Home » , , » Pemprov Kaji Alat Pemotong Padi

Pemprov Kaji Alat Pemotong Padi

Written By ericadventure on Kamis, 23 Februari 2012 | 09.58



PENGELOLAAN lahan pertanian di pedesaan sekarang ini dituntut dilakukan dengan cara pengolahan yang modern. Hal ini mendesak dilakukan mengingat semakin terbatasnya tenaga-tenaga pengolah lahan yang ada di pedesaan sekarang ini.

Gubernur Jateng Bibit Waluyo mengungkapkan, modernisasi pertanian sudah sangat mendesak dan harus jadi program utama pemerintah. Baik pemerintah pusat, provinsi, maupun kabupaten/kota. Pasalnya, semakin hari jumlah tenaga kerja di desa-desa semakin berkurang.

"Tanpa modernisasi pertanian, kita tidak bisa swasembada. Apalagi, masyarakat Jateng jumlahnya sangat besar, 33 juta jiwa. Tiap hari makan tiga kali, pagi makan, siang makan, malam makan, kadang-kadang jam 4 sore yo mindhoni. Jadi, luar biasa kebutuhan pangan ini," kata gubernur saat acara Panen Padi Inpari 13, di Desa Pakisan, Cawas, Klaten, kemarin.

Oleh karena itu, Bibit berharap pemerintah pusat maupun provinsi selalu mengalokasikan anggaran untuk menambah alat-alat pertanian agar bisa digunakan oleh petani di desa-desa. Misalnya, hand tractor, transplanter (alat tanam padi), maupun alat pemotong padi combine harvester seperti yang diperkenalkan saat acara panen padi tersebut.

Mesin Potong

Khusus untuk combine harvester yang harganya terhitung mahal, gubernur akan mengkaji dulu plus minus penggunaan alat tersebut. Namun, yang jelas penggunaan mesin potong padi itu dapat mencegah kerusakan padi lebih baik ketimbang dengan pemotongan manual. Dengan mesin potong kerusakan hanya 0,97 persen, sementara dengan pemotongan manual kerusakan bisa mencapai 11 persen.

"Waktu yang dibutuhkan untuk memotong pun jauh lebih singkat jika menggunakan mesin. Satu hektar lahan bisa dipanen dalam waktu dua jam, padahal jika dibabat bisa sampai tiga hari. Tapi ini harganya mahal, karena itu kami kaji dulu. Kalau memang efisien, maka kami akan merancang untuk menggunakan alat tersebut," ungkap Bibit.

Selain itu, Bibit menambahkan, upaya modernisasi pertanian juga harus diimbangi dengan pengolahan lahan yang benar, Sapta Usaha Tani harus benar-benar dijalankan. Bibit padi yang digunakan juga dibatasi hanya bibit padi unggul bersertifikat.

Saat ini, terdapat hanya lima bibit padi unggul bersertifikat yang direkomendasikan, yaitu inpari 13, Ciherang, IR 64, Mikongga, dan Situbagendit. Sehingga, jika pengelolaan pertanian ini dilaksanakan dengan benar maka pada 2012 mendatang Jateng dapat surplus padi 3,1 juta ton dan mampu mendukung swasembada beras nasional 10 juta ton pada 2014 mendatang. (hp/tab)

Share this article :

Poskan Komentar

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. HARIAN SEMARANG - Semarang Banget - All Rights Reserved
Template Created by Mas Fatoni Published by Tonitok
Proudly powered by Blogger