Berita

[Berita][bleft]

Artikel

[Ekonomi][twocolumns]

Makan Kembang di Ritual Kungkum Tugu Suharto

Warga berendam di Tugu Suharto saat malam 1 Suro atau pergantian tahun Jawa, Senin (4/11) malam.
RATUSAN pasang mata tak lepas memandang Sungai Banjirkanal Barat di Tugu Suharto Kelurahan Bendan Duwur Kecamatan Gajahmungkur, Senin (4/11) malam. Sungai itu terbentuk dari dua aliran sungai berbeda, yakni Kali Garang dan Kali Kreo.
 
Di persimpangan kali terdapat warga yang berendam atau kungkum menghadap ke arah aliran air. Tampak seorang laki-laki dan perempuan paruh baya telah berada di dalam air setinggi sekitar 50 sentimeter ini. Lelaki itu menanggalkan pakaiannya dan hanya menyisakan celana pendek. Kedua tangannya menengadahkan ke atas dan mulutnya komat-kamit merapal doa. Lalu lelaki itu berendam dan disusul perempuan paruh baya.
 
Sebungkus kembang dibuka perempuan itu untuk dilarung mengikuti arus sungai. Sebagian kembang tampak dimakan oleh perempuan itu. Sebagian disiramkan beserta air sungai ke kepala lelaki itu. Ritual itu yang hampir sama dilakukan warga lainnya. Mereka berdoa lebih dahulu sebelum kungkum di sungai.
 
Warga yang penasaran mendatangi lokasi dan membuat gaduh. Ada yang menanyanyi dengan alat musik di pinggir kali. Ada yang mengobrol. Sebagian besar memadati jembatan Tugu Suharto di atas sungai dan sebagian lain berada di pinggir sungai melihat lebih dekat para warga yang kungkum.
 
Aktivitas warga yang kungkum dan menonton membaur. Belasan warga dari Kudus membaca doa-doa dalam bahasa Arab sebelum kungkum pada pukul 23.40. Salah satunya, Solikin (41) yang telah menjelajah berbagai tempat dalam ritual malam 1 Suro ini. Dia baru kali pertama datang bersama rombongannya menggunakan dua mobil. "Kami ke sini atas petunjuk guru spiritual. Tidak asal. Dulu di Gunung Lawu. Pernah juga di Puncak 29 di Kudus," katanya.
 
Tujuannya, lanjutnya, untuk kepentingan personal menyangkut kehidupan dunia agar berjalan baik. Dia tidak spesifik menyebut keinginannya. Tetapi ritual serupa telah dijalani sejak berusia remaja.
Semakin Ramai
 
Ritual kungkum di Tugu Suharto ini dulu pernah dilakukan mantan Presiden Soeharto saat masih bertugas di Semarang dengan jabatan Mayor. Melalui bimbingan guru spiritualnya, Soeharto kungkum di sana.
 
Saat ini ritual kungkum mulai menjadi tujuan bagi warga untuk berjalan-jalan. Nurul Idhayani (23) mahasiswa Universitas Semarang asal Sulawesi, mengaku penasaran dengan ritual tersebut. Dia mendengar dari temannya tentang acara menyambut tahun baru Hijriyah itu. "Di tempat saya ada perayaan tahun baru Islam, tapi tidak seperti ini dan seramai ini. Tidak ada juga kungkum, paling pengajian di musala atau masjid," katanya.
 
Puluhan pedagang juga ikut memanfaatkan banyaknya warga yang datang. Pedagang dompet, Wijono (35), mengungkapkan ritual tahun ini lebih ramai dari tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, jembatan baru dan penataan sungai membuat warga nyaman untuk datang. "Sempat hujan. Tapi sudah terang jadi ramai lagi," lanjutnya.
 
Setidaknya, dalam ingatan warga Kampung Mayangsari Kelurahan Kalipancur Kecamatan Ngaliyan, sudah berpartisipasi dengan berjualan selama enam kali. Dulu saat masih menggunakan jembatan gantung, pengunjung belum ramai. Kemudian setelah diganti jembatan permanen yang lebar lebih ramai. "Dulu saya jual lesehan. Jalan ke Tugu Suharto masih setapak. Sekarang sudah ramai," tuturnya. (SMNetwork/Zakki Amali/Hendra Setiawan/Hst)
Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.


Desakundi

[Desakundi][threecolumns]

Pendidikan

[Pendidikan][list]

Ekonomi

[Ekonomi][grids]

Politik

[Politik][bsummary]

Oase

[Oase][threecolumns]