Berita

[Berita][bleft]

Artikel

[Ekonomi][twocolumns]

Model Klaster Ciptakan Daya Saing UMKM

SM/Fista Novianti. Beberapa perajin sedang membatik di Gunungpati Semarang, kemarin.
SEMARANG-Model pengembangan klaster akan menciptakan peningkatan daya saing Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Untuk menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) 2015, UMKM perlu bersama-sama meningkatkan posisi tawar klaster UMKM lokal ke tingkat internasional.

Ketua Umum Asosiasi Klaster Indonesia (AKsI), Dr Agus Suryono menuturkan, persaingan perdagangan di Indonesia makin ketat pada ASEAN Economic Community nanti. Produk UMKM dalam negeri akan digempur oleh produk-produk ASEAN.

Berdasarkan pemetaan World Economic Forum 2011 Indonesia berada pada urutan daya saing ke-46 dari 142 negara di bawah Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam dan Thailand. Perekonomian global modern menuntut produktivitas. Indonesia yang notabene memiliki lebih dari 55 juta UMKM memerlukan perhatian serius dari semua pihak agar bisa berperan aktif dalam perdagangan dunia.

''Untuk meningkatkan daya saing UMKM dalam negeri, diperlukan suatu model pengembangan klaster,'' katanya saat Forum Dialog AKsI di Hotel @HOM Horison Semarang, akhir pekan lalu.

Sebagai wadah asosiasi klaster, AKsI berperan memajukan potensi klaster-klaster yang ada di Indonesia. Serta, ikut mengembangkan baik dari sisi bisnis maupun pemberdayaan klaster. Pola klaster memiliki keunggulan dibandingkan sentra UKM, karena dapat bersinergi dan membentuk jaringan secara kolektif antarpengusaha guna memperlancar proses usaha dari hulu hingga hilir. Terhitung, sudah ada 80 klaster di Indonesia. Antara lain, Klaster Bandeng Kota Semarang, Klaster Slondok Puyur Magelang, Klaster Tahu Sukoharjo, Klaster Garam Rakyat Rembang, Klaster Rebana Telur Asin Brebes, dan masih banyak lagi.

Klaster bisnis, lanjutnya,  mampu meminimalisasi kendala produksi, permodalan serta pemasaran, sehingga perlu dorongan untuk pertumbuhan aktivitas mereka. Baik dari pemerintah setempat dengan menyediakan infrastruktur yang diperlukan pelaku usaha, serta melibatkan masyarakat sebagai stakeholder.

Menurut Agus, saat ini klaster Indonesia berada dalam posisi tawar yang rendah baik di tingkat nasional maupun internasional. Pelaku UMKM masih belum mempunyai posisi tawar yang baik dibanding pengusaha besar. Pemerintah belum sepenuhnya berpihak pada pengembangan UMKM berbasis klaster. ''Klaster yang ada relatif masih bekerja sendiri-sendiri. Sehingga belum mempunyai kekuatan yang cukup untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah utamanya mengenai pengembangan UMKM,'' papar Agus.

Dengan bersatunya seluruh klaster Indonesia dalam satu wadah AKsI, diharapkan pemerintah dan UMKM dapat memajukan usahanya. Seluruh anggota dapat menyampaikan aspirasinya. Sehingga pemerintah dapat menyusun program kerja yang lebih terfokus. (SMNetwork-K14/yul)
Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.


Desakundi

[Desakundi][threecolumns]

Pendidikan

[Pendidikan][list]

Ekonomi

[Ekonomi][grids]

Politik

[Politik][bsummary]

Oase

[Oase][threecolumns]