Grebek Subali untuk Nganyari Gapura
![]() |
| BERBARIS: Sejumlah peserta Grebek Subali berjalan beriringan mengitari kampung. (HARSEM/ADHITIA ARMITRIANTO-JBSM) |
KRAPYAK-Empat hari berturut-turut warga Kelurahan Krapyak, Kecamatan Semarang Barat, khususnya di RT 2 RW 4 gelar kegiatan budaya yang mereka beri nama Grebek Subali. Nama Subali sendiri diambil dari gang tempat mereka hidup. Sementara grebek merujuk pada kata garebek yang berarti perayaan, terutama pada budaya Islam.
Kegiatan yang dimulai Rabu (4/7) lalu ditutup Sabtu (7/7) malam dengan kegiatan arak-arakan dan panggung budaya. Prosesi arak-arakan diikuti antusias oleh puluhan warga yang mengenakan kostum Jawa. Sebagian dari mereka ada yang mengenakan kostum kera warna-warni.
Cucuk lampah barisan tersebut adalah Carik Kelurahan Krapyak, lalu diikuti oleh pasukan kera, kemudian putra-putri RW IV, pembawa lampu pijar tradisional, kemudian lurah dan stafnya. Selain itu juga ada kelompok perempuan yang membawa dua helai batik bercorak Subali. Mereka berjalan mengelilingi kampung dan berakhir di gapura yang menghadap Jalan Siliwangi.
Menurut Ketua Karang Taruna RW IV, Fajar, kegiatan itu adalah sebuah bentuk syukur atas terbangunnya gapura yang sudah sejak lama menjadi impian warga.
“Kami ingin menumbuhkan tradisi baru di sekitar kami. Selain itu, juga memberi pemahaman guna memupuk kesadaran akan lingkungan tempat mereka tinggal,” katanya.
Sesaat setelah tiba di gapura, prosesi peresmian gapura dimulai. Prosesi itu ditandai dengan pemasangan batik Subali di tubuh gapura. Lurah Krapyak Suparno kemudian membakar sabut kelapa yang digantung di antara dua gapura sebagai tanda peresmian.
“Saya merasa bangga pada apa yang dilakukan warga RW 4 karena menciptakan tradisi ini. Mereka juga dengan kesadaran penuh membuat batik sebagai ikon wilayah tersebut. Kegiatan seperti ini saya harap bisa terus dilakukan dan menjadi tradisi yang nantinya akan mengenalkan budaya wilayah tersebut,” katanya.
Sementara itu, seniman Widyo "Babahe" Leksono yang hadir pada acara itu mengatakan secara tidak langsung, Grebek Subali adalah pengenalan tradisi kepada anak-anak yang tinggal di kota.
“Saya melihat anak-anak sangat senang memerankan pasukan kera. Setidaknya itu tanda, apa yang sudah dilakukan bisa mereka terima. Yang harus dilakukan ke depan adalah menjaga semangat mereka agar tradisi ini tetap ada, agar nanti mereka mengerti budaya yang sudah diwariskan kepada mereka,” tandasnya. (Adhitia Armitrianto-JBSM)


Post A Comment
No comments :
Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.