Ajak Pelajar Berdakwah lewat Teater

TEATER sebagai salah satu kegiatan dasar seni peran, yang juga diyakini bisa menjadi sarana berdakwah, perlu diperkenalkan bagi kalangan pelajar. Mengambil momen inaugurasi siswa baru, Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Maarif Kyai Gading Desa Candisari, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak mengenalkan teater kepada murid-muridnya.
Sekolah yang seratus persen muridnya dibebaskan dari segala biaya dan bersistem boarding (semua murid tinggal di pondok) ini mendatangkan kelompok Teater Eska dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kebetulan Kepala SMK Kyai Gading Fahsin M Faal adalah alumnus teater tersebut.
Di halaman Masjid Mi’roj yang terletak dalam kompleks Pondok Pesantren Kyai Gading, kemarin malam, para personel Teater Eska menampilkan Qosidah Burdah dan Tadarus Puisi.
Syair-syair berbahasa Arab karya syaikh waliyullah Al-Bushiri berisi kisah Nabi Muhammad dan puji-pujian kepada utusan Allah itu terasa hidup dan sahdu. Sebab tujuh aktor dan aktrisnya yang berkostum hitam-hitam dengan dandanan ala pasukan Arab, begitu rampak. Gerakan tubuh dipadu lantunan syair dengan iringan musik digital dari perangkat laptop plus tata lampu otomatis, terasa sangat mantap.
Para penonton bersorak dengan tepuk tangan di setiap jeda adegan terjadi. Mereka juga takjub, sehingga larut dalam hening. Rangkaian Qosidah Burdah yang biasanya dibaca secara datar di masjid atau surau, kini dibawakan dengan begitu indah. Apalagi diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan intonasi yang pas. Sehingga getargetar maknanya merasuk dalam jiwa.
”Benar-benar memukau,” kata Abdul Choliq Mi’roj, seorang guru yang ikut menonton bersama murid, santri, dan masyarakat umum.
Begitu usai pentas, hadirin berebut bertanya saat dibuka forum tanya jawab. Sutradara Rahmat Hidayat dan lurah pengarah lakon Fathurrohman sampai kewalahan menjawab rasa ingin tahu para murid yang begitu antusias. Sehingga semua pemain, Syafaul, Deby Arumia Muna, Mar’atus Sholihah, Hilman, Muhammad Subakir, Abdul Haris, dan Muslih turut menjawab satu persatu sampai semua yang bertanya merasa puas.
”Teater itu ibarat film. Ada naskah skenario dan pembagian peran. Karena kami merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di UIN Sunan Kalijaga, maka tema kami selalu dakwah dan syiar Islam,” terang Lurah Teater Eska Abdul Haris.
”Dengan teater, kita bisa berdakwah. Menyampaikan ajaran agama dengan pendekatan seni. Sehingga khalayak senang dan menyimak dengan khusyuk. Lain kalau hanya pidato. Orang bisa ngantuk,” kata Hilman.
”Untuk produksi satu lakon, kami harus latihan minimal dua bulan. Semua peran harus dijiwai sebagus mungkin. Vokal juga diolah maksimal,” jelas Deby. (ichwan-harian semarang)
Sekolah yang seratus persen muridnya dibebaskan dari segala biaya dan bersistem boarding (semua murid tinggal di pondok) ini mendatangkan kelompok Teater Eska dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kebetulan Kepala SMK Kyai Gading Fahsin M Faal adalah alumnus teater tersebut.
Di halaman Masjid Mi’roj yang terletak dalam kompleks Pondok Pesantren Kyai Gading, kemarin malam, para personel Teater Eska menampilkan Qosidah Burdah dan Tadarus Puisi.
Syair-syair berbahasa Arab karya syaikh waliyullah Al-Bushiri berisi kisah Nabi Muhammad dan puji-pujian kepada utusan Allah itu terasa hidup dan sahdu. Sebab tujuh aktor dan aktrisnya yang berkostum hitam-hitam dengan dandanan ala pasukan Arab, begitu rampak. Gerakan tubuh dipadu lantunan syair dengan iringan musik digital dari perangkat laptop plus tata lampu otomatis, terasa sangat mantap.
Para penonton bersorak dengan tepuk tangan di setiap jeda adegan terjadi. Mereka juga takjub, sehingga larut dalam hening. Rangkaian Qosidah Burdah yang biasanya dibaca secara datar di masjid atau surau, kini dibawakan dengan begitu indah. Apalagi diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan intonasi yang pas. Sehingga getargetar maknanya merasuk dalam jiwa.
”Benar-benar memukau,” kata Abdul Choliq Mi’roj, seorang guru yang ikut menonton bersama murid, santri, dan masyarakat umum.
Begitu usai pentas, hadirin berebut bertanya saat dibuka forum tanya jawab. Sutradara Rahmat Hidayat dan lurah pengarah lakon Fathurrohman sampai kewalahan menjawab rasa ingin tahu para murid yang begitu antusias. Sehingga semua pemain, Syafaul, Deby Arumia Muna, Mar’atus Sholihah, Hilman, Muhammad Subakir, Abdul Haris, dan Muslih turut menjawab satu persatu sampai semua yang bertanya merasa puas.
”Teater itu ibarat film. Ada naskah skenario dan pembagian peran. Karena kami merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di UIN Sunan Kalijaga, maka tema kami selalu dakwah dan syiar Islam,” terang Lurah Teater Eska Abdul Haris.
”Dengan teater, kita bisa berdakwah. Menyampaikan ajaran agama dengan pendekatan seni. Sehingga khalayak senang dan menyimak dengan khusyuk. Lain kalau hanya pidato. Orang bisa ngantuk,” kata Hilman.
”Untuk produksi satu lakon, kami harus latihan minimal dua bulan. Semua peran harus dijiwai sebagus mungkin. Vokal juga diolah maksimal,” jelas Deby. (ichwan-harian semarang)

Post A Comment
No comments :
Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.