Syila Nurizky, Penderita Kelainan Jantung dan Paru-paru Dikira Gizi Buruk, Tunggu Bantuan Dermawan
SYILA Nurizky (6 bulan), warga Tegalsari RT 03/RW 08, Kelurahan Mangunsari, Sidomukti, Salatiga, yang sejak lahir menderita kelainan jantung, kini hanya bisa terbaring lemas di tempat tidur ditunggui ayah-ibunya, Agus Mintoro (30)-Sutami (29). Mereka menunggu uluran tangan para dermawan.
Slamet Waluyo (39), paman Syila, kepada Harsem mengatakan, saat lahir dengan operasi caesar, berat Syila normal yaitu 2,9 kg. Tetapi, dokter di RS Puri Asih Salatiga yang menangani kelahirannya menyatakan, jantung dan paru-parunya tidak normal. Bahkan, setelah pulang dari rumahsakit, Syila juga sempat mendapatkan perawatan intensif di RS Dr Ario Wirawan Salatiga selama tujuh hari.
“Keponakan saya ini dirawat di RS dr Ario Wirawan selama tujuh hari, tetapi kondisinya juga tidak menunjukkan perubahan. Saat itu ada yang mengatakan Syila menderita gizi buruk namun dokter menyatakan jantung dan paru-parunya tidak normal. Karena tidak ada perubahan, akhirnya dibawa pulang,” jelas Slamet.
Ditambahkan, ketika dirumah kondisinya justru semakin mengkhawatirkan akhirnya dengan berbekal kartu Jaskesmas menjalani perawatan di RS Dr Kariadi Semarang dua kali. Selama menjalani perawatan di rumah sakit, keluarga juga selalu ditemani oleh kader posyandu maupun kader PKK, baik Kelurahan Mangunsari maupun Kecamatan Sidomukti.
Lurah Mangunsari Siti Sulami menuturkan, Syila Nurizky itu bukan menderita gizi buruk tetapi menderita kelainan jantung dan paru-paru. “Kami berupaya membantu dengan memberikan kemudahan mendapatkan jamkesda dan jamkesmas. Bahkan, kami juga telah merencanakan melakukan bedah rumah yang dihuni Syila ini. Rumah itu tidak layak huni,” jelas Siti Sulami didampingi Camat Sidomukti Nunuk Dartini SPd MPd, di rumah Syila, kemarin.
Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Salatiga dr Sovie Haryanti menegaskan, Syila bukan menderita penyakit gizi buruk tetapi kelainan jantung sejak lahir. Sehingga mengalami pula gangguan pertumbuhan bahkan asupan makanan yang dikonsumsi tidak maksimal karena pencernaannya tidak normal. Selain itu, kondisi rumah juga sangat berpengaruh karena pencahayaan kurang dan lembab. Hal ini akan mudah menyebabkan infeksi menyerangnya.
“Sekarang ini untuk memasukkan makanan harus melalui lubang hidung. Dengan cara ini saja, maka makanan yang masuk ke dalam tubuh bocah mungil ini sudah tidak maksimal, sehingga akan mengakibatkan gangguan tumbuh kembang,” kata Sovie.
Selain Syila Nurizky (6 bulan) yang berat badannya hanya 3,8 Kg, ada dua orang bocah yang juga mengalami penyakit kelainan syaraf yaitu Isa Ardana, warga Gendongan Tingkir dengan berat badan 6,4 Kg, dan Andreas Revan, warga Kalibening Tingkir dengan berat badan 5,8 Kg. Kedua bocah ini dengan penyakit yang dideritanya itu akhirnya mengalami gangguan pertumbuhan sehingga berat badan mereka juga kurang normal.
“Ketiga bocah itu, baik yang kelainan jantung maupun kelainan syaraf (perkembangan syaraf tidak normal), pihak dinas terkait telah berupaya maksimal memperhatikannya. Ketiga bocah itu juga sudah difasilitasi oelh jamkesda dan jamkesmas. Untuk pantauan, sampai sekarang para kader posyandu, kader PKK baik dari tingkat RT, RW hingga kecamatan masih terus melakukannya,” tandas Sovie. (heru santoso/nji)

Post A Comment
No comments :
Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.