Berita

[Berita][bleft]

Artikel

[Ekonomi][twocolumns]

Bandara Jadi Kendala Semarang Metropolitan Pembangunan Gedung Pencakar Langit


LINGKUNGAN akan memberikan segala apa yang diiginkan dan dibutuhkan manusia, apabila manusia mengerti, menghormati, dan menyayanginya...''

Ungkapan arsitek lansekap dan pendiri departemen arsitektur lanskap di Universitas Pennsylvania di Amerika Serikat Ian L McHarg itu diucapkannya 46 tahun lalu melalui buku yang ditulisnya, Design with Nature.
Ungkapan itu pula yang menginspirasi para arsitek untuk mengembangkan konsep dan desain sebuah bangunan yang menjadi sarana atau masukan energi bagi sistem lain atau biasa dikenal dengan green building.
Manager PT Pembangunan Perumahan (Persero) Hadjar Seti Adji mengatakan, green building sendiri memiliki makna bangunan yang direncanakan dan dioperasikan dengan memperhatikan faktor-faktor lingkungan. "Pembangunan gedung berkonsep green building harus memperhatikan faktor lingkungan, seperti bijak guna lahan, hemat air, hemat bahan sehingga mengurangi limbah dan menjaga udara dalam ruangan," katanya.

Dijelaskannya, konsep green building terbagi menjadi dua, yakni passive design yang dikerjakan arsitek dan active design yang dikerjakan mekanik. Adapun konsep perubahan gedung menuju green building lebih baik diterapkan pada aspek passive design, sehingga bisa menekan efisiensi biaya.

Konsep tersebut dilakukan dengan merencanakan sirkulasi udara di mana suhu bisa menurun dan mengurangi penggunaan pendingin udara (AC). Selain itu, dengan merubah orientasi arah bangunan sehingga bisa meminimalisasi panas dalam ruangan.

Konsep green building juga tengah dikembangkan para pengembang untuk membangun gedung-gedung baru di Kota Semarang untuk Menuju Kota Metropolitan.

Akan tetapi, menurut Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jateng Ir Agung Dwiyanto MSA, pembangunan gedung dengan konsep itu belum dilakukan secara total.

''Klasifikasi green building itu kan macam-macam. Mulai dari penggunaan material, penerapan energi, penggunaan air, dan bahan-bahan yang tidak beracun. Untuk Semarang, belum ada yang total melakukannya, karena selain berat, juga mahal. Fabrikasi juga belum mendukung,'' tuturnya, Kamis (7/3).

Sementara yang dilakukan di Semarang, dalam membangun sebuah gedung, penerapan teknologi dan penggunaan tenaga manusianya masih 50:50. Ia berharap, rencana pembangunan gedung di Undip akan menerapkan konsep green building yang penuh. Sehingga akan menjadi percontohan di Jawa Tengah.

''Undip itu punya assesor yang memiliki lisensi. Konsep green campus yang diterapkan oleh Undip maupun Unika kita harapkan juga sambil jalan akan menerapkan konsep green building itu dengan sendirinya,'' jelasnya.

Menanggapi pembangunan gedung pencakar langit yang tengah marak beberapa tahun ini, Agung menilai, menjadikan Semarang Metropilitan selamanya tidak hanya dengan berdirinya gedung pencakar langit. Akan tetapi dengan sarana dan prasarana kota yang memadai baik itu infrastruktur maupun transportasinya.

''Kalau dilihatnya dengan gedung pencakar langit, kendalanya ada di bandara Ahmad Yani. Bandara itu masih ada di tengah kota. Sehingga, mau tidak mau, pembangunan gedung di Kota Semarang masih terkendala soal syarat ketinggian karena berada di daerah rawan lintasan. Dan pemerintah kalau memang menargetkan lima tahun berdiri 20 gedung pencakar langit, ya harus menjembatani kebijakan itu,'' paparnya.

Jamin Kemudahan
Dan, gayung pun bersambut. Pemerintah Kota Semarang menjamin akan memberikan kemudahan, kenyamanan, keamanan dan kepastian investasi di wilayahnya. Termasuk investasi pembangunan gedung-gedung pencakar langit. Plt Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, mengatakan, perkembangan ekonomi di Kota Semarang semakin hari semakin berkembang. Hal itu diharapkan bisa menjadi pertimbangan bagi para investor untuk menanamkan investasi di wilayahnya.

