Berita

[Berita][bleft]

Artikel

[Ekonomi][twocolumns]

Kaligrafi Cina Diserbu Pengunjung

HARSEM/SMNetwork/Muhammad Syukron


Wildan (23) warga Kelurahan Ketileng, Kecamatan Tembalang bersama adiknya Nabila (18), menunjukkan namanya ditulis dengan kaligrafi Cina saat berkunjung ke stan Suara Merdeka.

GANG PINGGIR-Bagi masyarakat awam, kaligrafi Cina biasa disebut dengan huruf Mandarin. Dalam budaya bangsa Cina, kaligrafi itu sebenarnya sudah dikenal sejak enam ribu tahun yang lalu.

Setelah bergulirnya reformasi, karya seni ini kembali "berani" menghiasi dinding-dinding rumah maupun tempat usaha milik warga keturunan, apalagi menjelang Imlek seperti sekarang ini.

Diyakini, kaligrafi ini mengandung makna dan filosofi tertentu bagi mereka yang mengerti. Digunakan pula untuk menulis berbagai ungkapan, seperti duka cita, ucapan perkawinan atau ulang tahun.

     Menurut catatan sejarah, orang Cina pada jaman dahulu menggunakan gambar untuk berkomunikasi. Gambar-gambar itu kemudian diubah menjadi semacam simbol, berupa garis atau lengkungan yang bentuknya menyerupai benda yang dimaksud.

     Bahkan, tak sedikit pula warga pribumi yang tertarik dengan seni kaligrafi Cina tersebut. Stan Suara Merdeka yang menyajikan kaligrafi di Pasar Imlek Semawis, selalu saja menjadi serbuan para pengunjung.

     Tulisan-tulisan kaligrafi Cina baik berupa kalimat bijak maupun nama terang, kini juga nampak menghiasi rumah-rumah warga pribumi, toko, atau di meja kantornya. Diyakini, kaligrafi tersebut mengandung makna dan filosofi tertentu bagi mereka yang mengerti.

     ''Saya sengaja datang siang yang panas ini untuk menulis nama dan kata-kata mutiara dengan kaligrafi Cina bersama adik saya. Selain indah, semoga membawa keberuntungan. Jadi, besok mungkin datang lagi bersama pacar, agar hubungan cinta kami langgeng,'' ujar Wildan (23) warga Kelurahan Ketileng, Kecamatan Tembalang saat berkunjung ke stan Suara Merdeka, bersama adiknya Nabila (18), Kamis (7/2).

      Membuat sebuah karya kaligrafi, memang tak mudah. Unsur tebal tipis goresan, komposisi, teknik sang kaligrafer ketika menggoreskan tinta, menjadi pertimbangan dalam menilai sebuah karya kaligrafi. Seperti halnya menilai lukisan, tingkat apresiasi seseorang juga ikut menentukan. Untuk menghasilkan sebuah karya kaligrafi yang indah dan bermakna, juga tak mudah.

      ''Sama seperti pelukis, tergantung suasana hati sang kaligrafer. Begitu pula dengan lingkungan sekitar. Biasanya suasana yang tenang mempermudah sang kaligrafer berkonsentrasi, menuangkan ide-idenya dalam lembaran kertas.

      Begitu pula dengan kelihaian menggerakkan tangan,'' tutur Untung (75) kaligrafer Cina, kemarin.
     Semakin gemulai gerakan tangan sang kaligrafer ketika menggoreskan tinta, semakin indah karya yang dihasilkan. Mempelajari kaligrafi Cina memang sulit. Untuk mencapai tahap mampu membaca surat kabar berbahasa Mandarin saja, setidaknya membutuhkan waktu 2 hingga 6 tahun lamanya. Jadi, mau nama Anda ditulis dengan kaligrafi Cina? Datang saja ke sini di Wotgandul Timur. (Muhammad Syukron/SMNetwork/njs)
Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.


Desakundi

[Desakundi][threecolumns]

Pendidikan

[Pendidikan][list]

Ekonomi

[Ekonomi][grids]

Politik

[Politik][bsummary]

Oase

[Oase][threecolumns]