Berita

[Berita][bleft]

Artikel

[Ekonomi][twocolumns]

*Di Penjara Nusakambangan Tiada Hari Tanpa Siraman Rohani

HARSEM/SMNetwork/Citra Banch Saldy

Salah satu grup nasyid yang beranggotakan para narapidana tengah unjuk gigi dalam perlombaan dakwah dan seni di Lapas Pasir Putih, Nusakambangan.





CILACAP-Belajar agama di penjara? Kenapa tidak! Bagi telinga orang bebas, mungkin kedengarannya agak aneh. Sebab, biasanya kegiatan agama itu dilaksanakan di masjid, surau, majelis taklim, atau di rumah dengan mendatangkan seorang ustad.
  
Tapi tunggu dulu, coba tengoklah di balik terali besi Lembaga Pemasyarakatan (LP) Nusakambangan, Cilacap misalnya. Di pulau penjara tersebut, boleh dikata, tiada hari tanpa siraman rohani. Sedikitnya telah ada empat pesantren yang telah berdiri di Lapas Nusakambangan. Masing-masing Pesantren Tanbihul Ghofilin di Lapas Permisan, Pesantren Al-Hijrah di Lapas Besi, Pesantren Hikmahtul Musibah di Lapas Kembang Kuning, dan Pesantren Daarut Taubah di Lapas Pasir Putih.

Tidak hanya itu, setiap tahunnya juga digelar perlombaan agama yang diikuti oleh puluhan napi dari tujuh lapas yang ada di Pulau Nusakambangan, yakni Lapas Batu, Lapas Terbuka, Lapas Besi, Lapas Kembang Kuning, Lapas Pasir Putih, Lapas Narkotika, dan Lapas Permisan. Adapun jenis lomba, yakni Musabakoh Tilawatil Quran (MTQ), Da'i, Nasyid, dan Cerdas Cermat.

"Ini sudah tahun ketiga diadakan pesantren dan juga lomba dakwah dan seni untuk para napi. Setiap lapas berkesempatan menjadi tuan rumah, tahun lalu di Narkotika sekarang di Pasir Putih. Pesertanya adalah napi utusan dari masing-masing lapas," ungkap Koordinator Pesantren Lapas se-Nusakambangan dan Cilacap, KH Hasan A Makarim disela-sela lomba dakwah dan seni, Senin (28/1).

Hasan menuturkan bagi para narapidana, LP boleh jadi merupakan tempat yang ampuh untuk pembinaan rohani. Ini, karena selama di LP mereka berada di tempat yang terisolir, jauh dari sanak keluarga dan teman-teman. Sehari-hari, mereka hanya menunggu masa berakhirnya hukuman. Dan pada saat-saat seperti ini, banyak waktu untuk merenung serta menyesali kesalahan masa lalu. Dengan kata lain, agama menjadi pelarian bagi banyak narapidana.

Bagi orang-orang yang hidup di balik terali besi itu, mungkin pula belajar agama di penjara akan lebih khusuk daripada saat masih di dunia bebas. Sebab, di tengah hiruk pikuknya dunia, banyak yang mereka pikirkan dan kerjakan.

"Tidak heran bila datang ke LP  tak menemui wajah-wajah yang angker layaknya para penjahat, tapi wajah para santri, lengkap dengan baju koko dan kopiah putih," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Divisi Pemasyarakatan Jateng Suwarso menuturkan lomba dakwah dan seni ini sengaja digelar dalam rangka menyambut Tahun Baru 1434 Hijriah.
Salah seorang napi yang notabene merupakan terpidana teroris, Sarwo Edi mengatakan setidaknya dengan banyak kegiatan agama seperti ini para narapidana dapat lebih memiliki lebih banyak kegiatan. Dengan demikian mereka dapat terhindar dari pikiran dan juga perbuatan negatif selama di dalam penjara atau selepas keluar penjara nantinya. (Citra Banch Saldy-)
Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.


Desakundi

[Desakundi][threecolumns]

Pendidikan

[Pendidikan][list]

Ekonomi

[Ekonomi][grids]

Politik

[Politik][bsummary]

Oase

[Oase][threecolumns]