Berita

[Berita][bleft]

Artikel

[Ekonomi][twocolumns]

Baru Sehari Panen, Harga Jagung Anjlok

Para buruh tani tengah memetik hasil panenan jagung (Harsem/Sukmawijaya)
DEMAK-Dua hari lalu sebagian petani jagung merasa gembira, bisa memanen hasil tanamnya. Namun kegembiraan ini hanya bertahan dalam sehari, sebab kemarin pagi harga jagung di pasaran anjlok.
 
Kondisi pertanian jagung cukup lesu, hasil panenan belum dapat memberikan keuntungan bagi petani, karena harga jagung di pasaran yang anjlok tersebut. Dalam hitungan , harga jagung mengalami penurunan drastis sampai dua kali.
 
Kali pertama per Senin (28/1, harga jagung jenis KW2 atau yang biasa dikomsumsi oleh masyarakat mencapai Rp 3.700 per kilogram, sore hari harga menurun di angka Rp 2.900 per kilogram, dan Selasa (29/1) pagi harga jagung kembali turun menjadi Rp 2.600 per kilogram. Namun penurunan harga ini belum berpengaruh pada jagung KW1 (untuk pakan burung. Harga KW1 masih stabil pada nilai Rp 5.000 per kilogram.
 
“Harga tersebut merupakan harga yang baru saja dipetik dari sawah,” ucap petani asal Desa Kalitengah Kecamatan Mranggen, Suryati (40).
 
Semula, ketika harga agung masih senilai Rp 3.700 per kilogram, dirinya sempat sumringah, membayangkan keuntungannya bisa untuk membeli notebook untuk sang anak yang duduk dbangku SMA. Namun angan-angan itu pupus, saat para penebas yang datang, hanya menawar hasil panenan jagungnya di harga Rp 2.600 per kilogram. Alasan para penebus, sebagian wilayah lain juga melakukan panenan dengan keberhasilan produktivitas yang sama.
 
Ternyata posisi harga di Rp 2.600 per kilogram menjadikan hasil panenan di masa tanam ini merugi. Panen raya masih menjadi senjata ampuh bagi para penebas untuk menurunkan harga. Sementara pemerinth belum bisa menurunkan formula atau program untuk mengantisipasi fluktuasi harga.
 
Di tempat terpisah, Kades Sumberejo Kecamatan Mranggen, Supriyadi mengakui, penurunan harga secara drastis berakibat petani jagung merugi. Dirinya, yang menanam agung hingga seluas 25 bahu, sempat gigit jari pula dengan kerugian ini.
 
Dalan hitungannya, petani jagung akan menuai keuntungan bila harga jagung berada di posisi Rp 2.900 per kilogram dengan hasil produksi mencapai 6-7 ton. Sebab biaya produksi jagung mencapai Rp 13 juta per hektar, itu pun masih ditambah biaya lain, seperti buruh petik atau lainnya.
 
Dinas Pertanian mempredikasi baru sekitar 80 persen tanaman jagung dipanen. “Dari data ini, bisa saja pedagang menilai jagung di Demak sudah panen raya,” ucap Kabid Tanaman Pangan Dipertan Demak, Wiwin Edi Widodo, kemarin.
 
Dari data n, luasan tanam jagung di Demak mencapai 18.167 hektar dengan hasil rata-rata panenan mencapai 7,3 ton per hektar. Posisi luasan tanam jagung dalam musim ini banyak terjadi di daerah kering, yaitu wilayah Kecamatan Mranggen mencapai 5.676 hektar, kedua Kecamatan Karangawen 4.739 hektar, Guntur seluas 3.873 hektar, dan sisanya terdapat di kecamatan lain.
 
Soal fluktuasi harga, Wiwin beranggapan hal itu akibat suhu politik pasar tak stabil. Dinpertan sendiri terus berupaya meningkatkan mutu dan produktivitas hasil pertanian. Pihaknyahal ini  berharap dapat berpengaruh positif pada harga komoditas, namun upaya tersebut belum berarti apa-apa bila harga pasar tak berpihak bagi petani. (swi/yul)         
Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.


Desakundi

[Desakundi][threecolumns]

Pendidikan

[Pendidikan][list]

Ekonomi

[Ekonomi][grids]

Politik

[Politik][bsummary]

Oase

[Oase][threecolumns]