Berita

[Berita][bleft]

Artikel

[Ekonomi][twocolumns]

’Chef Corporate’ Santika Premiere Hotel, Sih Man Cita cita Tentara, Malah Jadi Chef


Chef Sih Man. HARSEM/WARA MERDEKAWATI



Tak pernah terbayangkan bagi Sih Man untuk menjadi seorang koki. Pria kelahiran Yogyakarta 10 Mei 1954 ini sejak sekolah dasar  bercita-cita menjadi anggota ABRI (sekarang TNI-red). Namun, dengan keahlian yang dia miliki serta himpitan kondisi ekonomi membuatnya berkiprah menjadi seorang Chef hingga saat ini.

     Sih Man mengaku, tidak pernah mengenyam pendidikan di bidang tata boga. Keahlian memasaknya didapat karena memang otodidak. Sering ditinggal oleh kedua ortunya untuk berjualan beras, anak sulung dari delapan bersaudara ini kerap membuat masakan untuk adik-adiknya.

     “Dari kecil memang sudah senang masak. Awalnya karena ditinggal orang tua jualan. Maka saya pun sering membuat masakan untuk adik-adik. Biasanya masak nasi goreng dan  bakmi goreng,” ungkap alumni SMA N 1 Sleman ini.

     Setelah lulus dari SMA, Sih Man mencoba peruntungan bekerja di Jakarta. Sengaja pergi ke ibukota untuk membantu orang tuanya dalam perekonomian. Di Jakarta, dirinya langsung melamar kerja di salah satu hotel  tahun 1977 hingga 1991.

     Setelah tahun 1991 hingga saat ini, dirinya pun pindah ke Hotel Santika Premiere Jakarta. Berbasis masakan western (masakan barat) Sih terpaksa harus banting setir pada saat Indonesia mengalami krisis moneter. Pasalnya, menurunnya jumlah tamu asing yang menginap di hotel membuatnya menyajikan masakan Indonesia.

     “Apalagi masakan Indonesia menjadi icon bagi Hotel Santika Premiere,” lanjutnya.

Dikatakan, dalam memasak haruslah mengerti terlebih dahulu apa yang akan dimasak. Setidaknya mencicipi dulu masakan yang akan dimasak. Menjadi chef corporate di Santika Premiere Hotel menuntut dirinya harus piawai dalam memasak masakan Indonesia.

     “Saya biasanya jajan dulu sebelum masak, misalnya saat saya bertugas di Bogor ya saya harus ngicipi dulu makanan khas di sana. Setelah nyicip baru saya coba masak, dan dipresentasikan ke teman-teman bagaimana rasanya,” ungkap bapak lima anak ini.
     Beragam masakan Indonesia sudah banyak dia kuasai, mulai dari rawon, nasi Uduk, ayam taliwang, ayam betutu, bahkan bakmi jowo goreng.
      Menurutnya, memasak masakan Indonesia dengan masakan barat sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan.

     “Masakan Barat preparationnya lama, sedangkan Indonesia banyak bumbu yang digunakan. Tapi bagaimana pun  masak itu mengasyikkan,” ujarnya sembari tersenyum.

Keliling Indonesia
     Keahlian memasaknya, membawa dirinya dapat berkeliling Indonesia. Mulai dari Bogor, Makasar, Manado bahkan hingga Papua. Setelah menjadi Chef Corporate, kini menjadi pembimbing chef di tiap hotel Santika Grup.
     “Chef Corporate ini membantu Grup Santika Hotel yang akan membuka hotel baru, saya bertugas membimbing chef yang ada di sana,” tuturnya.

     Meski harus meninggalkan keluarga, namun suami dari Nunjiah ini selalu menyempatkan diri untuk menengok keluarganya di Sleman. “Keluarga saya tinggal di Sleman, mereka tidak keberatan, karena dari awal saya sudah memberikan pengertian, dan mereka pun mendukung,” lanjutnya. (wam/njs)






Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.


Desakundi

[Desakundi][threecolumns]

Pendidikan

[Pendidikan][list]

Ekonomi

[Ekonomi][grids]

Politik

[Politik][bsummary]

Oase

[Oase][threecolumns]