah beliau akan membantu anda dengan senang hati,pesugihan ini tanpa resiko apapun dan untuk lebih jelasnya buka saja blok mbah PESUGIHAN DANA GHAIB TANPA TUMBAL

    ReplyDelete

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.


Desakundi

[Desakundi][threecolumns]

Pendidikan

[Pendidikan][list]

Ekonomi

[Ekonomi][grids]

Politik

[Politik][bsummary]

Oase

[Oase][threecolumns]