Home » , » Perencanaan Tak Matang, APO Rusak Mangrove

Perencanaan Tak Matang, APO Rusak Mangrove

Written By Sena on Senin, 11 Juni 2012 | 13.31


BENCANA BARU: Keberadaan alat pemecah ombak (APO) di Desa Bedono Sayung diduga merusak tanaman mangrove.
(harsem/dok)


DEMAK-Pembangunan alat pemecah ombak (APO) di wilayah Desa Bedono Kecamatan Sayung dekat dengan makam terapung H Abdullah Mudzakir (mbah Mudzakir) justru dianggap menimbulkan bencana baru.

Pembangunan APO diduga tanpa perencanaan matang.  Dam memang berhasil melindungi lahan yang terkena abrasi sehingga memunculkan akresi (tanah timbul). Namun di bagian lain justru merusak tanaman yang berfungsi melindungi pantai, di antaranya mangrove.

Bangunan APO sebanyak tujuh larik di sebelah selatan makam keramat Mbah Mudzakir justru menciptakan gelombang lebih besar yang menghantam sisi utara makam. Akibatnya ratusan tanaman mangrove rusak.

“Persoalan ini kami pandang sudah sangat serius. Mangrove yang tumbuh juga berfungsi sebagai pelestari pantai dari abrasi,” kata Sekretaris Dinas Perikanan dan Kelautan Demak, Heru Budiono, kemarin.

Belum lama dipasang, APO namun telah memporandakan ribuan mangrove. Pihaknya hanya bisa meminta instansi lain segera memperhatikan kondisi ini. Karena untuk membenahi APO dibutuhan dana miliaran rupiah dan Pemkab Demak tidak mampu membiayai proyek tersebut.

Belakangan diketahui satu larik APO bernilai hingga Rp 500 juta. Menurut Heru untuk membenahi APO tersebut harus dibangunkan APO baru untuk menambah panjang APO, sehingga menutup gelombang ombak yang menerjang lokasi yang rusak tersebut.

Abrasi di Demak sangat luar biasa. Telah menelan daratan pantai sepanjang 1,7 km. Di Desa Bedono sendiri, sekitar 700 hektar lahan sawah dan 30 pesen pemukiman terendam air laut. Hal ini memaksa pemerintah mengisolir 200 rumah milk warga Dukuh Senik Desa Bedono dan 89 rumah warga Dukuh Tambaksari Sayung.

Kendati telah memindah 289 rumah warga relokasi di pinggir sungai wilayah Desa Gemulak yang berjarak 2 km dari pantai, persoalan baru juga muncul. Yaitu terkait penghasilan warga. Karena warga hanya mempunyai keahlian sebagai nelayan, kebanyakan harus menganggur.

Kepala Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Demak, Muhdiyanto mengatakan APO untuk mencegah abrasi. Pihaknya yang memohonkan APO ke provinsi. “Memang pembangunan APO di Bedono digarap provinsi,” kata Muhdiyanto. 

Pihaknya sudah menyampaikan kondisi APO. Rencananya Balai Besar Pamali Juana dan Kemantrian PU akan membangunkan APO lagi, meneruskan yang ada. Pihaknya telah meminta kesediaan warga pemilik tanah, agar tak berebut tanah yang muncul dari APO.

Abrasi di Bedono muncul sejak 10 tahun lalu setelah ada proyek reklamasi di Tanjung Emas dan wilayah Tambaklorok Semarang. Selain itu, abrasi dipicu land subsiden (penurunan tanah) yang terjadi di pesisir pantai Demak, 13 cm per tahun. (swi/16) 

Share this article :

Poskan Komentar

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. HARIAN SEMARANG - Semarang Banget - All Rights Reserved
Template Created by Mas Fatoni Published by Tonitok
Proudly powered by Blogger