Berita

[Berita][bleft]

Artikel

[Ekonomi][twocolumns]

Lapas Beteng Ambarawa Merana

Kondisi Lapas Beteng Ambarawa dan aktivitas kegiatan para napi
HARSEM/HERU SANTOSO
UNGARAN - Maraknya permasalahan di lingkungan Lembaga Permasyarakatan (Lapas) di berbagai daerah di Indonesia, akhir-akhir ini, membuat Pemkab Semarang ikut prihatin. Pasalnya, melihat kondisi Lapas Kelas II Ambarawa atau yang terkenal dengan sebutan LP Beteng Ambarawa ini kini kondisinya kian merana.

Lapas Beteng Ambarawa ini merupakan bangunan tinggalan Belanda dan bangunan bekas Benteng Willem I yang dibangun Belanda pada tahun 1838 silam kini penghuninya sudah overload. Daya tampungnya hanya 260 napi, namun kini ditempati sebanyak 282 napi dan sebagian besar penghuninya warga Kabupaten Semarang. Dengan kondisi ini, dikhawatirkan akan mempermudah para napi untuk kabur karena bangunannya disana-sini sudah rapuh serta pengamanan yang dinilainya minim.

Kepala Lapas Kelas II Ambarawa, Kabupaten Semarang, Dwi Agus mengatakan, bangunan yang digunakan untuk Lapas Ambarawa ini kini telah dikuasai Kodam IV/Diponegoro. Selama ini menggunakannya dengan sistem sewa dan masa sewa akan berakhir bulan November 2013 mendatang. Diakuinya, jika bangunan Lapas tersebut telah uzur dan disana-sini telah rapuh. Bahkan, belum lama ini beberapa napi sempat kabur dengan cara memanfaatkan rapuhnya tembok Lapas.

“Kondisi bangunan Lapas Ambarawa ini benar-benar sudah tua dan tidak standar untuk ukuran bangunan Lapas. Harusnya, Lapas itu mempunyai steril area, branggang dan tembok pengaman serta pos pantau, namun di Lapas Beteng ini tidak ada. Saat napi kabur, maka mudah untuk langsung keluar dari areal atau komplek Lapas,” jelas Dwi Agus disela-sela meninjau kondisi Lapas bersama Bupati Semarang H Mundjirin, kemarin.

Ditambahkan, Lapas Ambarawa ini setiap tahunnya hanya menerima kucuran dana Rp 90 juta. Dana ini sangat tidak mencukupi untuk ukuran Lapas Ambarawa yang besar ini. Idealnya dana yang dibutuhkan sebesar Rp 400 juta dalam setiap tahunnya. Selama ini juga tidak memiliki pos pantau serta tenaga penjaga atau pengamanan sangat minim. Idealnya, tiap regu keamanan sebanyak 9 orang, namun di Lapas Ambarawa ini satu regu hanya diisi 4 orang.

“Kami sangat berharap kepada Pemkab Semarang dapat bekerjasama dalam memperhatikan kondisi Lapas Ambarawa ini. Kami juga banyak membantu membina warga Kabupaten Semarang, khususnya yang menghuni di Lapas ini, yang sebagian besar memang warga Kabupaten Semarang,” katanya.

Sementara, Bupati Semarang H Mundjirin menyatakan, jika diijinkan bangunan Lapas ini dapat dikelola oleh Pemkab Semarang untuk destinasi wisata. Pasalnya, bangunan kuno ini merupakan bangunan cagar budaya (BCB). Jika hal ini benar dapat dilakukan, maka Pemkab Semarang akan mencarikan lahan baru untuk pengganti Lapas Ambarawa. Namun, yang menjadi pemikiran, adalah apakah mungkin Pemkab Semarang dapat menyediakan lahan standar untuk mengganti bangunan Lapas Ambarawa.

“Yang jelas, kami akan koordinasi dengan DPRD untuk membahas permasalahan ini. Apakah mungkin, Pemkab Semarang menyediakan lahan sesuai standart bangunan Lapas,” tandas Mundjirin. (hes/rif)
Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.


Desakundi

[Desakundi][threecolumns]

Pendidikan

[Pendidikan][list]

Ekonomi

[Ekonomi][grids]

Politik

[Politik][bsummary]

Oase

[Oase][threecolumns]
Create gif animations. Loogix.com. Animated avatars. Animated avatar. Motley Animated avatar. Gif animator. Animated avatar. Gif animator. Zoom Gif animator. Motley Create gif animations. Zoom Animated avatar. Movie Create gif animations. Gif animator. Zoom Animated avatar. Loogix.com. Animated avatars. Negative Animated avatar. Zoom Rumah Zakat Animated avatar. Negative Babyface, Harian Semarang liquid executive club, tonitok rendezvous