Qola-Khotoan
Catatan Moh IchwanWartawan Harsem
SETIAP Bulan Ramadan, ada yang pasti muncul di sore hari jelang berbuka puasa. Apalagi kalau bukan sajian menu makanan ringan khas yang biasa disebut takjilan.
Yang tak pernah kelewatan adalah kolak dan kurma. Kalau di desa biasanya kolak, ketan, dan apem. Itu merupakan makanan simbolis yang dikenalkan Walisongo ketika berdakwah di Jawa dan Nusantara.
Semua makanan itu manis-manis. Semanis maksudnya, semanis kandungan karbohidratnya yang tepat secara medis untuk mengembalikan energi setelah seharian berpuasa. Sebagaimana anjuran Rasulullah SAW.
Kolak berasal dari qola yang artinya berkata atau mengatakan; ketan berasal dari khotoan yang berarti kesalahan/kekhilafan. Sedangkan apem asalnya áfwan yang bermakna maafkan atau memaafkan. Sehingga kombinasi tiga makanan itu mengandung maksud mengatakan salah dan meminta maaf. Artinya, orang yang memberi makanan itu sesungguhnya menyatakan pernah berbuat salah dan memohon dimaafkan.
Landasan syariatnya, sebuah hadis yang artinya: ”Ya-Allah, Jangan terima puasanya anak yang belum meminta maaf kepada orangtuanya, suami/istri, dan tetangga-tetangganya.” Doa malaikat Jibril yang diaminkan oleh Rasulullah. [Hadits Riwayat Bazzar dalam Majma’uz Zawaid
10/1675-166, Hakim 4/153 dishahihkannya dan disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi dari Ka’ab bin Ujrah, diriwayatkan juga oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 644 (Shahih Al-Adabul Mufrad No. 500 dari Jabir bin Abdillah)] Sungguh, betapa hebat dakwah para wali zaman dulu. Untuk mengajarkan ketinggian nilai syariat Islam, mereka tidak langsung membacakan ayat berbahasa Arab. Justru kalimat Arab dijadikan perlambang untuk menamai benda yang mereka ciptakan, yaitu makanan.
Subhanallah, betapa canggih cara para kekasih Allah tersebut. Gerakannya sangat manis dan sistematis. Masyarakat yang saat itu belum kenal Islam, secara lembut dan pelan-pelan menjadi muslim yang berakhlak mulia.
Mereka menahan diri dari amarah dan mengendalikan nafsu. Menahan lapar dan dahaga, sambil beramal memberikan makanan kepada saudara-saudaranya dengan menu tersebut. Menu baru hasil kreasi para wali yang sekaligus mengungkapkan ketulusan budi untuk meminta maaf atas segala kesalahan atau kekeliruan. Sungguh menakjubkan keluhuran moral moyang kita itu.
Semoga kita yang hidup di alam modern ini bisa meneladani auliyaillah (para wali Allah) tersebut. Tidak ikut-ikutan cara-cara asing yang senang tampil ala Arab jahiliyah. Membawa Islam dengan simbol kekerasan, mengajarkan hujatan dan kedengkian, menebar tafsir kebencian, aksi teror dan kezaliman.

Kata takjilan juga dikenalkan Sunan Ampel dan kawan-kawannya (istilah saya agar tidak latah memakai sebutan ikhwan ala gerakan puritan).
Itu berasal dari ta’jil yang berarti menyegerakan. Sumbernya dari sebuah hadis riwayat Abu Hurairah, Nabi Muhammad bersabda yang artinya: ”Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: hambahamba- Ku yang paling Aku cintai adalah mereka yang paling menyegerakan berbuka.” Nah, makanan pembuka puasa ini disebut takjilan. Imbuhan an secara gampang yang ditempel seperti halnya jajan menjadi jajanan.
Mengapa disebut pembuka puasa? Karena puasa adalah ibadah yang intinya menutup. Menutup anggota tubuh dari makanan, minuman, rokok, dan alat kelamin dari hal-hal yang membatalkan.
Jadi ketika matahari telah terbenam atau bedug maghrib terdengar (sekarang banyak diganti sirine), maka semua tempat yang tertutup boleh dibuka. Makanya disebut berbuka puasa. Karena itulah kita perlu mengoreksi istilah latah yang sering tampak di tulisan atau ucapan lisan. Yaitu kalimat “makanan untuk membatalkan puasa.” Kata-kata ini jelas salah. Membatalkan puasa berarti melakukan sesuatu sebelum waktunya tiba. Alias menjadi tidak sah puasanya.
Sebagaimana sholat, di tengah-tengah rakaat berbicara. Maka itu membatalkan sholat. Si pelaku harus mengulang lagi agar sah sesuai syarat dan rukunnya. Nuwun. Selamat berpuasa. Selamat menikmati takjilan.***

Post A Comment
No comments :
Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.