Berita

[Berita][bleft]

Artikel

[Ekonomi][twocolumns]

Risiko Cantik ‘Gawan Bayi’

Perempuan cantik terkadang tidak harus pintar dan bersekolah tinggi. Bahkan banyak dari mereka baru lulus SD saja sudah jadi rebutan.
 
Keluarga Pak Badrus adalah salah satu contohnya. Warga Kabupaten Semarang ini memiliki anak perempuan yang cantik, sebut saja Naila, melebihi ibunya,  Bu Jamilah. Pak Badrus dan Bu Jamilah senang sekali memiliki Naila. Bangga sekali mereka.

Sewaktu Naila kelas III SMP, ayahnya kedatangan tamu dari Kota Semarang. Seorang bos perusahaan meminang Naila untuk anak lelakinya, Hasto (bukan nama sebenarnya).    
 
Itu adalah tamu ke-11 yang pernah melamar putrid Pak Badrus. Bu Jamilah yang mata duitan menyarankan suaminya agar menerima Hasto. Tapi dengan syarat setelah Naila melanjutkan sekolah.
 
Sesuai janji, Hasto pun menikahi Naila setelah gadis jelita itu tamat SMA.  Naila tak bisa menolak, dia ditakut-takuti soal durhaka. Dia pun menjalani perkawinan dengan pemuda yang belum dikenalnya itu.
 
Naila berusaha menyenangkan hati orang tuanya. Berupaya menjadi istri yang baik sesuai tuntunan agama. Dia lakoni saja takdirnya. Berharap semoga bisa bahagia. Usia yang masih sangat muda, 19, membuatnya tak bisa berpikir lebih dari itu.
 
Sekilas Nadia tampak beruntung. Suaminya anak orang kaya, tentu akan bergelimang harta dan emas permata. Mobil sedan pribadi selalu siap mengantar Naila ke manapun pergi.
 
Apakah Naila bahagia? Perempuan ini awal Oktober lalu mendatangi LSM pembela hak perempuan dan anak. Dia mengadukan persoalan rumah tangganya sekaligus minta bantuan untuk mengurus perceraian.
 
Dituturkannya, Hasto bukan lelaki yang bertanggungjawab. Sikapnya masih sangat kekanak-kanakan. Apa-apa minta orang tua. Dia tak bekerja, karena memang tak bisa kerja. Hidupnya hanya menikmati kekayaan orang tuanya.
 
“Suami saya hanya anak manja. Dia tak tahu bagaiman semestinya seorang suami dan bapak bagi anaknya,” tutur ibu satu anak yang kini berusia 25 ini sambil terisak.
 
Naila merasa tak berharga sebagai manusia. Hasto yang merasa ‘telah membeli’ dirinya, memperlakukan dia seenaknya. Karena terbiasa memegang uang, apapun dianggap mainan. Sehingga Naila sering ditinggal pergi dan tak disapa.
 
Naila kalut. Sedih dan jengkel. Andai dia kuliah, mungkin bisa berbicara pada suaminya dengan argumen yang logis. Harga dirinya mungkin akan naik jika dia bergelar sarjana. Setidaknya dirinya bukan seonggok tubuh yang hanya disenangi karena kemolekannya.
 
“Betapa rugi orang bodoh. Saya tak bisa berpikir, hanya bisa marah. Dan ketika ngamuk, suami saya menghajar saya,” ujarnya kembali terisak.
 
Bertahun-tahun dia menyembunyikan nestapa itu dari keluarganya. Bapak dan ibunya mengira dia baik-baik saja dan bahagia. Kini dia berniat memberitahu bahwa semua itu hanya tipuan belaka. (moh ichwan/rif)
Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.


Desakundi

[Desakundi][threecolumns]

Pendidikan

[Pendidikan][list]

Ekonomi

[Ekonomi][grids]

Politik

[Politik][bsummary]

Oase

[Oase][threecolumns]