Berita

[Berita][bleft]

Artikel

[Ekonomi][twocolumns]

Buah Naga Gagal Panen

Tugino, pengelola kebun buah naga Grand Marina menunjukkan pohon buah naga yang belum berbuah, Senin (28/1).
SM/Fista Novianti
SEMARANG-Cuaca Kota Semarang belakangan ini memang tak menentu. Kadang panas, kadang hujan deras disertai angin kencang. Cuaca yang tak menentu ini telah memupus harapan petani buah naga untuk meraup untung banyak menjelang pergantian Tahun Baru Cina (Imlek atau Sincia 2564) yang jatuh 10 Februari mendatang.

Tanaman dragon fruit yang ditanam di kebun Grand Marina Semarang misalnya, tak berbuah maksimal seperti tahun sebelumnya. Bahkan, kali ini adalah tahun terparah di antara tahun-tahun lalu. Akibat kondisi cuaca kurang bersahabat, kebun yang berdiri sejak 1998 itu mengalami gagal panen.

''Hujan disertai angin kencang yang melanda Semarang belum lama ini menyebabkan bunganya rontok sehingga gagal pada proses pembuahan. Kalau sudah begitu, pohon sulit sekali  berbuah,'' ungkap Tugiono (40),  pengelola kebun buah naga di Grand Marina Semarang, Senin (28/1).

Biasanya musim panen buah naga terjadi antara Oktober sampai Januari. Paling mepet, seminggu sebelum Imlek buah naga sudah melimpah. Pada tahun lalu, musim panen bisa menghasilkan buah naga sebanyak 700 kilogram dalam sehari. Namun, tahun ini menurun tajam sehari paling hanya 200 kilogram.

Dari kebun seluas 3 hektar dengan 6.000 pohon naga yang ada, hampir separuhnya gagal panen. Dalam sekali panen, satu pohonnya hanya bisa menghasilkan sekitar 3-4 buah dibanding sebelumnya hingga 20 buah. Menurut dia, pertumbuhan buah naga memang membutuhkan kondisi cuaca panas, karena tanaman itu tak membutuhkan banyak air, bahkan tempat pembudidayaan buah naga 100 persen harus terkena sinar matahari. Meski demikian, Tugiono masih berharap panen akan terjadi seminggu setelah perayaan Imlek.

"Kalau ditaruh di tempat teduh malah tak bagus, atau terhalang pepohonan lain. Proses perawatannya sebenarnya mudah karena tak perlu banyak air, cukup diberi pupuk kandang secara rutin," katanya.

Dengan banyaknya tanaman yang gagal berbuah, bisa dipastikan pasokan buah naga untuk perayaan Imlek mengalami penurunan. Bahkan, harga di pasaran mengalami kenaikan mencapai Rp 25.000/kg. Kondisi tersebut membuat Tugiono terpaksa menolak pesanan buah naga dari berbagai kota seperti, Bandung, Surabaya, Jakarta, dan Bali. ''Kali ini kami hanya bisa mencukupi kebutuhan di wilayah Semarang saja. Karena pasokan tak mencukupi meskipun permintaan buah naga makin tinggi menjelang Imlek,'' keluhnya.

Pedagang buah naga Sri Handayani (38) di Pasar Johar mengakui, karena stok buah naga dari Semarang berkurang ia terpaksa mengambil buah dari beberapa kota seperti Mojokerto, Jember, Malang dan Pasuruan. Sri menuturkan, banyaknya petani yang gagal panen memang menyebabkan stok buah naga di pasaran berkurang sehingga ikut mempengaruhi harga meskipun belum terlalu signifikan.

"Saya jual buah naga merah ukuran besar dengan harga Rp 25 ribu per kilogram, ukuran sedang dijual Rp 20 ribu. Sedangkan ukuran kecil paling Rp 15 ribu. Diperkirakan, permintaan buah naga mulai meningkat seminggu sebelum perayaan Imlek,'' katanya. (Fista Novianti-SMNetwork/yul )



Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.


Desakundi

[Desakundi][threecolumns]

Pendidikan

[Pendidikan][list]

Ekonomi

[Ekonomi][grids]

Politik

[Politik][bsummary]

Oase

[Oase][threecolumns]