Berita

[Berita][bleft]

Artikel

[Ekonomi][twocolumns]

Menyoal Ibu Tiri Tinggal

SETIAP Senin Harsem memuat konsultasi keluarga yang di asuh Hj Dra Jauharotul Farida, M.Ag, Ketua Tim Konsultasi Keluarga Maslahah Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Jateng. Pertanyaan bi sa dikirim ke Redaksi Jl KH. Wahid Hasyim 125-127 Kranggan Semarang, e-mail: harian.semarang@yahoo. com atau fax (024) 3516511.
Pertanyaan

SAYA bersaudara tiga orang. Usia saya 32 dan sudah berkeluarga, dengan dua orang anak. Adik saya laki-laki usia 28, yang saat ini sudah bekerja dan siap menikah tahun ini. Sedangkan yang bungsu saat ini berusia 25.

Sepuluh tahun lalu, ibu saya meninggal dunia. Dua tahun kemudian ayah menikah lagi dengan seorang perempuan yang juga sudah memunyai seorang anak perempuan usia 23, yang saat ini tinggal dengan suaminya di kota yang sama. Dua tahun lalu, ayah saya menyusul ibu, dipanggil Yang Mahakuasa.

Saat ini kami, bertiga dengan adik dan istri serta anak saya tinggal bersama dengan ibu tiri saya dalam satu rumah. Sehingga praktis segala kebutuhan ibu tiri saya, kami yang harus menanggungnya. Padahal penghasilan saya tidaklah banyak. Dalam pikiran saya dan adik-adik, akan lebih baik jika ibu tiri mau tinggal dengan anaknya sendiri. Karena rumah yang kami tinggali sebenarnya juga sudah atas nama saya dan dua adik kandung saya. Sementara ibu tiri sudah mendapatkan penghasilan dari uang pensiun ayah saya. Terlebih, sebentar lagi adik saya juga akan menikah, sehingga praktis kami memerlukan tempat tinggal adik dan istrinya.

Bagaimana ya, cara menyampaikan agar ibu tiri saya tidak merasa terusir, tapi bisa tahu diri dengan situasi di rumah kami yang memang tidak besar?

Rony
Salatiga

Jawaban:
ASSALAMUALAIKUM Wr Wb. Bapak Rony yang saya hormati, saya kira apa yang Bapak sampaikan tidaklah merupakan masalah yang besar dan rumit. Seandainya pun merupakan masalah, saya kira tidak ada masalah yang tidak dapat dicarikan jalan penyelesaiannya.

Saya kira Bapak perlu memertimbangkan ulang dari sisi baik dan buruknya, maslahah dan madlaratnya. Kalau seandainya ibu tetap tinggal bersama, apakah akan mengganggu privasi atau lainnya? Atau jika ibu harus tidak tinggal bersama di rumah Bapak, akan tinggal di manakah selanjutnya? Kalau tinggal dengan anak kandungnya, apakah rumahnya memungkinkan untuk menjadi tempat tinggalnya? Tentulah masalah ini jangan sampai menjadi keretakan hubungan yang sudah terjalin di antara kalian, Bapak dan ibu tiri kalian.

Ada baiknya juga jika Bapak menyampaikan kepada ibu tentang rencana ke depan yang akan dilakukan Bapak dan adik terkait dengan pernikahan yang akan dilakukan tahun ini dan rencana tinggal mereka.

Dengan demikian, Bapak bisa berharap ibu tiri Bapak akan tahu diri untuk bisa memilih di mana dia akan tinggal yang dianggap baik buat dirinya dan buat Bapak dan adik adik.

Harapan saya, persoalan yang Bapak rasakan bukanlah didasari atas pertimbangan materi, tetapi memang atas dasar kemaslahatan. Karena mungkin akan lebih baik jika memang ibu bisa tinggal dengan anak kandungnya yang secara kebetulan sudah berkeluarga. Karena itu ada baiknya jika Bapak juga berkenan membicarakan baik-baik dengan putri kandungnya tersebut secara kekeluargaan.

Saya kira momen pernikahan adik Bapak bisa menjadi entri point untuk memulai pembicaraan. Wassalamulaikum Wr Wb.***
Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.


Desakundi

[Desakundi][threecolumns]

Pendidikan

[Pendidikan][list]

Ekonomi

[Ekonomi][grids]

Politik

[Politik][bsummary]

Oase

[Oase][threecolumns]