Berita

[Berita][bleft]

Artikel

[Ekonomi][twocolumns]

Kaki Kiri Farel Patah Hanya Bisa Tergeletak di Tempat Tidur

PATAH KAKI: Suherman menemani Farel yang mengalami patah kaki sejak berusia 1,5 tahun bermain di atas dipan yang diletakkan di depan rumah

KENDAL - Farel Aldi Hermansyah (5), warga RT 4/RW 2, Desa/Kecamatan Brangsong, harus menanggung sakit sejak berusia 1,5 tahun. Putra ketiga pasangan Suherman (48) dan Khuzaemah (39) mengalami patah kaki kiri sewaktu terjatuh dari gendongan kakaknya 3,5 tahun silam. Pada awalnya, orang tua Farel tidak mengetahui jika kaki kiri putranya tersebut patah. Suherman merasa curiga, lantaran kaki kiri Farel terlihat bengkok. "Saya tidak menyangka kalau kaki anak saya patah akibat terjatuh 3,5 tahun yang lalu. Ketika itu, saya hanya melihat kakinya bengkok,'' tutur Suherman, Senin (19/11).

Bocah tersebut baru dibawa ke salah satu rumah sakit di Semarang sewaktu berusia dua tahun. Berkat bantuan biaya dari saudara dan tetangganya, kaki Farel yang patah di pasang pen. Namun, karena baru berusia dua tahun, dan sedang mulai berjalan, aktifitasnya yang tinggi, menyebabkan pen yang terpasang di kaki kiri lepas. Hal itu mengakibatkan kaki kirinya kembali patah. Lantaran tidak mempunyai biaya, Suherman hanya membawa putranya ke pengobatan tradisional.

Kemudian pada pertengahan 2011, kedua orang tua Farel membawanya ke rumah sakit ortopedi di Solo dengan harapan kaki kiri putranya tersebut bisa disembuhkan. Oleh pihak rumah sakit, kaki bocah tersebut di beri empat ring besi berdiameter sekitar tujuh sentimeter. Hal tersebut justru mengakibatkan Farel tidak bisa berjalan. ''Kemana-mana, ia selalu digendong. Bahkan setiap malam selalu menangis karena jepitan kawat mencapai tulang,'' kata Suherman.

Dia menambahkan, semakin hari, kondisi kaki sang bocah tidak kunjung sembuh. Bahkan kondisi semakin memburuk dan menghitam. Ketika ia menanyakan ke pihak rumah sakit ortopedi, dari pihak rumah sakit menyatakan tidak bisa berbuat banyak. Hal itu lantaran untuk melepas pen ring tersebut membutuhkan biaya sekitar Rp 10 juta - Rp 15 juta.

Penghasilan Suherman yang sehari-hari bekerja sebagai tukang tambal ban tidak cukup untuk membiayai pengobatan anaknya. Jangankan untuk pengobatan putranya, untuk makan dirinya sendiri pun susah. ''Penghasilan saya sebagai tukang tambal ban juga tidak menentu. Sehari bisa mendapat Rp 20 ribu saja sudah bagus,'' tuturnya.

Istri Suherman yang sudah tiga tahun bekerja sebagai tenaga kerja wanita di Arab Saudi yang semula diharapkan bisa membantu, justru saat ini tidak ada kabarnya. Bahkan, Khuzaemah satu tahun terakhir tidak mengirim surat maupun mengirim uang untuk suami dan anak-anaknya. Saat ini, jepitan kawat penyangga kaki Farel sudah saatnya dilepas. Namun karena terkendala biaya kawat belum bisa dilepas. Padahal kaki Farel mulai bernanah.

''Saya sudah tidak tahu harus mendapat biaya dari mana untuk operasi. Sebagai orang tua, tentu ingin melihat anaknya bisa bermain dengan rekan-rekan sebaya, berlari kesana-kemarin. Yang saya lihat, anak saya hanya bisa tergeletak di atas tempat tidur,'' katanya sembari meneteskan air mata. (H36/JBSM/TAB)


Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.


Desakundi

[Desakundi][threecolumns]

Pendidikan

[Pendidikan][list]

Ekonomi

[Ekonomi][grids]

Politik

[Politik][bsummary]

Oase

[Oase][threecolumns]