Berita

[Berita][bleft]

Artikel

[Ekonomi][twocolumns]

Sesjen Wantanas dan Rombongan Ziarah Ke Masjid Agung Demak

Letnan Jenderal M.Munir (Sesjen Wantannas) dan Rombongan Foto Bersama di Masjid Agung Demak

DEMAK – Kota Demak selalu menjadi destinasi wisata religi bagi sebagian umat Islam termasuk para pejabat negara, hal tersebut tentu saja tidak lepas dari keberadaan Masjid Agung Demak dan Makam Sunan Kalijaga.

Pada Selasa (27/09/16) telah berkunjung Letnan Jenderal M.Munir (Sesjen Wantannas) dan Rombongan  yang diterima langsung oleh Dandim 0716/Demak Letkol Inf Nanang T.T Wibisono S.A.P serta Kapolres Demak AKBP Heru Sutopo S.I.K dan langsung menuju Masjid Agung Demak untuk melaksanakan Sholat Dhuhur berjamaah.

Habis Sholat Dhuhur dilanjutkan naik ke Kubah Mesjid Agung Demak untuk melihat soko Tatal peninggalan wali KS Kalijaga dengan di dampingi Takmir Masjid Agung Demak bapak Wagiyo.

Selanjutnya tamu rombongan tersebut menuju makam makam raja Demak diantaranya Sultan Fattah (Raja Demak ke 1),Pati unus dan Sultan Trenggono kemudian team rombongan mendapat penjelasan dari Takmir MAD tentang silsilah berdirinya kerajaan Demak.

Berdirinya Kerajaan Demak
 
Pendiri dari Kerajaan Demak yakni Raden Patah, sekaligus menjadi raja pertama Demak pada tahun 1500-1518 M. Raden Patah merupakan putra dari Brawijaya V dan Putri Champa dari Tiongkok. Raden Patah secara diam-diam pergi ke Jawa yang tepatnya di Surabaya dan berguru kepada Sunan Ampel. Kemudian Sunan Ampel memerintahkan kepada Raden Patah supaya pindah ke Jawa tengah untuk membuka hutan Glagah Wangi atau Bintara lalu mendirikan pesantren. Lambat laun, banyak yang menjadi santri di pesantren tersebut dan pada akhirnya, Demak berkembang pesat. Raden Patah dikukuhkan menjadi Adipati Demak oleh ayahnya, Brawijaya V dan mengganti nama Demak menjadi Bintara yang akhirnya disebut Demak Bintara.

Demak mengalami masa kejayaan pada pemerintahan Sultan Trenggono (1521-1526), yakni raja ketiga setelah Pati Unus. Sultan Trenggono merupakan anak dari Raden Patah yang tidak lain adik Pati Unus. Pada masa pemerintahannya, Demak menguasai Sunda Kelapa dari Pajajaran serta menghalau para tentara Portugis yang mendarat disana (1527), Tuban (1527), Surabaya dan Pasuruan (1527), Madiun (1529), Malang (1945), dan dan Blambangan, kerajaan Hindu terakhir di ujung timur pulau Jawa (1527, 1546). Kemudian pada tahun 1546 Sultan Trenggono meninggal dalam sebuah pertempuran menaklukkan Pasuruan.

Wafatnya Sultan Trenggono menimbulkan konflik perebutan kekuasaan antar saudara. Pengganti Sultan Trenggono, Pangeran Sido Lapen yang merupakan saudara Sultan Trenggono dibunuh oleh Pangeran Prawoto yang tidak lain adalah anak dari Sultan Trenggono. Kemudian anak dari Pangeran Sido Lapen, Arya Penangsang membunuh Pangeran Prawoto dan mengambil alih kekuasaan. Tidak hanya berhenti disitu, Arya Panangsang akhirnya dibunuh oleh anak angkat Joko Tingkir, yaitu Sutawijaya. Pada akhirnya, tahun 1568 M tahta Kerajaan Demak jatuh ditangan Joko Tingkir. Kemudian ibukota Demak dipindah ke Pajang.

Selesai mendapat penjelasan,rombongan  langsung menuju ruang Transit BKM Mesjid Agung Demak untuk ramah tamah dan selanjutnya rombongan menuju ke kota Kretek Kudus.(Pendim 0716/Demak)
Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.


Desakundi

[Desakundi][threecolumns]

Pendidikan

[Pendidikan][list]

Ekonomi

[Ekonomi][grids]

Politik

[Politik][bsummary]

Oase

[Oase][threecolumns]