Berita

[Berita][bleft]

Artikel

[Ekonomi][twocolumns]

Panggung Jatilan di Bangjo Semarang Meremas Malu demi Sepanci Beras





JEJAK Jatilan masih bisa ditonton kala kita melintas di sejumlah titik Kota Semarang, di antaranya di traffic light Kaligarang. Namun, pelaku kesenian itu tak murni berkesenian, melainkan cari makan.

Bangjo telah menjadi panggung jatilan. Kesenian daerah yang (barangkali) kampungan bagi orang modern, namun mereka penuh semangat menghelat pertunjukan singkat sebelum lampu kembali hijau.

Mereka mandi keringat demi sesuap nasi, untuk anak dan istri. Tak jarang, perjuangannya hanya dilempari recehan oleh pengendara motor dan atau mobil yang berbesar hati membuka kaca jendelanya.

Itulah yang menimpa grup jatilan Margo Budoyo Ambarawa. Sepi tanggapan, mereka mencari makan di Semarang. Ngamen adalah solusi singkat yang mereka tempuh. Mereka jadikan traffic light sebagai panggung. Hanya bermodal jaran kepang, cambuk, gamelan, dan kendang, mereka menghidupi keluarganya di desa. 

Jangan kaget, tujuh personel grup Jatilan ini sekeluarga. Sutomo (bapak), Krisman (pakdhe), Riwayati (istri), Yanto (kakak), Prasetyo (anak), dan Febri (menantu). "Di Semarang kami ngekos," kata Eko.

Hidup bertumpu pada kesenian daerah macam jatilan tak lagi bisa diandalkan. Sepinya order manggung, ditambah rendahnya kreativitas para pelaku, membuatnya hampir punah. Agar mendapatkan penghasilan, mereka turun ke jalan. "Biasanya kami ngamen di Jogja dan Semarang," tambah Eko.

Eko tak memungkiri, kesenian jatilan terkesan monoton. "Saya bingung bagaimana membuat anak muda sekarang menyenangi kesenian ini dan tetap eksis di tengah masyarakat, karena biasanya orang mengganggap monoton," katanya.

Di Ambarawa, dulu grup jatilan ini sering diundang hajat pernikahan, agustusan, dan sebagainya. "Tapi, sekarang dicuekin,” imbuh pria tiga anak satu cucu ini.

Dengan cara ngamen seperti ini, selain bisa menggaji perhari Rp 25-30 ribu untuk personelnya, dia juga berupaya melestarikan seni tradisional Jatilan. 

"Minimal memperkenalkan kembali sekaligus menggugah masyarakat untuk kembali mencintai jatilan," cetus Eko yang setiap hari pentas sejak pukul 08.00 hingga 15.00 itu. (Abdul Mughis)

Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.


Desakundi

[Desakundi][threecolumns]

Pendidikan

[Pendidikan][list]

Ekonomi

[Ekonomi][grids]

Politik

[Politik][bsummary]

Oase

[Oase][threecolumns]