"Kami tetap berkomitmen memberikan pelayanan dan jaminan kemudahan perizinan, jaminan keamanan, serta jaminan hukum. Dalam hal operasional tentu lebih murah dibanding berinvestasi di Jakarta atau Jawa Barat," katanya.

Dalam hal menarik investor, hingga saat ini pihaknya mengaku tak mengalami kendala berarti. Satu hal yang masih diupayakan, yatu belum dimilikinya alat pemadam kebakaran yang bisa menjangkau ketinggian lebih dari lima lantai. Apalagi saat ini ada beberapa gedung yang memiliki ketinggian di atas 15 lantai.

"Saat ini ada sekitar 15 gedung tinggi di Kota Semarang. Beberapa waktu lalu, sudah ada koordinasi Dinas Pemadam Kebakaran, Dinas Tata Kota dan Perumahan serta beberapa pemilik gedung. Pemilik gedung bersedia untuk iuran guna penyediaan alat pemadam kebakaran yang bisa menjangkau hingga 20 lantai," papar dia.

Komisi C DPRD Kota Semarang, saat ini juga sedang membahas pembuatan Raperda tentang Perumahan serta Raperda Amdalin (Amdal, Drainase dan Lalu Lintas) untuk mengatur pembangunan hotel dan mal. Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Agung Budi Margono menegaskan, bahwa dua raperda itu diharapkan bisa menjadi solusi regulasi permasalahan lingkungan di Kota Semarang.

"Jadi pengembang perumahan dan mal, ketika akan melakukan pembangunan tak hanya harus memiliki izin aman dampak lingkungan saja. Tapi juga harus ada izin tentang kajian lalu lintas di lingkungan sekitar serta pembuatan sistem drainase kawasan. Karena selama ini, banyak pengembang maupun pengelola mal dan hotel masih menggunakan saluran umum (drainase lingkungan) untuk membuang limbah. Dengan adanya regulasi itu, pengembang akan diwajibkan membuat drainase kawasan, khususnya untuk pembangunan gedung-gedung tinggi di pusat kota," paparnya. (H84, H71/SMNetwork/sae)
Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

4 comments :

  1. Saya warga SMG yg kecewa dgn keadaan ini, Bandara seharusnya segera pindah ke pinggiran,karena sangat menghambat perkembangan kota, Sulit menjadikan SMG Setara kalo masih seperti ini, apakah ini karena alat komunikasinya yg sudah usang shg ketinggian gedung dibatasi, mudah2 saja dugaan ini nggak benar, tapi kalo ini masalahnya ? wah wah sungguh terr la lu..., Jempol buat pak Hendy yang punya target BRILIAN, pemimpin semacam ini yang membuat Kota SMG maju pesat

    ReplyDelete
  2. Target Pak Hendy 20 gedung Pencakar langit... Luar Biasa..Hebat!, warga Semarang mendo'akan nantinya Beliau bisa kepilih lagi jadi walikota untuk yang ke dua kali, tapi bagi siapapun yang menghambat perkembangan kota Semarang, yang membatasi ketinggian gedung, moga2 aja cepet pensiun dini ato di rolling keluar Jawa sekalian , dan cepat digantikan orang2 yang cerdas, dan dengan penuh semangat bercita2 membangun kota Semarang jadi kota yang bisa dibanggakan.

    ReplyDelete
  3. Lha iyo yo, mbiyen ki sing salah soppo ? gedunge semarang kok cebol-cebol
    kutho liyyane wis metropolis, semarang isih mambu ndeso,
    goro -gorone mung siji , bandara nang tengah kota,
    KKKUUUDUUU PINDAH, SAIKII ,BEN SEMARANG MAJU
    ORA KOYO NGENE IKI, JARE SEMARANG SETARA, SETARA OPO ??
    GEDUNG CEBOL -CEBOL KOK SETARA ?

    ReplyDelete
  4. Sebgi org jateng akan sangat bangga dgn semarang jk byk gdng tinggi menjulang byk .tp akan lbh bijak utk mengaspirasikan keinginan warga kota smg utk memindahkan bandara ke wilayah demak toh itu baik buat kemajuan semarang tercinta pasti bs lihat medan skng punya bandara diluar kota medan dan kuala namu no 2 sth cengkareng tangerang banten pdhl sy kerja dijktr tp terus pantau semarang enyong wong brebes

    ReplyDelete

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.


Desakundi

[Desakundi][threecolumns]

Pendidikan

[Pendidikan][list]

Ekonomi

[Ekonomi][grids]

Politik

[Politik][bsummary]

Oase

[Oase][threecolumns]