Berita

[Berita][bleft]

Artikel

[Ekonomi][twocolumns]

Sarasehan HPN 2013 Regenerasi Jangan Sampai Putus


Mantan Redaktur Senior Kompas, Pramono BS menyerahkan potongan tumpeng kepada Ketua Panitia HPN 2013 Jawa Tengah Isdiyanto pada peringatan HPN di Gedung Pers Jalan Trilomba Juang, Sabtu (9/2). HARSEM/SM/IRAWAN




HARI Pers Nasional (HPN) 2013 diperingati oleh PWI Jawa Tengah dengan sederhana namun cukup mengesankan bagi para pekerja pers yang hadir dan mengikuti tasyakuran, yang dilanjutkan dengan Sarasehan Lintas Generasi di Gedung Pers Jawa Tengah, Jalan Tri Lomba Juang Semarang, Sabtu (9/2).

Ketua Panitia HPN 2013 Jawa Tengah Isdiyanto  menyatakan haru karena momentum HPN masih mendapat sambutan dan perhatian dari masyarakat dan insan pers sendiri. "Artinya masyarakat masih peduli dan berharap pada pers atas kiprahnya dalam mengawal kepentingan umum dan mencerdaskan bangsa. 

HPN tak diidentik dengan perayaan ulang tahun semata, melainkan juga momentum bagi kita untuk merenung dan mengevaluasi apakah selama kurun waktu kita sudah dapat memberi manfaat bagi kepentingan masyarakat, bangsa dan negara", tutur Isdiyanto.

Sementara dalam tasyakuran yang dihadiri para sesepuh wartawan, anggota PWI, keluarga wartawan dan janda wartawan, juga diisi acara Sarasehan Wartawan Lintas Generasi menampilkan Pramono BS (mantan Redaktur Senior Kompas), Chandra AN (Kedaulatan Rakyat), Fahmi ZM (Suara Merdeka) dan dimoderatori Widiyartono (Wawasan).

Pramono BS menceritakan pengalamannya dulu sewaktu menjadi wartawan di era 1970-an. Dimana wartawan saat itu hidup dalam situasi keterbatasan. Meski tidak memiliki telepon, kendaraan dan peralatan yang memadai, para wartawan waktu itu selalu rajin mendatangi tempat peristiwa.

"Berbeda dengan sekarang, wartawan biasa meminta data dari temannya. Bahkan tanpa datang ke lokasi peristiwa pun wartawan bisa membuat berita", ungkap Pramono BS.

Kondisi demikian menurut Pramono BS tidak bisa disebut profesional, sebab wartawan selain dekat dengan nara sumber, juga harus dekat dengan peristiwanya. Dimana mereka bisa melihat fakta secara langsung, tidak cukup hanya dengan data.

Chandra AN, wartawan SKH Kedaulatan Rakyat yang terjun di dunia kewartawanan sejak 1992 mengungkapkan pengalamannya selama dibina para sesepuh wartawan di era sebelum reformasi.

"Saat itu hubungan antara senior dan yunior sangat akrab, yang senior umumnya memiliki sikap tegas dan tekun dalam membina para wartawan muda. Mereka memiliki tanggung jawab yang luar biasa. Sedangkan kami yang yunior pun sangat menghormati mereka. Meski tidak pelit dalam mengajarkan pengalaman dan ilmunya, namun terkadang menggunakan cara-cara keras, meski itu sebenarnya sangat mendidik mental wartawan muda", kata Chandra AN, yang merasakan hidup di masa transisi pers di era Orde Baru dan pers era Reformasi. 

Ia mengagumi gaya para senior dalam mendidik wartawan waktu itu. Cara mengedit dengan mencorat-coret tulisan sampai kertasnya bolong, bahkan dengan meremas-remas naskah yang disodorkan ke redaktur karena tulisan tidak sesuai, merupakan tantangannya untuk berbenah dan belajar. Bahkan tak jarang disuruh kembali ke tempat liputan untuk mencari data tambahan, adalah bagian dalam belajar yang cukup melelahkan namun bermanfaat ke depannya. 

Yang cukup membanggakan lagi di era itu, tambahnya, ketika wartawan sudah lolos menjadi anggota PWI dan memegang kartu 'biru' (kartu PWI) yang kala itu menjadi SIM-nya wartawan. Sebab tanpa kartu biru, saat itu wartawan tak bisa melakukan peliputan.

Berbeda dengan kedua nara sumber, Fahmi Zulkarnaen dari Suara Merdeka justru menganggap perlunya regenerasi secara berkesinambungan. "Pengalaman para pendahulu saya kira perlu kita ketahui dan jadikan bekal untuk melangkah ke depan agar lebih baik. Era saya ini dalam situasi yang serba ada. meski demikian juga terjadi persaingan yang berdampak pada tuntutan tugas. Seorang wartawan kini sering dituntut kuantitas pemberitaan, padahal di lapangan mereka sering mengalami kendala. Maka tidaklah salah mereka sering mengandalkan teknologi handphone untuk wawancara serta mendapat bantuan dari rekan-rekannya untuk berbagi liputan.

Banyaknya organisasi wartawan menurut Fahmi ZM juga berdampak mengotak-kotakkan wartawan. Menurutnya hal tersebut jangan sampai terjadi. Berangkat dari keprihatinan melihat teman-teman jurnalis terkotak-kotak, maka Fahmi berinisiatif membuat wadah Wartawan Mancing Mania (Wamama) yang kini menampung 150- an wartawan di Semarang. "Mereka kami ajak lomba mancing secara berkala. Sekadar untuk mencairkan sekat dengan kegiatan yang bersifat fun", ungkap Fahmi ZM.

Tasyakuran dimeriahkan oleh penampilan Orkes Keroncong (OK) 'Pawarta' pimpinan Chandra AN. Di akhir acara juga diserahkan tali asih kepada para janda wartawan dan ziarah kemakam para wartawan. (G4/SMNetwork/sae)

Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.


Desakundi

[Desakundi][threecolumns]

Pendidikan

[Pendidikan][list]

Ekonomi

[Ekonomi][grids]

Politik

[Politik][bsummary]

Oase

[Oase][threecolumns]