Berita

[Berita][bleft]

Artikel

[Ekonomi][twocolumns]

Calo SIM Dibiarkan Gentayangan



Calo pembikinan SIM di Kota Semarang berkeliaran bak kecoa. Tidak sulit menemukan mereka di sekitar tempat pendaftaran pembuatan SIM.

BERGENTAYANGANNYA calo, mengakibatkan biaya pembuatan SIM (surat izin mengemudi) melangit. Maraknya calo ini menjepit masyarakat menjadi “tidak ada pilihan lain”. Para calo bebas mremo, sebab mereka seolah mendapat restu dari pihak berwenang. Tikus-tikus ini mendapatkan celah sehingga SIM terbit dengan cepat. Meski, tentu, biayanya mahal.

Di halaman parkir Satlantas Polrestabes Semarang, para calo tampak standby. Setiap orang yang datang langsung disambangi dan ditawari.  ”Mau perpanjangan atau buat SIM baru, Mas? Sini bisa saya bantu. Bisa ditunggu, satu hari langsung jadi,” kata seorang calo berambut gondes, gondrong ndeso.

Kondisi ini menciutkan keyakinan masyarakat perihal validitas ujian SIM melalui jalur resmi. "Percuma ikut tes resmi. Sudah terbukti sulit lulus jika lewat jalur resmi. Makanya rata-rata masyarakat pesan lewat calo," ujar salah seorang pendaftar SIM, Sam (27), warga Ngaliyan. 

Para calo tersebut membandrol SIM A seharga harga Rp 400 Ribu, sedangkan SIM C Rp 300 Ribu. Tentu saja harga itu jauh dari aturan undang-undang yang telah ditetapkan.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No 50 tahun 2010 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), semua tarif pembuatan SIM sudah ditentukan, yakni SIM A Rp 120 Ribu, perpanjangan Rp 80 Ribu.

Untuk pembuatan SIM B Rp 120 Ribu, biaya simulator Rp 50 ribu serta kesehatan Rp 20 ribu. Totalnya Rp 190 Ribu. Untuk perpanjangan Rp 80 Ribu, biaya simulator Rp 50 ribu, serta kesehatan Rp 20 ribu. Totalnya Rp 150 Ribu. Untuk SIM C Rp 100 ribu dan perpanjangan Rp 75 Ribu.

Ekspresi jengkel keluar dari pembuat SIM berinisial Wik (28). Warga Banyumanik ini bermaksud membuat SIM C. Bagaimana tidak kesal, untuk mendapatkan SIM tersebut ia harus merogoh kocek Rp 600 Ribu. Anehnya, ia melalui prosedur benar alias tidak tergoda bujuk rayu calo. ”Saya ikut tes secara resmi, sempat tidak lulus beberapa kali. Busyet, begitu lulus saya diminta membayar Rp 600 Ribu!" ujarnya dengan wajah super kesal.

Mengacu pada undang-undang tentang acuan biaya pembuatan SIM, biaya pembikinan SIM melambung gara-gara terjadi praktik pungli di kawasan dalam institusi penerbit surat izin mengemudi. Ironisnya, keberadaan calo jelas-jelas dibiarkan oleh pihak berwenang. Spanduk larangan membuat SIM melalui calo yang dipasang di area pendaftaran SIM pun omong kosong sebab dalam praktiknya “tikus-tikus” calo dibiarkan mencari nafkah di sana.

Kabid Humas Polda Jawa Tengah Kombes pol Djihartono saat dikonfirmasi wartawan mengatakan, biaya pembuatan SIM sudah diatur dalam PP No 50 tahun 2010 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). "Tidak ada biaya tambahan apapun. Semua tarif pembuatan atau perpanjangan SIM sudah ditentukan," terangnya.

Djihartono mengimbau, jika masyarakat menemukan kejanggalan dipersilakan melapor. "Tulis siapa petugas dan apa pangkatnya, biar kami mudah untuk menindaknya,” tegasnya.

Disinggung mengenai keberadaan calo yang berkeliaran, Djihartono mengatakan akan menindak tegas. "Tidak boleh ada calo dalam pembuatan SIM. Jika memang masih ada yang berkeliaran, tentu akan ditindak. Kami punya petugas Propam atau Provos yang bertugas menertibkan,” tambahnya.

Ia mengimbau masyarakat jangan membuat SIM melalui jasa calo. Sebab, mereka pasti mengambil keuntungan dari praktik tersebut. "Selain biayanya tidak sesuai tarif, bisa-bisa malah ditipu calo,” katanya. (abm/rif)


Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.


Desakundi

[Desakundi][threecolumns]

Pendidikan

[Pendidikan][list]

Ekonomi

[Ekonomi][grids]

Politik

[Politik][bsummary]

Oase

[Oase][threecolumns]